BAGAIMANA KITA MEMANDANG GURU KITA?
“Dia yang mengajariku se-ayat ilmu”, begitu dikatakan oleh Sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, “Sungguh memiliki hak untuk memperbudakku.”
“Seseorang bertanya pada Iskandar al-Maqduni, murid Aristun,” demikian dikisahkan oleh Imam Ibn Rusyd, “Mengapa kau doakan gurumu dua kali sedangkan ayahmu hanya sekali?” Dia menjawab, “Karena Ayahku menjadi wasilah bagi kehidupanku di dunia. Sementara Guruku menjadi perantara bagi hidupku di akhirat nanti. Seandainya Ayahku sekaligus menjadi Guruku, pastilah akan kudoakan dia tiga kali.”
Betapa mulia dia yang memegang saham keberhasilan kita, tanpa pernah mengambil bagi hasil di dunia. Dia yang meniupkan nafas cintanya, hingga kuncup-kuncup jiwa kita mekar menjadi bunga.
===
*Siapakah sejatinya Guru?*
Guru adalah insan yang tak henti belajar, bahkan pada yang jauh lebih muda dan tentang apa yang telah diketahuinya. “Kusimak tiap riwayat ilmu dengan sepenuh hormat,” ujar Imam Atha’ ibn Abi Rabah, “Meski sebenarnya aku telah menghafalnya, jauh sebelum penyampainya lahir ke dunia.” Penghormatannya pada ilmu, menepikan segala rasa bangga.
Guru adalah yang paling bersemangat mendapatkan pemahaman seperti dikatakan Imam asy-Syafi’i, “Aku terhadap ilmu seperti seorang ibu yang mencari anak semata wayangnya yang tersayang dan hilang. Dan ketika menyimak ilmu, sungguh aku berharap bahwa seluruh tubuhku adalah telinga.”
Demikianlah, sebab guru yang berhenti belajar adalah murid yang paling gagal. Berhenti memburu ilmu adalah cela dan aib bagi yang tua dan celaka bagi yang muda.
===
*Adab Imam Nawawi Kepada Sang Guru*
Imam Nawawi ketika hendak belajar kepada gurunya, beliau selalu bersedekah di perjalanan dan berdoa, “Ya Allah, tutuplah dariku kekurangan guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya dan tidak seorangpun yang menyampaikan kekurangan guruku kepadaku.” [Lawaqih al-Anwaar al-Qudsiyyah : 155]
Beliau pernah mengatakan dalam kitab at-Tahdzibnya :
ﻋﻘﻮﻕ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪﻳﻦ ﺗﻤﺤﻮﻩ ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ ﻭﻋﻘﻮﻕ ﺍﻻﺳﺘﺎﺫﻳﻦ ﻻ ﻳﻤﺤﻮﻩ ﺷﻲﺀ ﺍﻟﺒﺘﺔ
“Durhaka kepada orang tua dosanya bisa hapus oleh taubat, tapi durhaka kepada ustadzmu tidak ada satupun yg dapat menghapusnya.”
Imam an-Nawawi melakukan perjalanan ke Kairo dalam rangka ziyarah Imam asy-Syafi’i. Namun setelah melihat kubah Imam asy-Syafi’i, Imam An Nawawi berhenti dan tidak melanjutkan langkahnya.
Sampai ada yang berkata kepada Imam an-Nawawi, “Ayo, melangkahlah maju!” Imam An Nawawi menjawab, “Kalau sekirangnya Imam asy-Syafi’i masih hidup dan berada di tenda, maka wajib bagiku berhenti hanya karena melihat tendanya.”
Kemudian Imam An Nawawi pun kembali pulang ke Syam secara diam-diam, hingga keluarganya tidak mengetahui akan hal itu. [Tarjamah An Nawawi li as-Sakhawi, hal. 82]
===
Al-Imam Ali bin Hasan al-Atthas mengatakan :
ﺍﻥ ﺍﻟﻤﺤﺼﻮﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﻔﺘﺢ ﻭﺍﻟﻨﻮﺭ ﺍﻋﻨﻲ ﺍﻟﻜﺸﻒ ﻟﻠﺤﺠﺐ، ﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﺍﻻﺩﺏ ﻣﻊ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻭﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻛﺒﺮ ﻣﻘﺪﺍﺭﻩ ﻋﻨﺪﻙ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻚ ﺫﺍﻟﻚ ﺍﻟﻤﻘﺪﺍﺭ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺷﻚ
“Memperoleh ilmu, futuh, dan cahaya (maksudnya terbukanya hijab-hijab batinnya), adalah sesuai kadar adab kita bersama guru. Kadar besarnya guru di hati kita, maka demikian pula kadar besarnya diri kita di sisi Allah tanpa ragu.” [Al-Manhaj as-Sawiy : 217]
Habib Abdullah al-Haddad mengatakan, “Paling bahayanya bagi seorang murid, adalah berubahnya hati gurunya kepadanya. Seandainya seluruh wali dari Timur dan Barat ingin memperbaiki keadaan si murid itu, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali.” [Adaab Suluk al-Murid : 54]
Seorang murid sedang menyapu madrasah gurunya, tiba-tiba Nabi Khidir mendatanginya. Murid itu tidak sedikitpun menoleh dan mengajak bicara nabi Khidhir. Maka nabi Khidhir berkata, “Tidakkah kau mengenalku?” Murid itu menjawab, “Ya aku mengenalmu, engkau adalah Abul Abbas al-Khidhir.” Nabi Khidhir kemudian bertanya, “Kenapa kamu tidak meminta sesuatu dariku?” Murid itu menjawab, “Guruku sudah cukup bagiku, tidak tersisa satupun hajat kepadamu.” [Kalam al-Habib Idrus al-Habsyi : 78]
Al-Habib Abdullah al-Haddad berkata, “Tidak sepatutnya bagi penuntut ilmu mengatakan pada gurunya, “Perintahkan aku ini, berikan aku ini!”, karena itu sama saja menuntut untuk dirinya. Tapi sebaiknya dia seperti mayat di hadapan orang yg memandikannya.” [Ghoyah al-Qashd wa al-Murad : 2/177]
Para ulama ahli hikmah mengatakan, “Barangsiapa yang mengatakan “Kenapa?” Kepada gurunya, maka dia tidak akan bahagia selamanya.” [Al-Fataawa al-Hadiitsiyyah : 56]
Para ulama hakikat mengatakan, “70% ilmu itu diperoleh sebab kuatnya hubungan (batin, adab, dan baik sangka) antara murid dengan gurunya.”
Semoga kita semua termasuk murid yang baik dan mendapat berkah dari guru kita, Aamiin…
Wallahu a'lam.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar