Sabtu, 29 September 2018

Secarik kertas Amirul mu'minin Umar bin Khoththob RA untuk Sungai Nil

Pada masa jahiliyah, sungai nil tdk mengalir, sehingga setiap tahun dilemparlah tumbal berupa seorang gadis kedalam sungai tersebut.

Ketika Islam datang, sungai nil yang seharusnya sudah waktunya mengalir, ternyata tdk kunjung mengalir. Penduduk mesir pun kemudian mendatangi Sahabat Amr bin Ash dan melaporkan, bhwa sungai nil kering sehingga harus di beri tumbal, dengan cara melempar seorang gadis yg dilengkapi dengan perhiasan dan pakaian terbaiknya.

 Amr bin Ash berkata kpd mereka : "Sesungguhnya hal itu tdk boleh dilakukan, karena islam telah menghapus tradisi tersebut".

Maka penduduk mesirpun bertahan selama 3 bulan dgn tidak mengalirnya sungai nil, dan mereka benar-benar menderita.

Amr bin Ash pun segera menulis surat kepada Amirul mu'minin Umar bin Khoththob RA, beliau menceritakan peristiwa itu.

Dalam surat jawaban untuk Amr, Umar berkata : "Engkau benar bahwa islam telah menghapus tradisi tersebut. Aku juga mengirim secarik kertas , lemparkan kertas itu ke dlm sungai nil !".

Amr membuka kertas tersebut sebelum melemparnya ke sungai nil. Ternyata kertas tersebut berisiPada masa jahiliyah, sungai nil tdk mengalir, sehingga setiap tahun dilemparlah tumbal berupa seorang gadis kedalam sungai tersebut.

Ketika Islam datang, sungai nil yang seharusnya sudah waktunya mengalir, ternyata tdk kunjung mengalir. Penduduk mesir pun kemudian mendatangi Sahabat Amr bin Ash dan melaporkan, bhwa sungai nil kering sehingga harus di beri tumbal, dengan cara melempar seorang gadis yg dilengkapi dengan perhiasan dan pakaian terbaiknya.

 Amr bin Ash berkata kpd mereka : "Sesungguhnya hal itu tdk boleh dilakukan, karena islam telah menghapus tradisi tersebut".

Maka penduduk mesirpun bertahan selama 3 bulan dgn tidak mengalirnya sungai nil, dan mereka benar-benar menderita.

Amr bin Ash pun segera menulis surat kepada Amirul mu'minin Umar bin Khoththob RA, beliau menceritakan peristiwa itu.

Dalam surat jawaban untuk Amr, Umar berkata : "Engkau benar bahwa islam telah menghapus tradisi tersebut. Aku juga mengirim secarik kertas , lemparkan kertas itu ke dlm sungai nil !".

Amr membuka kertas tersebut sebelum melemparnya ke sungai nil. Ternyata kertas tersebut berisi tulisan tangan amirul mu'minin Umar bin Khoththob utk sungai nil. Di kertas itu Umar mengatakan : "Dari hamba Alloh, Umar bin Khoththob. Kepada sungai nil di mesir, amma ba'du : Wahai Nil ! jika sebelum ini engkau mengalir karena keinginanmu sendiri, maka janganlah engkau mengalir. Namun jika engkau mengalir karena atas kehendak Alloh, maka kami memohon kpd Alloh yg maha Esa & maha Perkasa utk membuatmu mengalir".  Amr pun melempar kertas itu ke sungai nil, sebagai ganti dari melempar seorang gadis. Ke esokan harinya penduduk mesir telah mendapati sungai nil telah mengalirkan air nya kembali. Dan mulai saat itu,tdk ada lagi ritual melempar gadis untuk sungai nil di kota mesir.


Catatan : seorang tokoh ulama' besar, yang bernama Fudhail bin iyad. beliau berkata : "Jika aku di beri 1 do'a yang dikabulkan oleh Alloh SWT, aku tidak akan meminta apapun kecuali seorang pemimpin yg adil". tulisan tangan amirul mu'minin Umar bin Khoththob utk sungai nil. Di kertas itu Umar mengatakan : "Dari hamba Alloh, Umar bin Khoththob. Kepada sungai nil di mesir, amma ba'du : Wahai Nil ! jika sebelum ini engkau mengalir karena keinginanmu sendiri, maka janganlah engkau mengalir. Namun jika engkau mengalir karena atas kehendak Alloh, maka kami memohon kpd Alloh yg maha Esa & maha Perkasa utk membuatmu mengalir".  Amr pun melempar kertas itu ke sungai nil, sebagai ganti dari melempar seorang gadis. Ke esokan harinya penduduk mesir telah mendapati sungai nil telah mengalirkan air nya kembali. Dan mulai saat itu,tdk ada lagi ritual melempar gadis untuk sungai nil di kota mesir.


Catatan : seorang tokoh ulama' besar, yang bernama Fudhail bin iyad. beliau berkata : "Jika aku di beri 1 do'a yang dikabulkan oleh Alloh SWT, aku tidak akan meminta apapun kecuali seorang pemimpin yg adil".

Sumber : @siramanhati

Foto Guru Mulia Al-Allamah Al-Musnid Habib Umar Bin Hafidz di Kuala Lumpur Malaysia International Airport

۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞

Foto sekitar ketibaan Guru Mulia Al-Allamah Al-Musnid Habib Umar Bin Hafidz di Kuala Lumpur Malaysia International Airport sebentar tadi.









Sumber : @iloverasulullah

Fadilah Membaca Surat Al-Kahfi di Hari Jumat

**

Salah satu amal ibadah khusus yang diistimewakan melakukannya pada hari Jumat adalah membaca surat Al-Kahfi. Bahkan membaca surat ini di hari jumat melebihi keutamaan membaca shalawat, walaupun kedua-duanya sangat diajurkan untuk dilakukan pada ahri Jumat. Berikut ini akan disebutkan bebrapa dalil shahih yang menyatakan keutamaannya, disertai dengan perkataan para ulama.

Dari Abu Sa'id al-Khudri radliyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

"Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dab Baitul 'atiq." (Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan Al-Hakim)

Dalam riwayat lain masih dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu 'anhu,

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ أَضَآءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ

"Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untknya diantara dua Jum'at." (HR. Al-Hakim: 2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249. Ibnul Hajar mengomentari hadits ini dalam Takhrij al-Adzkar, “Hadits hasan.” Beliau menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits paling kuat tentang surat Al-Kahfi)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ سَطَعَ لَهُ نُوْرٌ مِنْ تَحْتِ قَدَمِهِ إِلَى عَنَانِ السَّمَاءَ يُضِيْءُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَغُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ

“Barang Siapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat.” (HR. Abu Bakar bin Marduwaih dalam kitab tafsirnya dan tidak ada masalah dengan sanadnya)

Imam As-Syafi’i mengatakan: “Telah sampai kepada kami bahwa barang siapa membaca surat Al-Kahfi, maka ia akan dilindungi dari fitnah Dajjal”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda diriwayatkan dari Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah:

مَنْ قَرَأَ الْكَهْفَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَهُوَ مَعْصُومٌ إلَى ثَمَانِيَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ فِتْنَةٍ , فَإِنْ خَرَجَ الدَّجَّالُ عُصِمَ مِنْهُ

“Barang siapa membaca surat Al-Kahfi pada hari jumat maka ia dijaga sampai delapan hari dari segala fitnah. Jika Dajjal bangkit, maka ia akan dijaga darinya”. (Hadits ini disebutkan Ibnu Qudamah dalam al-Mughni. Diriwayatkan oleh Zaidun bin Ali)

Syaikhul Islam Abi Zakaria Al-Anshari dalam Asnal Mathalib menyebutkan bahwa dalam kitab adz-Dzakha’ir disebutkan bahwa ada perbedaan pendapat ulama kapan waktu terbaik dihari jumat untuk membaca surat Al-Kahfi; apakah sebelum terbit matahari atau sesudah ashar. Dzahir hadits tidak memberikan pernyataan adanya waktu khusus untuk membacanya. Hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan surat al-Kahfi bersifat umum. Sedangkan Al-Adzru’i menyatakan bahwa segera membacanya lebih utama, karena bisa jadi, jika ditunda-tunda kesempatan membacanya malah tidak ada. Namun membacanya disiang hari lebih diutamakan.

Menukil pendapat Abul Ma’ali, Ibnul Muflih al-Maqdisi menyatakan bahwa waktu membaca surat Al-kahfi yang diutamakan adalah sesudah Ashar hari jumat. Imam Ahmad mengatakan bahwa kebanyakan hadits yang menjelaskan waktu mustajab di hari jumat ialah sesudah Asar.

Menurut Syaikhul Islam Abi Zakaria Al-Anshari, hikmah membaca surat Al-Kahdi di hari jumat ialah karena Allah dalam surat Al-Kahfi menyebutkan kedahsyatan hari kiamat di mana semua makhluk berkumpul menjadi satu. Dan hari jumat menyamai hari kiamat dalam hal ini. Lagi pula hari kiamat akan terjadi pada hari jumat sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim.
Wallahu A’lam

Sumber

Masuk Surga Sebab Sholawat

Berkata ba'dhu sholihin: "Aku mempunyai tetangga yang menyia-nyiakan hidupnya, dan aku menyuruhnya untuk bertaubat, tetapi dia menolak.

Ketika dia meninggal, aku bermimpi melihatnya disurga dan aku bertanya, "Dengan amal apa kamu memperoleh derajat ini ?", dia menjawab, "suatu ketika aku hadir dalam suatu acara, dan mendengar orang berkata 'barangsiapa yang mengangkat suaranya untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW, maka dia akan mendapatkan surga', maka kami yang hadir mengangkat suara kami untuk bersholawat kepada Nabi, dan sebab itulah kami semua diampuni."

📚 Fawaidul Mikhtaroh, hal 215

Link Telegram Dalwa Kisah

Renungan di tepi sungai dajlah

Suatu hari di tepi sungai Dajlah, Hasan al-Basri melihat seorang pemuda duduk berdua-duaan dengan seorang perempuan. Di sisi mereka terletak sebotol arak.

Kemudian Hasan berbisik dalam hati,
“Alangkah buruk akhlak orang itu dan baiknya kalau dia seperti aku!”. Tiba-tiba Hasan melihat sebuah perahu di tepi sungai yang sedang tenggelam. Lelaki yang duduk di tepi sungai tadi terus terjun untuk menolong penumpang perahu yang hampir lemas.

Enam dari tujuh penumpang itu berhasil diselamatkan.
Kemudian dia berpaling ke arah Hasan al-Basri dan berkata, “Jika engkau memang lebih mulia daripada saya, maka dengan nama Allah selamatkan seorang lagi yang belum sempat saya tolong. Engkau diminta untuk menyelamatkan satu orang saja, sedang saya telah menyelamatkan enam orang”.

Bagaimanapun Hasan al-Basri gagal menyelamatkan yang seorang itu. Maka lelaki itu berkata padanya,
“Tuan, sebenarnya perempuan yang duduk di samping saya ini adalah ibu saya sendiri, sedangkan botol itu hanya berisi air biasa, bukan anggur atau arak”.
·
Hasan al-Basri terpegun lalu berkata,
“Kalau begitu, sebagaimana engkau telah menyelamatkan enam orang tadi dari bahaya tenggelam ke dalam sungai, maka selamatkanlah saya dari tenggelam dalam kebanggaan dan kesombongan”. Lelaki itu menjawab,
“Mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonan tuan”

Semenjak itu, Hasan al-Basri semakin dan selalu merendahkan hati bahkan ia menganggap dirinya sebagai makhluk yang tidak lebih daripada orang lain.


Ikuti kisah-kisah lainnya dan join di telegram aswaja :
Link DalwaKisah

Kamis, 27 September 2018

Doa Mengabulkan Hajat Dari Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi


Dalam salah satu majelisnya, Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi


pernah memberikan pitutur kepada kaum muslimin yang berisi doa-doa yang patut dibaca dalam rangka mempermudah urusan duniawi dan ukhrawi. Berikut sebagian cuplikan pitutur beliau yang perlu dicatat dan diamalkan:

Apabila seseorang mempunyai hajat atau urusan penting, maka hendaknya setelah melaksanakan shalat lima waktu berdoa dengan hati yang bersih dan pasangka yang baik kepada Allah. Insya Allah semua hajat yang dimohonkan akan segera terkabul. Bacalah doa di bawah ini seusai shalat fardhu lima waktu,

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ اْلعَالَمِينَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ. اَللَّهُمَّ اْقذِفْ فيِ قَلْبِي رَجَاءَكَ وَاقْطَعْ رَجَائِي عَمَّنْ سِوَاكَ حَتَّى لاَ أَرْجُو اَحَدًا غَيْرَكَ . وَصَلىَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Artinya, “Segala puji bagi Allah Tuhan Pemilik alam semesta. Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya. Ya Allah, nyalakan di dalam hatiku harapa kepada-Mu, dan hilangkan harapanku kepada selain-Mu, sehingga aku tidak mengharapkan pertolongan siapapun selain pertolongan-Mu.”

Habib Ali al-Habsyi memberikan ijazah untuk membaca,

اَحْمَدُ رَسُولُ اللهِ مُحَمَّدٌ رَّسُولُ اللهِ

Artinya, “Ahmad adalah Rasulullah, Muhammad adalah Rasulullah.” Sebanyak 35 kali di hari jumat terakhir bulan Rajab, ketika khatib sedang berkhutbah.

Beliau berkata, “Barangsiapa membaca kalimat di atas pada jumat terakhir bulan Rajab, ketika khatib sedang berkhutbah, maka selama setahun tangannya tidak akan pernah kosong dari uang.



//Kajian pagi dari Ust.Mustofa Syahab//
//Jum'at, 28 September 2018//

Rabu, 26 September 2018

Lelaki Langit di Bumi

Kisah inspiratif, baca yukk....
Kisah yang bikin airmata berlinang

...LELAKI LANGIT...


Tiba2 aku terbangun. Ketika jarum jam menunjuk angka 2.34 pagi. Setengah mengantuk aku bergegas ke kamar kecil.
Enam detik kemudian aku terpaku heran. Sdh ada ibu berdiri di depanku. Kenapa ibu ada di sini? Bukankah almarhumah sdh lama meninggalkan kami. Rasa kantung kemih penuh mendadak hilang ditelan bumi. Seorang lelaki yg tak kukenal berdiri di samping ibu. Badannya kurus, wajahnya tirus.
“Mas Bagus, ibu njaluk tulung yo.
(Ibu minta tolong). Kalau umroh titip ini", ujar ibu dg logat Jawanya yg kental sambil menunjuk lelaki di sampingnya.
“Nggih Bu. Tapi nuwun sewu, niku sinten toh?” (iya bu, tapi maaf itu siapa) tanyaku heran. Ibu tidak menjawab.
Lelaki itu kupandangi kemudian.
IMRUL.
Aku melihat itu di atas saku kemejanya. Di bawahnya ada berderetan angka. Jelas sekali semuanya terbaca.
*Tiba2 aku terbangun & mengerjapkan mata.*
“Mas Bagus mimpi lagi ya?” ujar istriku lembut sambil membelai kepalaku.
Jantungku berdegup keras.
“Ini sudah 3 kali mimpi yg sama,” ujarku sambil bergegas pergi ke kamar kecil. Jarum jam 4.34 pagi. Adzan Subuh berkumandang.


***
Sopirku Pak Sanusi, mendengus pelan di belakang kemudi. Jakarta padat merayap malam hari ini. Duduk di kursi belakang, aku sibuk dg MacBook Pro menyelesaikan laporan audit tahunan yg hampir jatuh tempo. Saat Pak Sanusi meliukkan Toyota Camryku, aku jadi teringat pd mimpi semlm.
Almarhumah ibu & Ielaki yg tak pernah aku jumpa. Kemeja bertuliskan Imrul & sederetan angka.


Mungkinkah deretan angka itu nomor handphone?
Apakah lelaki itu namanya Imrul?
Suara nada tunggu digantikan ucapan salam terdengar dari seberang sana, saat aku coba hubungi nomor tsb. Suara perempuan.



*“Apa saya bisa berbicara dg Pak Imrul?”*, tanyaku sedikit ragu.
Hening tak ada jawaban smp bbrp menit kemudian.
*“Assalamu’alaiku, Iya ini dg Imrul,”* suara lelaki sopan.
Degh !! Ini pasti cuma kebetulan, dan jantungku berdegup keras.
Tak ingin berlama-lama di telepon, malam itu aku menyambangi rumah Imrul, lelaki kurus berwajah tirus tsb. Usianya sekitaran 30 plus-minus.
Kami lesehan di atas lantai semen yg sebagiannya retak, di ruang tamu sebuah rumah petak.
*“Panggil Mas Imrul saja,”*
ujarnya sopan. Aku tersenyum bercampur heran. Dari wajahnya, memang dialah lelaki yg ada dlm mimpiku itu.
*“Kalau boleh tahu, Bpk dapat nomor telepon ini dari mana?”*
Dan berceritalah aku tentang mimpi aneh yg berulang 3 kali itu. Mas Imrul diam. Wajahnya makin tirus mirip kucing restoran berharap makanan.
*“Apa sampeyan pernah bertemu almarhumah ibu saya?”*
tanyaku sambil menyodorkan foto almarhumah di Instragram-ku.
Tak perlu waktu lama buatnya untuk berkata *tidak*.
Aku menggaruk kepala.
*“Mas, kalau bukan karena almarhumah ibu, saya tdk akan pedulikan mimpi itu”*,
ujarku pelan sambil memegang pundaknya.
*“Saya ingin mengajak Mas Imrul pergi umroh.”*
*“Tapi saya ini mantan napi Pak. Belum sebulan bebas,”*
ujar Mas Imrul ragu. Sptnya dia tdk percaya dg ucapanku / ajakanku umroh.
Bulu tengkuk di leherku berdesir aneh.


***
*“Sampeyan dulu kenapa masuk penjara?”* tanyaku, duduk di samping Mas Imrul yg sdg terpesona. Seumur hidupnya dia baru pertama kali naik pesawat sebesar ini. Perjalanan 9 jam di kelas bisnis Jakarta - Jeddah, mubazir rasanya kalau tdk mencari tahu tentang dia. Lelaki biasa, mantan narapidana ini.
*“Sebelum masuk bui, kerja saya sbg satpam. Belum setahun, kantor yg saya jaga kerampokan. Teman sesama satpam, ternyata berkomplot. Dua hari sesdh kejadian, semua pelakunya diringkus polisi. Di pengadilan, teman itu berbohong kalau saya ikut terlibat. Padahal, waktu kejadian malam itu saya diikat di toilet. Hakim lebih percaya dia, akhirnya saya dipenjara. Vonisnya dua tahun,”* ujar Mas Imrul.
Aku menghela nafas.
*“Sebenarnya, yg bikin saya sedih bukan itu Pak,”*
sambung Mas Imrul. Air matanya sedikit meleleh.
*“Lalu apa Mas?”* tanyaku penasaran.
“Saya gundah & khawatir. Kalau saya di penjara, siapa nanti yg akan merawat ibu. Saya anak satu-satunya. Apalagi ibu sdh lama lumpuh & tdk bisa melihat. Setiap hari saya menyuapi & memandikannya. Biar gaji kecil, setiap bulan saya selalu cukupkan membeli susu Ibu. Biar ibu tetap sehat.” Kali ini bulir air matanya mulai berjatuhan.
*Duh Gusti Allah, ternyata aku jauh dibanding Mas Imrul. Waktu almarhumah ibu dirawat di rumah sakit menjelang wafatnya, aku malah sibuk persiapan rapat pemegang saham perusahaan. Astaghfirullah.*
“Terus siapa yg mengurus ibunya Mas Imrul?” tanyaku sembari mengelap mata. Tak terasa aku ikutan menangis juga.
“Saya minta tolong Mbak Yuni, saudara jauh dari kampung. Itu lho, perempuan yg menerima telepon Pak Bagus tempo hari. Kebetulan saya masih ada sedikit tabungan, jadi semua uangnya dipakai buat mengurus ibu selama saya di penjara. Dia yg mengurus ibu semenjak itu. Saya minta dia datang tiap hari ke penjara, menceritakan kondisi ibu. Kalau Mbak Yuni datang & cerita ttg Ibu, hati saya lega rasanya. Hati selalu was-was kalau Mbak Yuni datangnya telat, khawatir ada apa-apa pd Ibu.”
Aku cuma menunduk. Malu pd lelaki di sampingku ini. Jabatanku mentereng, gaji ratusan juta, tp tak bisa dibandingkan dg ketulusan Mas Imrul dlm merawat ibunya. *Gusti Allah, apa yg Engkau mau dari pertemuan aku dg lelaki sholeh ini?* Biar aku sadar kesalahanku? Bukankah percuma krn almarhumah sdh tiada?
*“Baru 6 bulan di penjara, Mbak Yuni kapan itu gak datang dua hari Pak”*, Mas Imrul melanjutkan ceritanya. *“Saya was-was. Ternyata Ibu saya meninggal dunia Pak. Sedihnya lagi, Pak sipir penjara nggak ngebolehin saya keluar sebentar buat nyekar ke makam. Saya cuma bisa nangis di penjara Pak. Mohon ampun sama Allah.”*


Air mataku menderas. *Duh Gusti Allah, cobaan hidup lelaki ini ternyata berat. Aku belum tentu kuat menjalaninya.*
*“Mas Imrul kan vonisnya 2 th. Kenapa bisa bebas lebih cepat?”* tanyaku sambil menyeka air mata.
*“Oh, kalau itu krn kasus saya diperiksa kembali sama polisi dan pengadilan Pak,”* ujarnya sambil ragu mengambil kain hangat yg disodorkan awak kabin.
*“Setelah sidangnya diulang, terbukti saya memang tdk bersalah. Teman yg berkomplot itu akhirnya berterus terang,”* ujar Mas Imrul pelan. *“Sebetulnya saya sdh memaafkan teman itu. Sejak pertama kali difitnah.”*
“Sejak pertama kali sdh memaafkan?” tanyaku tambah heran.
*“Iya Pak Bagus. Kalau ada orang memfitnah, buat saya cuma dua. Kalau fitnah itu benar, maka saya mohon ampun sama Allah. Tapi kalau fitnah itu salah, maka saya maafkan & mohon ampunkan dia dari kemurkaan Allah,”* ujarnya datar.
*Degh !! Aku langsung teringat fitnah yg menimpaku setahun yg lalu. Aku dituduh memanipulasi laporan pajak perusahaan. Si penuduh berhasil aku sikat habis di pengadilan. Aku beruntung dpt pengacara yg handal, tapi sekarang aku menyesal. Mengapa sepertinya kata maaf tdk pernah ada dlm kamus hidupku selama ini.*
*Ternyata lelaki ini bukan orang biasa. Mas Imrul, seorang satpam mantan narapidana, tdk terkenal di bumi, tapi terkenal di langit. Inilah lelaki langit yg semua malaikat pencatat kebaikan pasti mengenalnya.*


***
Tiga hari di Mekkah kami menginap di Royal Clock Tower. Aku & Mas Imrul menghabiskan seluruh hari penuh dg ibadah. Tak cuma itu. Ada yg spesial di umrah kali ini & itu semua krn Mas Imrul. Aku biasa telat sholat fardhu, lalu sholat berjamaahnya cuma di dekat hotel. Tapi tdk saat bersama Mas Imrul. *Kami selalu berada di shaf depan, melihat langsung Ka’bah. Aku belum pernah mencium hajar aswad pdh umrah berkali-kali, tapi tdk saat bersama Mas Imrul. Badannya yg kurus justru berhsl membawaku mencium batu hitam itu berkali-kali sepuasnya. Kami juga sholat di hijir Ismail & lama berdo’a di Multazam, antara hajar aswad & pintu Ka’bah. Semuanya lancar tanpa halangan.*
Mas Imrul terlihat sangat menikmati perjalanan umroh ini. Dlm benakku, kalau pulang nanti dia akan aku pekerjakan sbg satpam di rumahku.
Hari keempat kami berangkat ke Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawaroh. Dlm bis VIP Mas Imrul lebih banyak diam & berdzikir.
*“Kalau saya perhatikan, Mas Imrul tak pernah kelihatan susah,”* ujarku sambil memiringkan sedikit badan ke arahnya.
*“Allah yg membolak-balikkan hati Pak,”* ujarnya datar. *“Maka mintalah itu pada-Nya. Kalau kita menjaga Allah, kita pun akan dijaga-Nya.”*
*“Maksudnya menjaga Allah itu bagaimana Mas?”*
*“Jaga Allah dg menyempurnakan hari,”* ujar Mas Imrul serius.
*“Maksudnya bagaimana Mas?”*


*“Hari yg sempurna itu diawali dg bangun malam. Sholat tahajjud & witir. Minimal 2 plus 1. Lalu Dhuha minimal 2, dan sholat rawatib yg jmlhnya 12 raka’at. Utamanya sholat sunnah fajar sebelum subuh. Selalu sholat wajib berjama’ah di masjid. Membaca Al-Qur’an minimal 1 juz setiap hari. Senin-Kamis puasa sunnah. Itulah hari yg sempurna.”*



*Aku hanya terpana. Mobil camry & rmh mewah hasil jerih payahku, jadi spt harta tak bermakna.*
Sampai di Madinah, setelah sholat ashar di masjid Nabawi, kami berdesakan menuju Rawdhah. Area khusus dg karpet hijau itu memang jadi rebutan para jama’ah. Kami menunggu giliran dg sabar, berdiri di belakang pembatas putih. Ketika petugas masjid membukanya, serentak setengah berlari kami menuju pojok paling dekat dg tembok di sebaliknya makam Rasulullah ﷺ


*“Mas, ayo cepat sholat di sini. Perbanyak istighfar, shalawat & do’a. Ini salah satu tempat yg paling mustajab buat berdo’a,”* ujarku sambil bersiap-siap sholat. Di sampingku Mas Imrul dg khusyu’ mendirikan sholat sunnah. Selesai sholat, aku duduk berdo’a di sampingnya yg masih berlama-lama sujud. Area rawdhah sdh sesak dipenuhi jama’ah.
Tak smp 10 menit kemudian, muncul petugas masjid menyuruh kami segera pergi. Waktu sdh habis. Sekarang giliran jama’ah lainnya yg sdh menunggu di balik pembatas putih. Aku melihat Mas Imrul masih sujud. Petugas masjid menepuk pundak-ku, menyuruh kami segera pergi. Entah do’a apa yg dipanjatkan Mas Imrul, mengapa begitu lama.

*Aku mengguncang halus punggungnya. Badannya terguling lemah. Mas Imrul telah tiada.
Wajah tirusnya tersenyum damai. Dia meninggal dlm keadaan terbaiknya. Husnul khotimah saat sujud di Rawdhah, *taman surga.*
Badanku lemas.
Jantungku berdegup kencang.

*Lelaki langit telah kembali kepada Rabb-nya.*


***
Aku duduk sendiri di kelas bisnis. Penerbangan Jeddah - Jakarta terasa lengang. Baru saja aku terlelap di kursi, suara awak kabin membangunkan para penumpang untuk makan malam, 6 detik kmdn aku terduduk diam. Kenapa ibu yg membangunkanku? Ibu kan sdh meninggal.
*“Mas Bagus, matur nuwun sanget,”* ujar ibu dengan logat Jawanya yg kental & senyum khasnya......


🌴LELAKI LANGIT🌴
.HendraS.
Copas (.. Unknown..)


Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam pernah bersabda: orang yang memiliki akhlak mulia akan berada pada tingkatan surga tertinggi dan berada dekat dengan Rasul
Ya Rabb, karuniakanlah pada kami akhlak yang mulia

Waktu yang Berlipat


Oleh: Kak Eka Wardhana, Rumah Pensil Publisher


Ada teka-teki yang saya ambil dari buku “The Hobbit” karya JRR Tolkien. Teka-teki ini ditanyakan oleh Gollum kepada Bilbo si Hobbit, katanya:

Benda ini makan segalanya;
Burung, binatang, pohon dan bunga;
Mengerat besi, menggigit baja;
Batu keras pun digilingnya;
Membunuh raja, menghancurkan kota;
Meruntuhkan gunung sampai rata.

Tahukah Anda apa jawabannya?

Jawabannya adalah: WAKTU.



Seperti yang dibilang Gollum : waktu memakan segalanya. Waktu memakan jatah usia kita tanpa henti, maju terus dengan kecepatan konstan, tak peduli kita sadar atau tidak. Sama sekali tak ada yang lolos dari gigitan waktu: hewan, bunga sampai gunung pun akan rata dimakan. Raja paling berkuasa yang ditakuti atau pemimpin yang paling disayangi pun akan mati ditelan waktu. Bahkan kota-kota besar akan berubah atau hancur dilanda waktu.


Kalo kata saya sih, mahluk yang namanya waktu ini adalah salah satu bukti terkuat betapa Maha Adilnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maha Adil karena semua orang menempuh alunan waktu dengan kecepatan yang sama tetapi bisa mendapatkan hasil yang berbeda-beda, tergantung bagaimana setiap kita memanfaatkan waktu yang diberikan.


Sebagai contoh, saya kutip perkataan Albert Einstein ketika ia diminta menjelaskan teori relativitas waktunya: “Bila Anda duduk bersama orang yang Anda rindukan, waktu 1 jam yang Anda lalui akan terasa seperti 1 menit saja. Tetapi bila Anda duduk di atas kompor menyala, waktu 1 menit akan terasa seperti 1 jam!”


Einstein benar. Ternyata waktu kelihatannya saja lurus seperti benang yang terbentang tapi orang bijak memandangnya lain: waktu itu berlipat seperti gelombang air.
Contohnya: A dan B sama-sama seorang ayah. Mereka sama-sama tiba di rumah pukul 6 sore. A dan B juga sama-sama tidur pada pukul 9 malam. Hanya saja bedanya: A menghabiskan waktu antara pukul 6 dan 9 dengan membacakan dongeng, bermain dan mengajari anak-anaknya, sedangkan B menghabiskan waktu antara pukul 6 dan 9 dengan menonton tv sambil beristirahat.
Satu, dua, tiga hari berlalu sampai bertahun-tahun pun terlewat. A dan B pun meninggal di usia dan waktu yang sama. Namun perbedaan tampak nyata pada keluarga yang mereka tinggalkan: Ternyata anak-anak A menjadi orang yang berkarakter dan berhasil dalam hidup, sedangkan anak-anak B hanya menjadi orang-orang biasa saja.
Mengapa begitu? Jawabannya: karena A berhasil melipat waktu dari pukul 6 sampai 9 malamnya, sedangkan B melalui waktu pukul 6 dan 9 malam dengan lurus saja tanpa melipat waktu.
Yuk, saat tiba di rumah, buang jauh-jauh beban dari luar rumah. Rumah adalah tempat perlindungan dan kebahagiaan kita. Lipatkan waktu saat di rumah untuk keluarga kita. Habiskan dengan bercengkerama, mendidik dan membacakan kisah-kisah bermutu. Maka hasilnya pun akan sangat memuaskan. Allah memang Maha Adil.


Salam Smart Parents!

Renungan special untuk para Ayah

*PERAN AYAH DALAM PENDIDIKAN ANAK*

Seminar Parenting

Oleh: Ustadz Adriano Rusfi, M.Psi


Siapa yang paling bertanggung jawab dalam hal pendidikan anak?

Ya. Ayah jawabannya.



Dalam Al Qur'an Allah kisahkan kisah-kisah bagaimana mendidik anak, dan semuanya dilakukan oleh Ayah. Ada kisah Lukman yang mendidik anak dan keluarganya, kisah Ibrahim dengan putra kesayangannya, ada kisah Imron, Zakaria dan Yakub yang berperan mendidik anak-anaknya.
Begitu pentingnya peran Ayah dalam mendidik anak hingga tujuh belas ayat dalam Al Qur'an yang menjelaskan peran orang tua dalam mendidik anak, empat belas ayat di antaranya dilakukan oleh sosok seorang Ayah, dua ayat dilakukan oleh sang Ibu dan satu ayat dilakukan oleh keduanya.
Kegagalan pendidikan anak lantaran disebabkan karena ketidakterlibatan seorang Ayah dalam pendidikan anak di keluarga. Seorang Ayah hanya fokus mencari nafkah dan berlepas diri dalam hal pendidikan anaknya dan mendelegasikan kepada sang Ibu.
Kegagalan itu tampak terlihat pada keluarga-keluarga di sekitar kita, di mana anak-anak lebih cepat mencapai masa balighnya, namun masa aqilnya terlambat jauh.
Kasus-kasus pembunuhan, pemerkosaan dan narkoba yang dilakukan oleh anak-anak terjadi lantaran masa baligh jauh lebih cepat dialami anak dari masa aqilnya.


Dalam Islam, masa aqil dan baligh harus hadir bersamaan pada anak-anak.
Ada beberapa perbedaan apa itu aqil dan baligh:
1. Aqil berarti dewasa dalam mental, baligh dewasa dalam hal fisik
2. Aqil karena pengaruh pendidikan sementara baligh disebabkan pengaruh nutrisi makanan.
3. Aqil terkait perkembangan otak, sedangkan baligh terkait perkembangan nafsu.
4. Aqil terkait fungsi tanggung jawab, sedangkan abaligh terkait fungsi reproduksi
5. Aqil berarti kemandirian dan tanggung jawab, sedangkan baligh berarti life and death instinct



Bukan sosok Ibu yang akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak, namun sosok Ayahlah yang harus mempertanggungjawabkan anak-anaknya.
Janganlah heran bila kelak ada seorang Ayah yang ahli ibadah, namun ia harus terseret ke neraka lantaran protes anak-anaknya yang tidak pernah diajarkan bagaimana menjadi anak yang sholeh dan sholehah.


Ada beberapa peran Ayah yang tak bisa digantikan oleh sosok Ibu:
1. Man of vision and mission
2. Penanggung Jawab
3. Konsultan pendidikan
4. Mendidik aqidah dan keimanan.
5. Sang ego dan individualitas
6. Membangun sistem berpikir
7. Supplier maskulinitas
8. The King of Tega.



Mind set bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab ibu harus disingkirkan jauh-jauh. Seorang Ayah harus mendominasi dalam hal mendidik anak dalam keluarga. Semakin baik peran para Ayah dalam mendidik anak di keluarga, diharapkan mampu mendorong terciptanya peradaban baru dengan generasi yang sholeh secara individu dan sosial.



Tangerang,
Sabtu,1 September 2018

Adab Kepada Guru Kunci Meraih Ilmu


BAGAIMANA KITA MEMANDANG GURU KITA?



“Dia yang mengajariku se-ayat ilmu”, begitu dikatakan oleh Sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, “Sungguh memiliki hak untuk memperbudakku.”

“Seseorang bertanya pada Iskandar al-Maqduni, murid Aristun,” demikian dikisahkan oleh Imam Ibn Rusyd, “Mengapa kau doakan gurumu dua kali sedangkan ayahmu hanya sekali?” Dia menjawab, “Karena Ayahku menjadi wasilah bagi kehidupanku di dunia. Sementara Guruku menjadi perantara bagi hidupku di akhirat nanti. Seandainya Ayahku sekaligus menjadi Guruku, pastilah akan kudoakan dia tiga kali.”

Betapa mulia dia yang memegang saham keberhasilan kita, tanpa pernah mengambil bagi hasil di dunia. Dia yang meniupkan nafas cintanya, hingga kuncup-kuncup jiwa kita mekar menjadi bunga.
===
*Siapakah sejatinya Guru?*
Guru adalah insan yang tak henti belajar, bahkan pada yang jauh lebih muda dan tentang apa yang telah diketahuinya. “Kusimak tiap riwayat ilmu dengan sepenuh hormat,” ujar Imam Atha’ ibn Abi Rabah, “Meski sebenarnya aku telah menghafalnya, jauh sebelum penyampainya lahir ke dunia.” Penghormatannya pada ilmu, menepikan segala rasa bangga.

Guru adalah yang paling bersemangat mendapatkan pemahaman seperti dikatakan Imam asy-Syafi’i, “Aku terhadap ilmu seperti seorang ibu yang mencari anak semata wayangnya yang tersayang dan hilang. Dan ketika menyimak ilmu, sungguh aku berharap bahwa seluruh tubuhku adalah telinga.”

Demikianlah, sebab guru yang berhenti belajar adalah murid yang paling gagal. Berhenti memburu ilmu adalah cela dan aib bagi yang tua dan celaka bagi yang muda.
===
*Adab Imam Nawawi Kepada Sang Guru*

Imam Nawawi ketika hendak belajar kepada gurunya, beliau selalu bersedekah di perjalanan dan berdoa, “Ya Allah, tutuplah dariku kekurangan guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya dan tidak seorangpun yang menyampaikan kekurangan guruku kepadaku.” [Lawaqih al-Anwaar al-Qudsiyyah : 155]

Beliau pernah mengatakan dalam kitab at-Tahdzibnya :

ﻋﻘﻮﻕ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪﻳﻦ ﺗﻤﺤﻮﻩ ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ ﻭﻋﻘﻮﻕ ﺍﻻﺳﺘﺎﺫﻳﻦ ﻻ ﻳﻤﺤﻮﻩ ﺷﻲﺀ ﺍﻟﺒﺘﺔ

“Durhaka kepada orang tua dosanya bisa hapus oleh taubat, tapi durhaka kepada ustadzmu tidak ada satupun yg dapat menghapusnya.”

Imam an-Nawawi melakukan perjalanan ke Kairo dalam rangka ziyarah Imam asy-Syafi’i. Namun setelah melihat kubah Imam asy-Syafi’i, Imam An Nawawi berhenti dan tidak melanjutkan langkahnya.

Sampai ada yang berkata kepada Imam an-Nawawi, “Ayo, melangkahlah maju!” Imam An Nawawi menjawab, “Kalau sekirangnya Imam asy-Syafi’i masih hidup dan berada di tenda, maka wajib bagiku berhenti hanya karena melihat tendanya.”
Kemudian Imam An Nawawi pun kembali pulang ke Syam secara diam-diam, hingga keluarganya tidak mengetahui akan hal itu. [Tarjamah An Nawawi li as-Sakhawi, hal. 82]
===
Al-Imam Ali bin Hasan al-Atthas mengatakan :

ﺍﻥ ﺍﻟﻤﺤﺼﻮﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﻔﺘﺢ ﻭﺍﻟﻨﻮﺭ ﺍﻋﻨﻲ ﺍﻟﻜﺸﻒ ﻟﻠﺤﺠﺐ، ﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﺍﻻﺩﺏ ﻣﻊ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻭﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻛﺒﺮ ﻣﻘﺪﺍﺭﻩ ﻋﻨﺪﻙ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻚ ﺫﺍﻟﻚ ﺍﻟﻤﻘﺪﺍﺭ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺷﻚ

“Memperoleh ilmu, futuh, dan cahaya (maksudnya terbukanya hijab-hijab batinnya), adalah sesuai kadar adab kita bersama guru. Kadar besarnya guru di hati kita, maka demikian pula kadar besarnya diri kita di sisi Allah tanpa ragu.” [Al-Manhaj as-Sawiy : 217]

Habib Abdullah al-Haddad mengatakan, “Paling bahayanya bagi seorang murid, adalah berubahnya hati gurunya kepadanya. Seandainya seluruh wali dari Timur dan Barat ingin memperbaiki keadaan si murid itu, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali.” [Adaab Suluk al-Murid : 54]

Seorang murid sedang menyapu madrasah gurunya, tiba-tiba Nabi Khidir mendatanginya. Murid itu tidak sedikitpun menoleh dan mengajak bicara nabi Khidhir. Maka nabi Khidhir berkata, “Tidakkah kau mengenalku?” Murid itu menjawab, “Ya aku mengenalmu, engkau adalah Abul Abbas al-Khidhir.” Nabi Khidhir kemudian bertanya, “Kenapa kamu tidak meminta sesuatu dariku?” Murid itu menjawab, “Guruku sudah cukup bagiku, tidak tersisa satupun hajat kepadamu.” [Kalam al-Habib Idrus al-Habsyi : 78]

Al-Habib Abdullah al-Haddad berkata, “Tidak sepatutnya bagi penuntut ilmu mengatakan pada gurunya, “Perintahkan aku ini, berikan aku ini!”, karena itu sama saja menuntut untuk dirinya. Tapi sebaiknya dia seperti mayat di hadapan orang yg memandikannya.” [Ghoyah al-Qashd wa al-Murad : 2/177]

Para ulama ahli hikmah mengatakan, “Barangsiapa yang mengatakan “Kenapa?” Kepada gurunya, maka dia tidak akan bahagia selamanya.” [Al-Fataawa al-Hadiitsiyyah : 56]

Para ulama hakikat mengatakan, “70% ilmu itu diperoleh sebab kuatnya hubungan (batin, adab, dan baik sangka) antara murid dengan gurunya.”

Semoga kita semua termasuk murid yang baik dan mendapat berkah dari guru kita, Aamiin…
Wallahu a'lam.


Sumber :

Biografi Al-Habib ‘Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi

Beliau..



As-Sayyid asy-Syarif al-'Alim az-Zahid al-'Arifbillah Syaikh al-Mutaakhkhirin, al-Habib ‘Ali bin Muhammad bin Husein bin ‘Abdullâh bin Syeikh bin ‘Abdullâh bin Muhammad bin Husein bin Ahmad Shâhib asy-Syi’b bin Muhammad Asghar bin ‘Alwî bin Abû Bakar al-Habsyî bin ‘Ali bin Ahmad bin Muhammad ‘Asadullâh bin Hasan at-Turabî bin ‘Ali bin al-Faqîh al-Muqaddam Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Sâhib Mirbath bin ‘Ali Khali’ Qasam bin ‘Alwî bin Muhammad bin ‘Alwî bin ‘Ubaidillâh bin al-Muhâjir Ahmad bin ‘Îsâ bin Muhammad Nagîb bin ‘Ali al-‘Uraidhî bin Ja’fâr as-Shâdiq bin Muhammad al-Bâqir bin ‘Ali Zainal ‘Âbidîn bin Husein bin Fâthimah az-Zahrâ binti Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam bin ‘Abdillâh.

Beliau adalah putra Mufti Makkah dan saudara faqih kota ini. Habib ‘Ali lahir di desa Qosam pada hari jum’at, 24 syawal 1259 H / 1839 M; dan diberi nama ‘Ali oleh al-'Allamah as-Sayyid Abdullah bin Husein bin Thohir untuk mengambil berkah dari Sayidina ‘Ali Kholi’ Qosam. Ibunda beliau, Sayidah Alawiyah binti Husein bin Ahmad al-Hadi al-Jufri (lahir tahun 1240 H), berasal dari kota Syibam, adalah seorang yang sangat gemar mengajar dan berdakwah, yang memiliki banyak karomah. Ayahanda beliau, Habib Muhammad bin Husein al-Habsyi (lahir, 18 jumadil akhir 1213 H) adalah Mufti Haramain di masanya.

Ketika Habib ‘Ali berusia 7 tahun, ayahandanya hijrah ke Makkah bersama tiga anaknya yang telah dewasa; Abdullah, Ahmad, dan Husein. Suatu hijrah yang abadi ke Makkah, demi mematuhi keinginan Syeikh Fath beliau, al-'Allamah al-Habib Abdullah bin Husein bin Thohir.

Ketika Habib ‘Ali berumur 11 tahun, beliau bersama ibundanya pindah ke Seiwun, supaya beliau dapat memperdalam ilmu Fiqih dan ilmu-ilmu lainnya, sesuai perintah al-Habib Umar bin Hasan bin Abdullah al-Haddad.

Dalam perjalanan ke Seiwun; beliau melewati Masileh dan singgah di rumah al-Habib Abdullah bin Husein bin Thohir. Beliau menggunakan kesempatan itu, untuk menelaah kitab, mengambil ijazah dan ilbas.

Pada usia 17 tahun, beliau diminta ayahandanya pergi ke Makkah dan tinggal bersama ayahnya selama 2 tahun yang penuh berkah. Setelah itu, beliau kembali ke Seiwun sebagai seorang Alim dan ahli dalam pendidikan. Beliau kembali atas perintah ayahandanya untuk menikahkan adik beliau, Aminah, dengan Sayyid Alwi bin Ahmad Assegaf, salah seorang murid ayahanya.

Setelah merayakan pernikahan adiknya, Habib ‘Ali lalu tinggal di Seiwun untuk belajar dan mengajar. Banyak penduduk Seiwun menuntut ilmu kepadanya. Beliau juga sering pergi ke Tarim untuk menuntut ilmu dari orang-orang alim disana. Habib ‘Ali memiliki banyak guru, akan tetapi guru besar beliau adalah al-Habib Abu Bakar bin Abdullah bin Thalib al-Atthas.

Ketika Habib ‘Ali bertemu pertama kali dengan Habib Abu Bakar bin Abdullah al-Atthas, terlihat tubuhnya diliputi cahaya, “Lelaki ini malaikat atau manusia,” kata Habib ‘Ali dalam hati.. Suatu hari beliau tidak bisa lagi membendung rasa rindunya kepada gurunya, Habib Abu Bakar bin Abdullah al-Atthas; kemudian beliau pergi ke Ghurfah. Saat itu Habib Abu Bakar sedang bertamu di rumah salah seorang kenalannya.

“Tambahlah hidangan siang untuk ‘Ali bin Muhammad al-Habsyi. Sebentar lagi ia datang kemari. Ia tidak mampu berpisah terlalu dariku.” Kata Habib Abu Bakar kepada tuan rumah. Sesampainya Habib ‘Ali di rumah itu, si tuan rumah memberitahu bahwa Habib Abu Bakar telah mengkasyaf kedatangannya.
Habib ‘Ali berkata, “Ucapan kaum Sholihin cukup sebagai pengganti makanan selama sebulan. Jika mendengar Habib Abu Bakar berceramah, rasanya aku tidak membutuhkan makanan lagi. Seandainya beliau menyampaikan ilmunya selama sebulan, maka aku akan menjadikan ucapannya sebagai santapanku. Bukankah tujuan memberi makan jasad adalah ruh, padahal ucapan beliau ini adalah santapan ruh langsung.”

“Alangkah baiknya membicarakan ilmu dengan seorang yang ahli dan mampu menerangkannya dengann baik. Habib Abu Bakar jika menerangkan suatu ilmu kepada kami, dari kedua bibirnya meluncur ilmu-ilmu yang segera melekat di hati kami; seperti air dingin bagi orang yang sedang kehausan. Jika duduk bersama beliau, aku selalu berharap agar majelis itu tidak akan berakhir, walau selama sebulan. Saat itu, rasanya aku tidak menginginkan lagi kenikmatan duniawi, aku tidak merasa lapar atau haus.”

Habib Abu Bakar bin Abdullah al-Atthas pernah berkata kepada Habib ‘Ali, “Tidak mencintaiku kecuali orang yang berbahagia (sai’id). Tidak mencintaiku kecuali seorang yang saleh. Aku, para sahabatku dan orang-orang yang mencintaiku kelak di hari kiamat berada dalam naungan Arsy.”
“Wahai anakku, ketahuilah, aku mengetahui semua wali yang ada di Timur dan di Barat. Aku belajar kepada mereka semua. Kadang kala aku memberitahu seseorang bahwa dia adalah seorang wali karena dia sendiri tidak menyadarinya.”
“Ya, ‘Ali. Sesungguhnya aku telah memeliharamu sejak kau berada dalam sulbi ayahmu.”

Habib Muhammad sesungguhnya sedih melihat Habib ‘Ali lebih senang tinggal di Hadramaut. Ketika Habib Abu Bakar bin Abdullah al-Atthas berada di Makkah; Habib Muhammad mengadukan hal ini. Habib Abu Bakar kemudian memberinya kabar gembira bahwa kelak di Hadramaut, Habib ‘Ali akan memperoleh Ahwal yang besar dan manfaat yang banyak. Baru setelah itu, tenanglah hati Habib Muhammad, dan Allah pun mewujudkan apa yang diucapkan Habib Abu Bakar al-Atthas. Ketika Habib ‘Ali berusia 22 tahun, ayahandanya, Habib Muhammad meninggal dunia di Makkah. Habib Muhammad memegang jabatan Mufti Syafi'iyah Di Makkah; setelah wafatnya Syeikh al-'Allamah Ahmad Dimyati tahun 1270 H. jabatan ini dipegangnya hingga beliau wafat. Pada hari rabu 21 Dzulhijah 1281 H; beliau dimakamkan di Ma’laa di Huthoh saadah Aal Ba 'Alawiy. Sedangkan ibunda Habib ‘Ali, Hababah Alawiyah binti Husein bin Ahmad al-Hadi al-Jufri wafat pada tanggal 6 Rabiuts tsani, tahun 1309 H.


*Putra–Putri Habib ‘Ali*




Dari perkawinannya dengan wanita Qosam, satu anak, Abdullah.
Dari perkawinannya dengan Hababah Fathimah binti Muhammad bin Segaf Maulakhela, 4 anak (Muhammad, Ahmad, Alwi dan Khodijah).


 

*Ribath Habib ‘Ali*



Ketika berusia 37 tahun, beliau membangun Ribath (pondok pesantren) yang pertama di Hadramaut, di kota Seiwun untuk para penuntut ilmu dari dalam dan luar kota. Ribath menyerupai mesjid dan terletak di sebelah timur halaman masjid Abdul Malik. Biaya orang-orang yang tinggal di Ribath beliau tanggung sendiri.

Habib ‘Ali berkata, “Ribath ini kudirikan dengan niat-niat yang baik, dan Ribath ini menyimpan rahasia (sir) yang besar. Ribath ini mrnyadarkan mereka yang lalai dan membangunkan mereka yang tertidur. Berapa banyak faqih yang telah dihasilkannya, berapa banyak orang alim yang telah diluluskannya. Ribath ini merubah orang yang tidak mengerti apa-apa menjadi orang yang alim.”



*Pembangunan Masjid Riyadh*




Ketika berusia 44 tahun, beliau membangun Masjid Riyadh, pada tahun 1303 H.

Pada bulan syawal 1305 H; Habib ‘Ali menggubah sebuah syair tentang Masjid Riyadh :
“Inilah Riyadh, ini pula sungai-sungainya yang mengalir
Yang memakmurkan mereguk segar airnya
Yang bermukim tercapai tujuannya
Yang berkunjung terkabul keinginannya
Masjid ini dibangun di atas tujuan yang shahih
Maka tampaklah hasilnya”

Habib ‘Ali berkata, “Dalam Masjid Riyadh terdapat cahaya rahasia dan keberkahan Nabi Muhammad ﷺ.”
Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi berkata, “Berkata penggubah syair, lembah kebaikan telah penuh. Siapa ingin hajatnya terkabul beri’tikaflah di sekitar Riyadh.”


*Wafatnya Habib ‘Ali*




Pada tahun-tahun terakhir kehidupannya, penglihatan Habib semakin kabur. Dan dua tahun sebelum wafatnya, beliau kehilangan penglihatannya. Menjelang wafatnya, tanda yang pertama kali tampak adalah Isthilam; yang berlangsung selama 70 hari, hingga kesehatan beliau semakin buruk. Akhirnya, pada waktu dzuhur, hari Ahad, 20 Rabiuts tsani tahun 1333 H./ 1913 M; beliau wafat. Jenazah beliau dimakamkan di sebelah barat Masjid Riyadh.


*Kholifah Habib ‘Ali*




Dalam wasiatnya Habîb ‘Ali menunjuk Habîb Muhammad sebagai khalîfahnya. Mengenai Habîb Muhammad ini, Habîb ‘Ali pernah berkata :
“Kalian jangan mengkhawatirkan anakku Muhammad. Pada dirinya terletak khilafah zhâhir dan bâthin. Semoga Allâh menjadikan dia dan saudara-saudaranya penyejuk hati, semoga mereka dapat memakmurkan ribâth dan Masjid Riyâdh dengan ilmu dan amal, semoga Allâh menjadikan mereka sebagai teladan dalam setiap kebajikan, dan semoga Allâh memberi mereka keturunan yang saleh serta menjaga mereka dari berbagai fitnah zaman dan teman-teman yang buruk.”

Sebagaimana Habîb Muhammad bin ‘Ali, adik beliau, al-Habîb al-Karîm, seorang dai yang menyeru ke jalan Allâh, yang mengingatkan manusia akan hari-hari Allâh, ‘Alwî bin ‘Ali, juga menyelenggarakan haul ayahnya di kota Solo, di pulau Jawa. Masyarakat dari berbagai daerah terpencil datang menghadiri haul. Dalam haul tersebut disampaikan ceramah, nasihat dan pidato ilmiah. Beliau melanjutkan kegiatan-kegiatan yang telah dirintis oleh Ayahnya.

Habîb Alwi membangun Masjid Riyâdh di Solo pada tahun 1355 H. Beliau menyelenggarakan kegiatan ibadah dan taklim yang biasa diamalkan oleh ayahnya. Mengenai Habîb Alwi ini, ayahnya pernah berkata dalam salah satu syairnya :
“Ya Tuhan, dengan kebesaran Al Musthafâ berilah ‘Alwî fath,
Dan berilah ia madad dari segala penjuru
Begitu pula semua saudara dan semua yang bersamanya
Dan penuhilah kedua tangannya dengan karunia-karunia-Mu
Dan jadikanlah dalam ilmu ia sebagai rujukan ahli zamannya.”
(P:180)


*Murid-Murid Habîb ‘Ali*




Murid-murid Habîb ‘Ali antara lain adalah : Anak-anak beliau sendiri, yaitu ‘Abdullâh, Muhammad, Ahmad dan ‘Alwî. Adik beliau al-‘Allâmah Sayyid Syeikh bin Muhammad dan kemenakan beliau Sayyid Ahmad bin Syeikh. Kemudian al-‘Allâmah Sayyid Ja’fâr dan ‘Abdul Qâdir bin ‘Abdurrahmân bin ‘Ali bin ‘Umar bin Saggâf as-Saggâf, al-‘Allâmah Sayyid Muhammad bin Hadi bin Hasan as-Saggâf, al-‘Allâmah Sayyid Muhsin bin ‘Abdullâh bin Muhsin as-Saggâf, al-‘Allâmah Sayyid Sâlim bin Shâfi bin Syeikh as-Saggâf, al-‘Allâmah Sayyid ‘Ali bin ‘Abdul Qâdir bin Sâlim bin ‘Alwî al-‘Aidarûs, al-‘Allâmah Sayyid ‘Abdullâh bin ‘Alwî bin Zein al-Habsyî, al-‘Allâmah Sayyid Muhammad bin Sâlim bin ‘Alwî as-Sirî, al-‘Allâmah Sayyid ‘Alwî bin ‘Abdurrahmân bin Abû Bakar al-Masyhûr, al-‘Allâmah Sayyid Hasan bin Muhammad bin Ibrâhim Bilfagîh, al-‘Allâmah Sayyid ‘Ali bin ‘Abdurrahmân bin Muhammad al-Masyhûr, al-‘Allâmah Sayyid ‘Umar dan Sayyid ‘Abdullâh bin ‘Idrûs bin ‘Alwî al-‘Aidarûs, al-‘Allâmah Sayyid ‘Abdullâh bin ‘Ali bin Syihâbuddîn, al-‘Allâmah Sayyid ‘Abdullâh bin ‘Umar asy-Syathrî, al-‘Allâmah Syeikh Ahmad bin ‘Abdullâh bin Abû Bakar al-Khatîb, al-‘Allâmah Sayyid Muhammad bin ‘Idrûs bin ‘Umar al-Habsyî, al-‘Allâmah Sayyid Sâlim bin Thâhâ bin ‘Ali al-Habsyî, al-‘Allâmah Sayyid ‘Umar bin ‘Abdullâh bin Muhammad al-Habsyî, al-‘Allâmah Sayyid ‘Umar bin ‘Abdurrahmân al-‘Aidarûs Shâhib Hazm, al-‘Allâmah Sayyid ‘Abdullâh bin ‘Alwî bin Hasan al-‘Athâs, al-‘Allâmah Sayyid Muhammad bin Sâlim bin Abû Bakar bin ‘Abdullâh al-‘Athâs, al-‘Allâmah Sayyid ‘Umar bin Ahmad bin ‘Abdullâh bin ‘Idrûs al-Bâr, al-‘Allâmah Sayyid Hâmid bin ‘Alwî bin ‘Abdullâh al-Bâr, al-‘Allâmah Sayyid Muhammad dan Sayyid Musthafâ bin Ahmad bin Muhammad bin ‘Alwî al-Muhdhâr, al-‘Allâmah Sayyid Muhammad dan Sayyid ‘Umar bin Thâhir bin ‘Umar al-Haddâd.

Murid-murid beliau yang mencapai derajat alim dalam ilmu Fiqih dan lainnya selain yang menetap di ribâth antara lain adalah : al-‘Allâmah Sayyid Thâhâ bin ‘Abdul Qâdir bin ‘Umar as-Saggâf, al-‘Allâmah Sayyid ‘Umar bin ‘Abdul Qâdir bin Ahmad as-Saggâf, al-‘Allâmah Sayyid ‘Alwî bin Saggâf bin Ahmad as-Saggâf, Syeikh Hasan, Ahmad dan Muhammad bin Muhammad Bârajâ.

Orang-orang yang selalu bersama beliau sepanjang hidup beliau dan seperti murid beliau adalah : al-‘Allâmah Sayyid Abdillâh bin Ahmad bin Thâhâ bin Alwi as-Saggâf, Sayyid ‘Alwî bin Ahmad bin ‘Alwî bin Saggâf as-Saggâf, Syeikh Ahmad bin ‘Ali Makârim, Syeikh Ahmad bin ‘Umar Hassan, Syeikh Muhammad bin ‘Abdullâh bin Zein bin Hâdî bin Ahmad Bâsalâmah dan Syeikh ‘Ubaid bin Awudh Bâ Falî’.
(F:132-134)


Download Qasidah Ya Habibana Ali - Majlis ar Raudhah Solo :
Link Download Qasidah Ya Habibana Ali - Majlis Ar Raudhah Solo

Perkara Yang Dilarang Bagi Wanita Haid Dan Nifas!!!

Diantara yang diharomkan bagi wanita yang sedang haid dan nifas yaitu :


*A. Shalat*

Islam memberikan ketentuan hukum haram bagi wanita yang haid atau nifas untuk menunaikan shalat fardlu atau sunnah dan juga menunaikan sujud tilawah atau sujud syukur. Karena keduanya termasuk dari bagian shalat. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ :

إِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلاَةَ (رواه الشيخان)

"Apabila wanita mengeluarkan darah haid maka tinggalkanlah shalat." (H.R. Asy Syaikhani)

Akan tetapi dia tidak wajib mengqadla’ shalat dan jika diqadla’ maka hukumnya adalah makruh atau tidak ada pahalanya. Sebagaimana perkataan Sayyidah Aisyah R.A. dalam sebuah hadits :

كُنَّا نَحِيْضُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ I ثُمَّ نَطْهُرُ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ (رواه الشيخان)

"Kami pernah mengeluarkan darah Haid di masa Rasulullah ﷺ lalu setelah suci kami diperintahkan mengqadla’ puasa dan tidak diperintahkan mengqadla’ shalat." (H.R. Asy Syaikhani)


*B. Puasa*

Apabila seorang wanita dalam keadaan haid atau nifas haram atasnya melakukan puasa fardlu atau sunnah sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ :

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ (رواه الشيخان)

"Bukankah jika perempuan sedang haid tidak melakukan shalat dan puasa." (H.R. Asy Syaikhani)

Akan tetapi jika tidak berniat puasa, dia melakukannya hanya untuk menahan diri dari makan dan minum (diet) maka tidak mengapa melakukan hal itu. Para Ulama berkata hikmah sebab diharamkannya puasa bagi wanita haid maupun nifas karena mengeluarkan darah itu melemahkan badan, begitu pula di dalam melaksanakan puasa, jadi apabila berpuasa pada saat dia sedang haid atau nifas maka akan terkumpullah dua hal yang melemahkan badannya, maka ditinjau dari segi ini syari’at Islam mengharamkannya dan wajib atas wanita haid atau nifas mengqadla’ puasa Ramadlan yang ditinggalkan pada hari-hari haid atau nifas. Berbeda dengan shalat maka tidak wajib mengqadla’nya. Sebagaimana hadits Rasulullah ﷺ :

كَانَ يُصِيْبُنَا -أَيْ الْخَيْضُ- فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ (رواه الشيخان)


"Menimpa kepada kita (kaum wanita) haid maka kita diperintahkan untuk mengqadla’ puasa dan tidak diperintahkan mengqadla’ shalat." (H.R. Asy Syaikhani)

Sedangkan hikmahnya diwajibkan mengqadla’ puasa adalah karena puasa Ramadlan itu hanya sebulan dalam setahun jadi tidak menyulitkan bagi para wanita dalam mengqadla’nya, dan seandainya shalat fardlu itu diwajibkan diqadla’ tentu akan menyulitkan dan memberatkan bagi wanita, sebab setiap hari jumlah raka’at shalat fardlu itu 17 raka’at. Maka, bayangkan berapa raka’at yang harus dikerjakan jika dia haid selama 6 atau 7 hari? Oleh karena itu, agama tidak akan menyulitkan mereka kaum wanita, dan agama Islam itu pada prinsipnya senantiasa memberikan kemudahan pada pengikutnya. Sebagaimana firman Allah SWT :

قَالَ الله تَعَالَى: وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ
(الحج : 78)

"Tidaklah Allah menjadikan untuk kalian di dalam agama (Islam) ini suatu kesulitan." (Q.S. Al Hajj : 78)



*C. Membaca AI-Qur’an*

Setiap wanita apabila dalam keadaan haid atau nifas diharamkan atasnya membaca Al-Qur’an, walaupun hanya sebagian ayat. Rasulullah ﷺ bersabda :

لاَ يَقْرَأُ الْجُنُبُ وَلاَ الْحَائِضُ مِنَ الْقُرْآنِ
(رواه أبو داود والترمذي)

"Dilarang orang yang junub dan wanita haid membaca sesuatu dari Al-Qur ‘an." (H.R. Abu Dawud dan Turmudzi)

Adapun jika seorang yang junub atau wanita haid atau nifas membaca dzikir atau wirid yang diambil dari Al-Qur’an bukan bermaksud membaca Al-Qur’an, maka hukumnya adalah boleh (mubah). Misalnya, seorang yang dalam keadaan junub atau wanita dalam masa haid atau nifas membaca do’a di bawah ini ketika akan mengendarai kendaraan :

سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ (الزخرف : 13)

Atau ketika terkena musibah dia membaca ayat di bawah ini :

إِنَّا للهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْن (البقرة : 152)

Dan juga boleh baginya membacanya dengan maksud membetulkan bacaan yang keliru atau menjawab pertanyaan dalam pelajaran dan lain sebagainya. Berbeda kalau dia membaca ayat Al-Qur’an tersebut di atas dengan maksud membaca Al-Qur’an atau dengan maksud kedua-duanya, yakni membaca Al Qur’an dan membaca wirid, maka hukumnya adalah haram.


*D. Menyentuh AI-Qur’an*



Bagi seseorang yang sedang junub, haid maupun nifas tidak diperkenankan (haram) menyentuh Al-Qur’an sesuai dengan firman Allah SWT :

لاَ يَمَسُّهُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُوْن (الواقعة : 79)

"Tidak menyentuhnya (Al-Qur’an) kecuali bagi orang-orang yang dalam keadaan suci." (Q.S. Al Waqi’ah : 79)

Akan tetapi jika membawanya dengan barang lainnya (seperti dalam koper ada Al-Qur’an dan lain-lain) maka hukumnya dapat diperinci sebagai berikut :
1. Jika bermaksud membawa Al-Qur’an saja atau bermaksud membawa Al-Qur’an dan barang maka hukumnya adalah haram. Begitu pula jika tidak bermaksud kedua-duanya.
2. Dan jika dengan maksud membawa barang saja, maka hukumnya adalah boleh (tidak haram).


*E. Berdiam di Masjid*



Apabila seorang wanita dalam keadaan haid atau nifas haram baginya duduk atau berdiam (beri’tikaf) di dalam masjid. Sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ :

لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ (رواه أبو داود)

"Tidak aku perbolehkan bagi wanita haid dan orang junub memasuki masjid." (H.R. Abu Daud)

Kecuali jika hanya menyeberanginya saja dan berkeyakinan darahnya tidak akan menetes di dalam masjid tersebut maka hukumnya adalah mubah (boleh) tapi makruh. Allah SWT berfirman :

إِلاَّ عَابِرِيْ سَبِيْلٍ (النساء : 43)

"Kecuali jika dia hendak menyeberanginya untuk jalan." (Q.S. AnNisa’ : 43)


*F. Thawaf*



Diharamkan wanita melaksanakan thawaf fardlu atau sunnah apabila dirinya dalam keadaan haid ataupun nifas. Sabda Rasulullah ﷺ :

إِفْعَلِيْ مَا فَعَلَ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوْفِيْ بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِيْ (رواه الشيخان)

"Kerjakanlah seperti apa yang dikerjakan orang haji kecuali thawaf, maka kerjakanlah apabila engkau telah suci." (H.R. Asy Syaikhani)


*G. Bersetubuh*



Bersetubuh dengan isteri yang sedang haid haram hukum¬nya walaupun dzakarnya dibungkus (pakai kondom). Allah SWT berfirman :

فَاعْتَزِلُوْا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيْضِ وَلاَ تَقْرَبُوْهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ
(البقرة : 222)

"Sebab itu hindarkanlah isteri-isterimu ketika dalam keadaan haid dan janganlah kamu bersetubuh dengannya sehingga mereka suci." (Q.S. Al Baqarah : 222)

Adapun hikmah Allah SWT melarang kepada laki-laki (suami) menggauli isteri pada saat haid adalah untuk melatih seorang suami agar sabar dan mampu menahan nafsu seksnya apabila pada suatu saat ia meninggalkan isterinya dalam jangka waktu yang lama. Dengan terbiasanya sang suami menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seks pada saat isteri dalam keadaan haid sudah barang tentu apabila dia (suami) pergi dalam jangka waktu yang lama dia tidak mungkin akan melakukan hubungan seks dengan wanita lain, karena sudah terbiasa sebelumnya, maka larangan ini merupakan rahmat dan penahan hasratnya.

Ilmu kedokteran mengatakan bahwa : “Bersetubuh di saat isteri haid merupakan salah satu penyebab utama terjadinya penyakit rahim (kandungan) dan juga menyebabkan wanita bisa mandul, jika dia terkena penyakit rahim, maka dia akan merasakan sakit yang tidak dapat ditahannya, suhu badannya akan bertambah naik, dan serta masih banyak komplikasi penyakit lainnya yang merupakan akibat dari penyakit pada rahim tadi.”

Sedangkan bahaya yang akan menimpa laki-laki yang paling pokok di antaranya adalah peradangan yang parah menimpa alat vitalnya, karena ada baksil yang menjalar ke dalam saluran kencing, dan yang paling berbahaya, apabila mengadakan hubungan kelamin di saat isteri haid dikhawatirkan anak yang akan dilahirkan terkena cacat (penyakit lepra). Apabila sang suami terlanjur menyetubuhi isterinya di saat haid atau nifas dan dia mengetahui bahwa hal itu haram hukumnya, maka dia telah melakukan dosa besar dan wajib bertaubat serta disunnahkan baginya mengeluarkan sedekah sebagai kafarahnya (hukumannya). Rasulullah ﷺ bersabda :

إِذَا وَاقَعَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ وَهِيَ حَائِضٌ إِنْ كَانَ الدَّمُ أَحْمَرَ فَلْيَتَصَدَّقْ بِدِيْنَارٍ وَإِنْ كَانَ أَصْفَرْ فَلْيَتَصَدَّقْ بِنِصْفِ دِيْنَارٍ
(رواه أبو داود والحاكم)

"Apabila sang suami mendatangi isterinya yang sedang haid maka hendaknya ia bersedekah sebanyak satu dinar, jika waktu itu darah yang keluar berwarna merah, dan setengah dinar jika darah yang keluar berwarna kuning." (H.R. Abu Daud dan Hakim)

Maksudnya adalah jika dia melakukan hubungan saat darah masih kuat (awal-awal haid), maka bersedekah dengan satu dinar (uang senilai emas 4,2 gram) dan jika melakukan hubungan saat darah mulai melemah (di akhir haid), maka sunnah bersedekah 1/2 dinar (uang senilai emas 2,1 gram).

*H. Bersenang-Senang Dengan Sesuatu (Bagian Badan) Yang Ada Di Antara Pusar dan Lutut*
Pada saat isteri haid atau nifas, seorang suami tidak diperbolehkan bersenang-senang dengan sesuatu pada bagian badan isterinya yang ada di antara pusar dan lutut karena dikhawatirkan seorang suami tidak mampu menahan nafsu seksualnya. Rasulullah ﷺ bersabda :

مَنْ حَامَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ (الفقه الميسر)

"Barang siapa berputar-putar di sekitar (mendekati) hal-hal yang terlarang maka ditakutkan akan terjerumus ke dalamnya." (Fiqhul Muyassar)


*I. Menthalaq Isteri*



Menthalaq isteri di waktu haid hukumnya haram, dan sun-nah baginya untuk meruju’nya sampai isterinya suci, dan setelah suci terserah suaminya mau menthalaq lagi atau tidak. Sebagaimana firman Allah SWT :

إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوْهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ (الطلاق : 1)

"Apabila kamu menceraikan isteri-isteri kamu, maka hendaklah kamu menceraikan merekapada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar)." (Q.S. Ath Thalaq : 1)

Adapun sebab dilarangnya menthalaq di waktu isteri haid, karena akan memperpanjang masa iddahnya, karena masa haid tidak dihitung termasuk dari masa iddahnya akan tetapi dihitung mulai setelah sucinya, kecuali di dalam 5 masalah di bawah ini, maka menthalaq istri di saat haid tidak haram :
1. Jika sang suami mengatakan padanya kamu aku talaq pada akhir haidmu atau bersamaan dengan akhir haidmu.
2. Jika istri yang dithalaq belum pernah disetubuhi, maka boleh menthalaqnya walaupun dalam keadaan haid, karena tidak mempunyai iddah.
3. Jika istri waktu terjadi thalaq sedang hamil dari suami, maka tidak haram menthalaqnya saat itu karena iddahnya akan selesai dengan melahirkan.
4. Jika thalaq sang suami thalaq khulu’, yaitu menthalaq istri dengan imbalan harta dari sang istri, misalnya istrinya mengatakan jika kamu thalaq aku, maka aku beri kamu sebuah mobil, lalu sang suami menthalaqnya, maka tidak haram jika terjadi pada waktu haid karena besarnya permintaan istri.
5. Jika terjadi perselisihan antara suami dan istri lalu berkumpullah utusan keluarga suami dan istri kemudian kedua belah pihak sepakat jalan keluarnya adalah bercerai, maka tidak haram walaupun terjadi saat istri haid.

Dan semua larangan yang telah disebutkan haram hukumnya atas wanita haid dan nifas sampai dia mandi besar, kecuali thalaq dan puasa maka boleh baginya walaupun sebelum mandi besar.


*Hukum Wanita Haid dan Nifas dalam Haji*



Wanita haid dan nifas dalam masa haji tidak terlepas dari tiga keadaan :
1. Wanita yang mengeluarkan darah haid setelah mengerjakan Thawaf Ifadlah,jika hal itu terjadi maka dianggap selesai pekerjaan hajinya, karena selain thawaf tidak disyaratkan thaharah (suci dari hadats). Adapun Thawaf Wada’ jika dia belum suci setelah melewati bangunan Makkah ketika akan pulang ke negaranya, maka gugurlah kewajiban Thawaf Wada’.
2. Wanita yang mengeluarkan darah haid sebelum mengerjakan Thawaf Ifadlah, maka yang wajib dia lakukan adalah bersabar hingga suci untuk melakukan thawaf. Jika tidak memungkinkan baginya tinggal di Makkah karena rombongannya akan berangkat, atau karena tidak ada yang menemaninya, maka hendaknya dia pergi ke suatu tempat di luar Mak¬kah yang tidak memungkinkan untuk kembali ke Makkah, kemudian dia bertahallul dengan Tahallul Ihshar yaitu dengan menyembelih kambing dan bergunting dengan niat ta¬hallul. Lalu jika haji yang dilakukan adalah haji fardlu, maka wajib melakukannya di masa yang akan datang, tetapi jika hajinya adalah haji sunnah, maka tidak wajib mengulanginya.
3. Wanita yang haid yang berihram Haji Tamattu’, jika dia suci sebelum wuquf, maka dia harus melakukan Umroh terlebih dahulu kemudian berihram haji, tetapi jika belum suci sampai datang waktu wuquf, maka dia masukkan ihram haji ke dalam ihram umrahnya, berarti dia melaksanakan Haji Qiran.


*Hukum Puasa bagi Wanita Haid dan Nifas*



Bagi wanita haid dan nifas haram hukumnya berpuasa, dan jika darahnya keluar saat berpuasa, maka batallah puasanya namun wajib mengqadla’nya sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim :

كَانَ يُصِيْبُنَا -أَيْ الْخَيْضُ- فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ (رواه الشيخان)

"Di zaman Rasulullah ﷺ kami mengalami haid dan kami dipe-rintah untuk mengqadla’ puasa dan tidak diperintah untuk mengqadla’ shalat." (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dan jika darahnya berhenti di siang Ramadlan maka sunnah baginya untuk imsak sampai maghrib. Hikmah syara’ melarang wanita haid dan nifas untuk berpuasa, karena mengeluarkan darah haid dan nifas dapat melemahkan badan, sedangkan berpuasa juga melemahkan badan, maka berkumpullah dua hal yang melemahkan badan, maka dilaranglah berpuasa atas wanita haid dan nifas. Dan hikmah diwajibkannya mengqadla’ puasa dan tidak wajib mengqadla’ shalat karena ibadah puasa jumlahnya sedikit, lain halnya dengan shalat.

Doa Setelah Adzan dan Iqomah



*Doa Setelah Adzan*


اللهم رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ اَلتَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ سَيِّدنَـَامُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَالدَّرَجَةَ الرَّفِيْعَةَ وَابْعَثْهُ الْمَقَامَ المَحْمُودَ الَّذِيْ وَعَدْتَهُ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيْعَاد

Allâhumma Rabba hâdzihid-da‘wati at-tâmmati, wash-shalâtil-qâimati, âti sayyidanâ Muhammad al-washilah wal fadlîlah, wad-darajatar rafî’ah wab’atshu maqâman mahmûdan alladzî wa’adtah, innaka lâ tukhliful-mî‘âd

“Ya Allah Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna dan shalat yang tetap didirikan, kurniailah Nabi Muhammad wasilah (tempat yang luhur) dan kelebihan serta kemuliaan dan derajat yang tinggi dan tempatkanlah dia pada kependudukan yang terpuji yang telah Engkau janjikan, sesungguhnya Engkau tiada menyalahi janji, wahai dzat yang paling Penyayang.”



*Doa Setelah Iqomah*


أَقَامَهَا وَأَدَامَهَا مَا دَامَتِ السَّموَاتِ وَالأَرْضِ وَجَعَلَنِيْ مِنْ صَالِحِي أَهْلِهَا


Aqoomahallaahu wa adaamahaa maadamatis samaawaatu wal ardi waja'alani min shoolihii ahliha.


“Semoga Allah selalu menegakkan dan mengekalkan adanya shalat selama langit dan bumi masih ada. Dan semoga Allah menjadikan aku termasuk orang yang benar-benar melaksanakannya.”

Menghadirkan 40 Niat Sekaligus Dalam Tilawah Qur'an

Bismillaah....


Jazakumullah khairan telah mengingatkan saya dgn Suplemen tambahan dari Syeikh Shalabi :

كثير من إخواننا المسلمين لا يقرأ القرءان إلا بقصد الثواب والأجر وقصر علمه عن عظيم نفع القرءان وأنه كلما قرأ القرءان بنية نال فضلها كما قال النبي ﷺ إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل أمريء ما نوى..الحديث.

Banyak diantara saudara2 kita kaum muslimin, dia tidak membaca Al-Qur'an kecuali dengan maksud untuk mendapatkan pahala dan ganjaran dikarenakan minimnya pengetahuan mereka tentang betapa besarnya manfaat dari Al-Qur'an.

Sesungguhnya setiap kali seseorang membaca Al-Qur'an dengan niat tertentu, maka akan mengalir keutamaannya. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam:

"Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya amal perbuatan seseorang tergantung pada niatnya."(al-hadits).

فالقرءان منهج حياة والنية تجارة العلماء فمن هذا المبدأ والمنطلق أردت أن أذكر نفسي وإخواني ببعض النوايا عند القراءة ومنها:

Al-Qur'an adalah pedoman hidup, dan niat adalah transaksinya orang  berilmu. Dengan landasan dan titik tolak ini, saya ingin mengingatkan diri sendiri dan saudara2ku dengan berbagai niat yg dapat dihadirkan ketika kita membaca Al-Qur'an, diantaranya:

١ اقرأ القرآن لأجل العلم والعمل به.

1. Saya membaca Al-Qur'an, demi mengetahui dan mengamalkan isinya.

اقرأ القرآن بقصد الهداية من الله٢

2. Saya membaca Al-Qur'an, dengan tujuan mendapatkan hidayah dari Allah Ta'ala.

٣. اقرأ القرآن بقصد مناجاة الله تعالى

3. Saya membaca Al-Qur'an, dengan tujuan bermunajat kepada Allah.

٤.اقرأ القرآن بقصد الإستشفاء به من الأمراض الظاهرة والباطنة.

4. Saya membaca Al-Qur'an, dengan tujuan mengobati penyakit2 lahir dan batin dengan Al-Qur'an.

٥. اقرأ القرآن بقصد أن يخرجنى الله من الظلمات إلي النور.

5. Saya membaca Al-Qur'an, tujuan agar Allah Ta'ala mengeluarkanku dari kegelapan menuju cahaya.

6- اقرأ القرآن لأنه علاج لقسوة القلب فيه طمأنينة القلب
 وحياة القلب وعمارة القلب.

6. Saya membaca Al-Qur'an, karena ia adalah pengobatan bagi hati yg keras. Dalam membacanya terdapat ketenangan hati, hidupnya hati dan kokohnya bangunan hati.

7- اقرأ القرآن بقصد أن القرآن مأدبة الله تعالى.

7. Saya membaca Al-Qur'an, dengan tujuan karena Al-Qur'an merupakan jamuan Allah Ta'ala.

8- اقرأ القرآن حتى لا أكتب من الغافلين وأكون من الذاكرين.

8. Saya membaca Al-Qur'an, sehingga saya tidak tercatat sebagai orang2 yg lalai dan saya termasuk orang2 yg berdzikir

9- اقرأ القرآن بقصد زيادة اليقين والإيمان بالله.

9. Saya membaca Al-Qur'an, dengan tujuan menambah iman dan keyakinan kepada Allah Ta'ala

10- اقرأ القرآن بقصد الإمتثال لأمر الله تعالي بالترتيل.

10. Saya membaca Al-Qur'an, dengan tujuan memenuhi perintah Allah dengan tertib

11- اقرأ القرآن للثواب حتى يكون لى بكل حرف 10 حسنات والله يضاعف لمن يشاء.

11. Saya membaca Al-Qur'an, untuk mendapatkan pahala sehingga saya bisa meraih 10 kebaikan dari setiap huruf dan Allah akan melipat gandakannya kepada siapa saja yg Dia kehendaki

12- اقرأ القرآن حتى أن أنال شفاعة القرآن الكريم يوم القيامة.

12. Saya membaca Al-Qur'an, hingga saya mendapatkan syafa'at Al-Qur'anul Karim di hari kiamat kelak

13- اقرأ القرآن بقصد إتباع وصية النبى ﷺ.

13. Saya membaca Al-Qur'an, dengan tujuan mengikuti wasiat Nabi shallallahu 'alihi wa sallam

14- اقرأ القرآن حتى يرفعنى الله به ويرفع به الأمة.

14. Saya membaca Al-Qur'an, hingga Allah meninggikan derajat saya dan dengannya derajat umat ini juga menjadi tinggi

15- اقرأ القرآن حتى أرتقي في درجات الجنة وألبس تاج الوقار ويكسي والداى بحلتين لا يقوم لهما الدنيا.

15. Saya membaca Al-Qur'an, hingga saya naik -layak- mendapat derajat surga dan saya memakai mahkota dan memakaikan pakaian kebesaran kepada kedua orang tua saya yang tidak pernah mereka dapatkan pakaian itu didunia.

16- اقرأ القرآن بقصد التقرب إلي الله بكلامه.

16. Saya membaca Al-Qur'an, dengan tujuan taqarrub mepada Allah melalui kalamNya

17- اقرأ القرآن حتى أكون من أهل الله وخاصته.

17. Saya membaca Al-Qur'an, hingga saya menjadi ahlullah wa khassatihi (keluarga Allah dan mereka yg dekat dengan Allah, pent)

18- اقرأ القرآن بقصد أن الماهر بالقرآن مع السفرة الكرام البررة.

18. Saya membaca Al-Qur'an, dengan tujuan bahwa orang yang mahir membaca Al-Qur'an akan bersama malaikat safaratil kiramim bararah

19- اقرأ القرآن بقصد النجاة من النار ومن عذاب الله.

19. Saya membaca Al-Qur'an, dengan tujuan agar selamat dari api neraka dan adzab Allah

20- اقرأ القرآن حتى أكون في معية الله تعالي.

20. Saya membaca Al-Qur'an, hingga saya berada dalam maiyyatullah (kebersamaan dengan Allah)

21- اقرأ القرآن حتى لا أرد إل أرذل العمر.

21. Saya membaca Al-Qur'an, hingga saya tidak menjadi orang yg hina sehina-hinanya

22- اقرأ القرآن حتى يكون حجة لى لا علىّ.

22. Saya membaca Al-Qur'an, sehingga ia menjadi pembela saya bukan yg menuntut/mencelakakan saya

23- اقرأ القرآن بقصد أن النظر في المصحف عبادة.

23. Saya membaca Al-Qur'an, dengan tujuan bahwa memandang mushaf adalah ibadah

24- اقرأ القرآن حتى تنزل علىّ السكينة وتغشانى الرحمة ويذكرنى الله فيمن عنده.

24. Saya membaca Al-Qur'an, hingga turun kepada saya ketenangan, dan saya diliputi rahmat dan Allah mengingat saya sebagai orang yg berada bersamaNya

25- اقرأ القرآن بقصد الحصول على الخيرية والفضل عند الله.

25. Saya membaca Al-Qur'an, dengan tujuan mendapatkan kebaikan dan keutamaan disisi Allah Ta'ala

26- اقرأ القرآن حتى يكون ريحي طيب.

26. Saya membaca Al-Qur'an, hingga saya mendapatkan keuntungan yg baik

27- اقرأ القرآن حتى لا أضل في الدنيا ولا أشقي في الآخرة.

27. Saya membaca Al-Qur'an, hingga saya tidak tersesat di dunia dan tidak sengsara di akhirat

28- اقرأ القرآن لأن الله يجلى به الأحزان ويذهب به الهموم والغموم.

28. Saya membaca Al-Qur'an, karena dengannya Allah mengangkat kesedihan2 serta menghilangkan resah dan gelisah

29- اقرأ القرآن ليكون أنيسي في قبري ونور لي علي الصراط وهادياً لي في الدنيا وسائقاً لي إلى الجنة.

29. Saya membaca Al-Qur'an, agar dia menjadi teman dekat saya di dalam kubur, dan cahaya bagi saya diatas jalan kehidupan, menjadi petunjuk bagi saya di dunia dan penuntun menuju surga

30- اقرأ القرآن ليربينى الله ويؤدبنى بالأخلاق التي تحلى بها الرسول ﷺ.

30. Saya membaca Al-Qur'an, agar Allah mendidik saya, menta'dib dengan akhlak yang menjadi hiasan diri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

31- اقرأ القرآن لأشغل نفسي بالحق حتى لا تشغلني بالباطل.

31. Saya membaca Al-Qur'an, agar jiwa saya sibuk dengan kebenaran sehingga kebatilan tidak menyibukan saya

32- اقرأ القرآن لمجاهدة النفس والشيطان والهوى.

32. Saya membaca Al-Qur'an, untuk menempa diri, melawan setan dan hawa nafsu

33- اقرأ القرآن ليجعل الله بينى وبين الكافرين حجاباً مستوراً يوم القيامة.

33. Saya membaca Al-Qur'an, agar Allah menjadikan penghalang sebagai penutup antara saya dengan orang kafir di hari akhir kelak

٣٤- اقرأ القرآن ثم ابلغ منه ولو آية كما امرنا بذالك الحبيب المصطفى

34. Saya membaca Al-Qur'an, kemudian menyampaikannya walau hanya satu ayat sebagaimana diperintahkan oleh  Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

٣٥-اقرأ القرآن لأدعو امتى للعمل به وبأحكامه

35. Saya membaca Al-Qur'an, agar saya berdakwah kepada umat untuk mengamalkan isi dan hukum2nya

٣٦-أقرأ القرآن لتزداد معرفتى بدينى

36. Saya membaca Al-Qur'an, agar bertambah pengetahuan tentang agama saya

٣٧-اقرأ القرآن حتى اشعر بأن الله يكلمني

37. Saya membaca Al-Qur'an, hingga saya merasa bahwa Allah sedang berbicara kepada saya

٣٨-أقرأ القرآن لأعرف منه احوال الامم السابقة

38. Saya membaca Al-Qur'an, agar saya tahu darinya kondisi umat2 terdahulu

٣٩-أقرأ القرآن لأقبل مأدبة الله

39. Saya membaca Al-Qur'an, untuk menerima jamuan dari Allah Ta'ala

٤٠-أقرأ القرآن لانه لا يخلق من كثرة الرد

40. Saya membaca Al-Qur'an, karena ia tidak akan usang jk banyak diulang-ulang.

فهيا لنكون من أهل القرآن، وهذه هي التجارة مع الله المضمونة الرابحة والتي يعطى الله عليها من فضله الكريم وعطائه الذي لا ينفد.

Marilah kita menjadi ahlul Qur'an. Dan ini adalah bisnis kita dengan Allah yang mencakup keuntungan yang Allah berikan karena keutamannya yg mulia dan pemberiannya yang  tidak pernah meleset.

Petikan Kajian dari Ust. Khoirul Muttaqien


Manaqib Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawwa, Sang Raja Qalbu

Sanad guru jauh lebih kuat...

Hingga kini kita Ahlussunnah Wal Jama’ah lebih berpegang kepada silsilah guru (yaitu ia mempunyai riwayat guru-guru yang bersambung hingga Rasul ﷺ dan kau betul-betul mengetahui bahwa ia benar-benar memanut gurunya). kita berpedoman kepada guru-guru yang bersambung sanadnya kepada Nabi ﷺ ataupun kita berpegang pada buku yang penulisnya mempunyai sanad guru hingga Nabi ﷺ. Ia (sanad guru) adalah bagai rantai emas terkuat yang tak bisa diputus di dunia dan akhirat, jika bergerak satu mata rantai maka bergerak seluruh mata rantai hingga ujungnya, yaitu Rasulullah ﷺ.

Habib Munzir bin Fuad Al-Musawwa lahir di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, pada hari Jum’at, 23 Februari 1973, bertepatan dengan tanggal 19 Muharram 1393 H. Usai menyelesaikan sekolah lanjutan tingkat atas, ia mulai mendalami ilmu ilmu syari’ah Islam, diantaranya di Pesantren Al-Kifahi Ats-Tsaqafi, Bukit Duri, Jakarta Selatan, mengambil kursus bahasa Arab di LPBA As-Salafi, Kebon Nanas, Jakarta Timur, kemudian mondok lagi di Pesantren Al-Khairat, Bekasi Timur.
Saat di pesantren Al-Khairat itulah pertama kalinya ia bertemu Habib Umar bin Hafidz, guru utamanya dikemudian hari. Kepada sang guru, ia menekuni pelajaran selama empat tahun, yaitu di Ma’had Darul Mushthafa, Tarim, Hadhramaut, Yaman Selatan.

*Mau Jadi Apa?*

Semasa kecil, ia seorang anak yang sangat dimanja oleh ayahnya. Ia pun sampai merasa bahwa sang ayah lebih memanjakannya lebih dari anaknya yang lain. Namun, beranjak remaja, justru sang anak kesayangan ini yang putus sekolah, sementara kakak-kakaknya dapat melanjutkan pendidikannya hingga sampai wisuda. Orangtuanya bangga pada mereka, tapi, sebagaimana yang sempat dituturkannya sendiri, mereka kecewa kepadanya. “Karena saya malas sekolah...,” kisahnya suatu ketika.

Namun demikian, ia rajin menghadiri majelis majelis ilmu. Disamping itu, ia juga menghabiskan waktu di hari hari mudanya dengan bersholawat seribu kali siang dan malam, berdzikir beberapa beribu kali, menjalankan puasa Nabi Daud ‘Alaihis Salam, dan sholat malam berjam-jam. “(Tapi) Saya pengangguran, dan sangat membuat ayah bunda malu,” ujarnya.

“Almarhum Ayah sangat malu. Beliau mumpuni dalam agama dan mumpuni dalam kesuksesan dunia. Beliau berkata pada saya, ‘Kau ini mau jadi apa? Jika mau agama, belajarlah dan tuntutlah ilmu sampai ke luar negeri. Jika ingin meneladani ilmu dunia, tuntutlah sampai ke luar negeri…’
Namun saya sangat mengecewakan ayah bunda. Boleh dikata, saya ini dunia tidak, akhirat pun tidak,” katanya.

Ketika ayahnya pensiun, ibundanya membangun losmen kecil di depan rumah, yang hanya menyediakan lima kamar dan hanya disewakan pada orang yang baik-baik, untuk biaya nafkah keluarga, dan ketika itu ia menjadi pelayan losmen milik ibundanya tersebut.
Setiap malam ia jarang tidur. Ia banyak termenung di kursi resepsionis yang hanya berupa meja kecil dan kursi kecil mirip di pos satpam, sambil menanti tamu. Sambil menunggu losmen, ia habiskan malam-malamnya itu dengan bertafakkur, merenung, berdzikir, menangis, dan sholat malam. Sebagai pelayan losmen, tugasnya adalah menerima tamu, memasang seprai, menyapu kamar, membersihkan toilet, membawakan makanan dan minuman pesanan tamu, seperti teh, kopi, air putih, atau nasi goreng buatan sang bunda, jika tamu memesannya.
Sampai ketika semua kakaknya lulus sarjana, ia tergugah untuk mondok di Pesantren Al-Kifahi Al-Tsaqafi, asuhan Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf, Bukit Duri, Jakarta Selatan, dan juga belajar di Ats-Tsaqafah Al-Islamiyah. Namun disana ia hanya sampai sekitar dua bulan, karena sering sakit sakitan. Penyakit lamanya, yaitu asma, sering kambuh.

“Ayah makin malu, bunda pun makin sedih...” ujar Habib Munzir mengenang masa masa itu. “Lalu saya ambil saja kursus bahasa Arab di As-Salafi, pimpinan Habib Bagir Al-Attas.” Ia pun harus pulang pergi Jakarta Cipanas, yang saat itu ditempuh dalam dua-tiga jam, dengan ongkos sendiri, dua kali dalam sepekan. Ongkos perjalanan adalah hasil dari pekerjaannya di losmen tersebut.

*Berjumpa Guru Mulia*



Ia juga selalu menyempatkan diri hadir di Majelis Maulid Nabi ﷺ ditempat Habib Umar bin Hud Al-Attas, yang saat itu di Cipayung. Jika tak ada ongkos, ia menumpang truk. Karenanya, sering kali ia sampai harus berhujan-hujanan. Tak jarang ia datang ke Majelis Maulid malam Jum’at itu dalam keadaan basah kuyup, sampai sampai ia pernah diusir oleh penjaga di rumah Habib Umar bin Hud, “Karena karpet tebal dan mahal itu sangat bersih, tak pantas saya yang kotor dan basah menginjaknya. Saya terpaksa berdiri saja berteduh dibawah pohon sampai hujan berhenti dan tamu tamu berdatangan. Saya duduk di luar teras saja, karena baju basah dan takut dihardik sang penjaga,” ujar Habib Munzir dalam salah satu tulisannya.

Ia sering pula berziarah ke Luar Batang, makam Habib Husein bin Abu Bakar Al-Aydrus. Suatu ketika ia datang kesana dan lupa membawa kopiah, karena datang langsung dari Cipanas. “Ya Allâh, aku datang sebagai tamu seorang wali-Mu. Tak beradab jika aku masuk ziarah tanpa berkopiah, tapi uangku pas-pasan, dan aku lapar. Kalau beli kopiah, aku tak makan, dan ongkos pulangku kurang,” demikian hatinya mengucap saat itu.

Akhirnya ia memutuskan membeli kopiah. Pilihannya yang berwarna hijau, karena itu yang termurah saat itu di emperan penjual kopiah. Usai membelinya dan masuk berziarah, sambil membaca Ya-Sin untuk dihadiahkan kepada Shahibul Maqam, ia menangisi kehidupannya yang penuh dengan ketidakmenentuan, mengecewakan orangtua, sering menghindar dari lingkungan yang terkadang mencemoohnya, “Kakak kakakmu semua sukses, ayahmu lulusan Makkah dan juga New York University. Kok anaknya centeng losmen...”

Dalam tangisan itu, hatinya kembali berucap, “Wahai Wali Allah, aku tamumu, aku membeli peci untuk beradab padamu, hamba yang shalih di sisi Allâh, pastilah kau dermawan dan memuliakan tamu, aku lapar dan tak cukup ongkos pulang.”

Saat itu, tiba tiba datang serombongan kawannya di pesantren Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf. Tampak mereka senang berjumpa dengannya. Ia pun ditraktir makan. “Saya langsung teringat, ini berkah saya beradab di makam wali Allâh,” ujarnya.

Ia pun ditanya, dengan siapa dan mau kemana, ia katakan bahwa ia sendiri dan mau pulang ke kerabat ibunya di bilangan Pasar Sawo, Kebon Nanas. Mereka berkata, “Ayo bareng saja, kami antar sampai Kebon Nanas.” Ia semakin bersyukur kepada Allâh, karena memang ongkosnya tak ‘kan cukup jika pulang ke Cipanas. Hari sudah larut malam ketika ia sampai di kediaman bibi dari ibunya. Keesokan harinya ia diberi uang cukup untuk pulang ke Cipanas.

Tak lama dari kejadian itu, ia masuk Pesantren Al-Khairat, asuhan Habib Nagib bin Syaikh Abu Bakar, di Bekasi Timur. Di pesantren itu, setiap kali majelis pembacaan Maulid Nabi digelar dan saat Mahallul Qiyam dibacakan, ia menangis. Ia berdoa kepada Allâh bahwa ia rindu pada Rasulullah ﷺ. Ia pun ingin dipertemukan dengan guru yang paling dicintai Rasul ﷺ.

Dalam beberapa bulan saja setelah ia mondok disana, tibalah Habib Umar bin Hafidz ke pondok itu. Itu adalah kunjungan pertama Habib Umar ke Indonesia, yaitu pada tahun 1994. Pertemuannya dengan Habib Umar membawa hikmah yang luar biasa, yang kemudian membawa langkah kakinya menuju negeri leluhurnya, Tarim, Hadhramaut, Yaman Selatan, tempat Habib Umar membina ma’hadnya, Darul Mushthafa.

Selepas Habib Umar menyampaikan ceramah, Beliau melirik saya dg tajam.., saya hanya menangis memandangi wajah sejuk itu.., lalu saat Beliau sudah naik ke mobil bersama almarhum Al-Habib Umar Maula Khela, maka Guru Mulia memanggil Habib Nagib Bin Syaikh Abu Bakar, Guru Mulia berkata bahwa Beliau ingin saya dikirim ke Tarim Hadramaut Yaman untuk belajar dan menjadi murid beliau.

Guru saya, Habib Nagib bin syaikh Abu Bakar mengatakan bahwa saya sangat belum siap, belum bisa bahasa Arab, murid baru dan belum tahu apa-apa, mungkin beliau salah pilih..?, Maka Guru Mulia menunjuk saya, “Itu.. Anak muda yang pakai peci hijau itu..! Itu yg saya inginkan.” Maka Guru saya Habib Nagib memanggil saya untuk jumpa Beliau, lalu Guru Mulia bertanya dari dalam mobil yg pintunya masih terbuka, “Siapa namamu (dalam bahasa arab tentunya)?” Saya tak bisa menjawab karena tak faham, maka guru saya Habib Nagib menjawab, “Kau ditanya siapa namamu..!” Maka saya jawab nama saya, lalu Guru Mulia tersenyum.

Keesokan harinya saya jumpa lagi dengan Guru Mulia di kediaman Almarhum Habib Bagir Al-Attas, saat itu banyak para Habaib dan ulama mengajukan anaknya dan muridnya untuk bisa menjadi murid Guru Mulia, maka Guru Mulia mengangguk-angguk sambil kebingungan menghadapi serbuan mereka, lalu Guru Mulia melihat saya dikejauhan, lalu Beliau berkata pada Almarhum Habib Umar Maula Khela, “Itu.. Anak itu.. Jangan lupa dicatat.., Ia yg pakai peci hijau itu..!”

Guru Mulia kembali ke Yaman, sayapun langsung ditegur guru saya Habib Nagib bin Syaikh Abu Bakar, seraya berkata, “Wahai Munzir, kau harus siap-siap dan bersungguh-sungguh, Kau sudah diminta berangkat, dan Kau tak akan berangkat sebelum siap.”

Dua bulan kemudian datanglah Almarhum Al-Habib Umar Maula Khela ke pesantren, dan menanyakan saya, Almarhum Habib Umar Maula Khela berkata pada Habib Nagib, “Mana itu Munzir anaknya Habib Fuad Al-Musawwa? Dia harus berangkat minggu ini, saya ditugasi untuk memberangkatkannya.” Maka Habib Nagib berkata bahwa saya belum siap, namun Almarhum Habib Umar Maula Khela dengan tegas menjawab, “Saya tidak mau tahu, namanya sudah tercantum untuk harus berangkat, ini pernintaan AL-Habib Umar bin Hafidz, ia harus berangkat dalam dua minggu ini bersama rombongan pertama.”

Saya persiapkan pasport dan lain-lain, namun ayah saya keberatan, ia berkata, “Kau sakit-sakitan, kalau kau ke Mekkah ayah tenang, karena banyak teman disana, namun ke Hadramaut itu ayah tak ada kenalan, di sana negeri tandus, bagaimana kalau kau sakit?, siapa yang menjaminmu?”

Saya pun datang mengadu kepada Almarhum Al-‘Arifbillah Al-Habib Umar bin Hud Al-Attas, beliau sudah sangat sepuh, dan beliau berkata, “Katakan pada ayahmu, saya yang menjaminmu, berangkatlah!”

Saya katakan pesan Al-Habib Umar bin Hud Al-Attas pada ayah saya, maka ayah saya diam, namun hatinya tetap berat untuk mengizinkan saya berangkat, saat saya mesti berangkat ke bandara, ayah saya tak mau melihat wajah saya, beliau buang muka dan hanya memberikan tangannya tanpa mau melihat wajah saya, saya kecewa namun saya dengan berat tetap melangkah ke mobil travel yang akan saya naiki, namun saat saya akan naik, terasa ingin berpaling ke belakang, saya lihat nun jauh disana ayah saya berdiri dipagar rumah dengan tangis melihat keberangkatan saya, Beliau melambaikan tangan tanda ridho, rupanya bukan beliau tidak ridho, tapi karena saya sangat disayanginya dan dimanjakannya, beliau berat berpisah dg saya, saya berangkat dg air mata sedih.

Dua tahun di Yaman ayah saya sakit, dan dalam telepon, beliau berkata, “Kapan kau pulang wahai anakku..?, Aku rindu..?”
Saya jawab, “Dua tahun lagi insya Allah ayah.”

Ayah menjawab dengan sedih di telepon, “Duh.. Masih lama sekali,” telepon ditutup, dan 3 hari kemudian ayah saya wafat. Saya menangis sedih, sungguh kalau saya tahu bahwa saat saya pamitan itu adalah terakhir kali jumpa dengan beliau.. Dan beliau buang muka saat saya mencium tangan beliau, namun beliau rupanya masih mengikuti saya, keluar dari kamar, keluar dari rumah, dan berdiri di pintu pagar halaman rumah sambil melambaikan tangan sambil mengalirkan air mata.. Duhai, kalau saya tahu itulah terakhir kali saya melihat Beliau... Rahimahullah...

*Adab kepada Guru*



Singkat kisah, sesampainya di Tarim, yaitu di kediaman Habib Umar, sang guru mengabsen semua nama yang ikut dalam rombongan bersamanya saat itu. Ketika sampai pada namanya yang dipanggil, sesaat Habib Umar memandangnya, lalu tersenyum indah.

Tak lama setelah kedatangan mereka, yang merupakan generasi pertama santri Darul Musthafa, pecahlah perang antara Yaman Utara dan Yaman Selatan. Pasokan makanan berkurang, makanan sulit, listrik mati, mereka pun harus berjalan kaki ke mana mana dan menempuh jalan sekitar tiga-empat kilometer untuk aktivitas ta’lim. Biasanya, menggunakan mobil milik Habib Umar, namun dimasa perang pasokan bensin sangat tidak memadai.

Suatu hari Habib Umar bin Hafidz menatapnya dan kemudian berkata kepadanya, “Namamu ‘Munzir’ – pemberi peringatan.”
Ia mengangguk.
Lalu sang guru berkata lagi kepadanya, “Kelak, kau akan memberi peringatan pada jama’ahmu.”
Ia termenung.
Setelah kejadian itu, sering kali terngiang ucapan sang guru itu, “Kelak, kau akan memberi peringatan pada jama’ahmu.”
“Saya akan punya jama’ah? Saya miskin begini, bahkan untuk mencuci baju pun tak punya uang untuk beli sabun cuci,” Kisah Habib Munzir suatu ketika.

Pernah ia ingin mencucikan baju salah seorang temannya agar mendapat upah mendapat bagian sabun cucinya. Sayangnya, ia malah mendapat hardikan, “Cucianmu tidak bersih, orang lain saja yang mencuci baju ini.” Ia pun terpaksa mencuci dengan menggunakan air bekas mengalirnya air cucian mereka. Air sabun bekas cucian yang mengalir itulah yang ia gunakan untuk mencuci bajunya.

Hari demi hari Habib Umar semakin sibuk. Ia memilih untuk banyak berkhidmat pada sang guru. Ia pun lebih memilih membantu segala permasalahan santri, makanan mereka, minuman mereka, tempat menginap dan segala masalah rumah tangga santri, sampai harus meninggalkan pelajaran demi bakti pada sang guru. Rupanya, itu adalah kiatnya untuk lebih sering berjumpa dengan gurunya tersebut.

Ia turut membersihkan rumah sang guru, membantu membawakan sandalnya, terus berdekatan dengannya agar jika sang guru perlu sesuatu ia menjadi budaknya (demikian Habib Munzir menyebutnya sendiri) yang paling dekat yang siap diperintah. Ia terus menempel pada gurunya, sampai sang guru masuk ke rumahnya larut malam. Dan sebelum sang guru keluar menuju sholat Shubuh di masjid, ia sudah berdiri mematung di depan pintu sang guru dengan penuh kerinduan, atau sambil duduk. Begitu sang guru keluar, ia segera menyalami nya dan menjadi pengiringnya sampai masjid. Demikian aktivitasnya sebagai santri yang paling sering ia lakukan.

Suatu ketika, Habib Umar sudah selesai menerima tamu tamunya di waktu dhuha. Ia ikut sholat dhuha bersama gurunya, tapi dengan lebih mempercepat, kemudian segera duduk lagi tak jauh dari duduknya Habib Umar. Habib Umar pun paham, ia akan tetap disana sebelum sang guru masuk rumah.
Ketika itu Habib Umar menoleh kepadanya, “Apa yang sedang kau dambakan?”
Kepalanya menunduk, lalu berkata, “Ridho mu, Tuan Guru.”
Habib Umar kemudian mengangkat kedua tangannya ke langit dan menengadahkannya. Lalu sang guru tersenyum, kemudian masuk ke dalam rumahnya.

Tahun 1998, ia dan kawan kawannya, generasi pertama santri Darul Musthafa, kembali ke tanah air. Di negeri kelahirannya ini, ia membangun rintisan dakwahnya dari nol, hingga akhirnya berkibarlah bendera Majelis Rasulullah ﷺ, sebagai salah satu syiar majelis kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah, yang banyak membawa kebaikan, khususnya bagi para pemuda dan pemudi Islam Ibu Kota Jakarta.

*Ujian Fisik*

Banyak ujian fisik dihadapi Habib Munzir dimasa masa awal membangun Majelis Rasulullah ﷺ maupun di masa masa kemudiannya saat ia mengarungi medan dakwah yang begitu luas, bahkan hingga akhir hayatnya. Perjuangan yang harus dihadapinya tidaklah mudah.

Di masa masa awal itu, suatu ketika, saat ia tengah dalam perjalanan ke sebuah tempat, penyakit asma yang dideritanya kambuh. Padahal disakunya tidak ada uang meski hanya sepeser. Ia mencoba mengetuk pintu rumah seseorang yang dikenalnya. Ternyata rumah tersebut kosong, padahal asmanya semakin berat. Untuk minum obat yang ia miliki jelas tidak mungkin, karena perutnya masih kosong.
Dengan hati berat, Habib Munzir meninggalkan rumah tersebut. Distopnya sebuah taksi yang kebetulan lewat di dekatnya. Tujuannya ke rumah seorang kerabat yang ia kenal. Ia nekat menumpang taksi, karena serangan asma yang dirasakannya semakin parah. Sedangkan masalah ongkos taksi, ia berharap akan dibayar teman yang tengah ditujunya itu. Ditengah perjalanan, saking beratnya serangan penyakit tersebut, ia pingsan. Atas kehendak Allâh, hati pengemudi taksi itu terbuka. Sang pengemudi membawanya ke rumah sakit.
Sampai disana, ia setengah sadar. Ia takjub, karena dirinya langsung mendapatkan penanganan, padahal saat itu ia tengah khawatir dengan biaya yang bakal ditanggungnya.
“Allâh benar benar telah menggerakkan hati hamba-Nya. Sampai saya keluar rumah sakit, biaya yang digunakan untuk pengobatan tersebut sudah ada yang menanggungnya.” kata Habib Munzir tanpa menyebutkan siapa yang membiayai pengobatan itu.

_“Adik saya itu sejak kecil punya asma kronis. Seminggu bisa terserang tiga hingga empat kali, dan itu parah,” ujar Habib Nabiel, kakaknya._

Ketika asma Habib Munzir kambuh, kakaknya itu sering melihat adiknya tak bisa berbicara, mukanya pucat, berkeringat, dan tak bisa makan. Namun sang adik sangat sabar serta tak pernah mengeluh. “Beliau memang sejak dari kecil diberikan cobaan. Dengan kondisi seperti itu tentu berat,” Ujar Habib Nabiel.

Saat remaja, kata Habib Nabiel, adiknya memilih masuk pondok, bukan ke sekolah umum SMA. Pada suatu saat, adiknya mengalami sakit di pondok. Namun ia tak pernah memberi tahu ke keluarga. Memang, jika masuk rumah sakit, ia tak pernah memberi tahu.

“Saat dia sakit, nggak mau memberi tahu kami. Pernah dia tiba tiba pulang diantar orang pesantren dengan koreng di badannya. Dia katanya nggak mau merepotkan keluarga,” kenang Habib Nabiel.

Menurut kakak sulungnya itu, Habib Munzir tipe orang yang tak mau mengeluh dan tak mau merepotkan keluarga. Rasa sakit yang dialaminya hanya dipendam sendiri. “Dia tak ingin keluarganya sedih.” ujarnya. Penyakit Habib Munzir bertambah ketika ia mulai menjalani kesibukan. Ia sering mengalami sakit kepala yang parah hingga pingsan. Bahkan, jika kepalanya itu sakit, Habib Munzir kerap terlihat seperti orang marah. Padahal, sehari-hari Habib Munzir orang yang sabar dan halus.

Namun, lagi-lagi Habib Munzir selalu memendam rasa sakitnya dan memilih tak mengeluh. “Yang beliau pikirkan adalah bagaimana menghidupkan majelis yang sudah sebesar itu. Beliau berusaha keras, bahkan kegiatannya melebihi kemempuannya. Beliau mengorbankan segalanya untuk dakwah, dan cita citanya tinggi, begitu pula kesabarannya,” Ujar Habib Nabiel.

*Pejuang Dakwah*



Ahad petang, 15 September 2013, kabar tersiar, Habib Munzir wafat, sejumlah orang dekatnya, termasuk keluarganya, mengabarkan, ia wafat dalam keadaan tersenyum. Tersenyum saat wafat mengingatkan kita pada jenazah para syuhada’. Dari sebuah hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, salah satu keistimewaan syuhada’ adalah diperlihatkan tempat tinggalnya di syurga. Siapa yang tak berbahagia ketika diperlihatkan bahwa tempat tinggalnya nanti adalah surga? Dan kebahagian pada saat menyongsong maut itu memancar dalam wajah dan mengembangkan bibirnya. Jadilah ia tersenyum.

Jika untuk para syuhada’ penjelasannya seperti itu, bagaimana dengan ulama dan para da’i seperti Habib Munzir, yang tidak meninggal dalam kondisi perang? Wallahu a’lam bish-showab. Namun memang bisa saja seseorang yang tidak meninggal ditengah medan jihad (perang) tapi matinya tergolong syahid. Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Barang siapa mengharapkan mati syahid dengan sungguh sungguh, Allâh akan memberikannya meskipun ia mati di atas tempat tidur.” (H.R Muslim)

Betapapun, tidak ada yang meragukan betapa Habib Munzir memang seorang pejuang dakwah. Ia wafat saat masih mengarungi samudera dakwah yang luas, sebagai salah seorang pejuang sejati.

“Habis umurnya untuk memikirkan umat. Pada saat acara acara besar untuk umat, pikiran dan fisik beliau sampai lemah. Dalam keadaan pakai kursi roda, beliau mengisi acara, bahkan pakai tempat tidur beliau tetap mengisi acara,” Kata Habib Nabiel.

“Penyakit beliau banyak, dikepala, tulang belakang, asma, bahkan sampai ada cairan di perut, tapi Alhamdulilah sudah berhenti,” Ujar kakak tertua dari lima bersaudara ini.

Keesokan harinya, Senin pagi, sekitar pukul 10, jenazahnya dibawa ke Masjid Al-Munawwar, Pancoran, Jakarta Selatan, untuk disholatkan. Masjid itu menjadi saksi atas dakwah Habib Munzir selama bertahun tahun, membasuh ribuan hati pemuda pemudi Islam ibu kota, lewat Majelis Rasulullah ﷺ, yang digelar setiap Senin malam. Pagi itu, masjid tersebut disambangi Habib Munzir untuk terakhir kalinya.
Ba’da dhuhur, usai disholatkan, jenazah Habib Munzir yang berada didalam ambulans, langsung disambut kalimat “Lâ ilâha illâ Allâh” oleh ribuan jama’ah yang sudah memadati tempat pemakaman.

Banyaknya jama’ah yang ingin menyaksikan prosesi pemakaman Habib Munzir membuat ambulans yang membawa jenazahnya membutuhkan waktu lama dari tempat mensholatkan di Masjid Al-Munawwar ke pemakaman Habib Kuncung, Rawajati. Para jama’ah seakan tak rela melewatkan peristiwa itu begitu saja. Sebagian besar dari mereka mengabadikannya, meski harus rela berdesak desakan, guna mengambil gambar, baik video maupun foto menggunkan handphone.

Sebelum dimasukkan ke liang lahat, jenazah Habib Munzir kembali disholatkan di masjid di lingkungan kompleks pemakaman Habib Kuncung, untuk memberi kesempatan bagi jama’ah yang belum mensholatkan. Sejak pagi, kompleks pemakaman itu memang sudah dipadati ribuan jama’ah, menunggu kedatangan jenazah.

Sebagai seorang dai yang memiliki banyak jama’ah yang amat mencintainya, seringkali Habib Munzir bin Fuad Al-Musawwa menyampaikan pesan kepada jama’ahnya. Salah satu pesannya sebelum ia meninggal adalah menitipkan perjuangan dakwah. Seperti pesan berikut ini, yang disampaikan pada akun Twitter @Mjl_Rasulullah pada Senin (15/9/2013), yaitu hari kehidupan sang Habib, berbunyi, “Pesan habibana : JIKA AKU WAFAT MENDAHULUI KALIAN, KUTITIPKAN PERJUANGAN DAKWAH SANG NABI SAW PADA KALIAN.”

Umat Islam di Jakarta dan juga kota kota lainnya, mendoakan Habib Munzir yang telah lebih dulu meninggalkan mereka. Bukan hanya di Nusantara, di kota Tarim pun sampai digelar majelis khatam Al-Quran untuk Habib Munzir. Dalam majelis itu, Habib Umar sempat menyampaikan sambutan. Berikut ini diantara yang disampaikan oleh sang guru utama Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa :
“Dan mereka adalah ahlul akhlaq (orang orang yang berakhlaq), sehingga berkumpul 20 ribu, 30 ribu, 40 ribu, kemudian bertambah lagi, berkumpul di beberapa perayaan 100 ribu, 200 ribu, dan aku telah hadir di beberapa perkumpulan ketika kunjunganku di mana lapangan tersebut dipenuhi oleh para jama’ah, dimana tidak mungkin jumlah tersebut terkumpul pada perkumpulan pemerintahan atau yang lainnya.

Akan tetapi Sang Raja Hati itu (Sulthonul Qulub, demikian sebutan Habib Umar pada Habib Munzir) dengan cahaya keimanan mengajak hati sanubari yang lain sehingga mereka menyambut banyak diantara mereka yang sebelumnya tidak pernah sholat, menjadi orang yang menjaga sholat, ditambah lagi dengan berjama’ah dan sholat sunnah rawatib. Dan banyak diantara mereka yang tadinya bermabuk-mabukan menjadi orang yang jauh dari hal tersebut, dan menjadi orang yang mengharapkan cangkir cangkir dari dzikir kepada Allâh subhanahu wata’ala dan cangkir cangkir berhubungan dengan Nabi Muhammad ﷺ, menyebut nama beliau dengan bergetarnya sholawat kepada beliau, dan merindukan perjumpaan dengan beliau.

Diantara mereka ada yang menangis, ada yang pingsan, ada yang khusyu’, ada yang bertaubat, ada yang mengamalkan nasihat, ada yang bergetar hatinya, baik dalam keadaan berdiri maupun duduknya mereka. Aku telah menyaksikan apa yang kusaksikan dari mereka.
Allâh telah memilihnya untuk kembali kepada-Nya pada usia 40 tahun dan insyâ Allâh digolongkan dalam kelompok (orang orang yang mendapat keridhoan Nya), dan masuk ke dalam kumpulan mereka.

Ini merupakan perkara yang bukan dihitung berdasarkan panjang atau pendeknya usia. Akan tetapi, perkara terpenting adalah keadaan ditempat kebangkitan kelak dan keadaan ketika menghadap kepada Yang Mahaluhur dan Maha Agung.”

♥ Annallaaha yaghfir lahu wa yarhamhu wa yu’li darojatihi fil jannah. wa yanfa’unaa bi asroorihi wa anwaarihi wa uluumihi fid diini wad dunyaa wal aakhiroh. ♥

Sumber_kesatu : Majalah alKisah & Majelisrasulullah.org_
Sumber_kedua