Senin, 29 Oktober 2018

Menuju akhirat dengan bekal Taqwa

إن النور إذا دخل القلب إنشرح له وانفسح , قيل : فهل لذلك علامة ؟ قال عليه الصلاة والسلام : التجافى عن دار الغرور والإنابة إلى
دار الخلود والإستعداد للموت قبل نزوله



Artinya: “Sesungguhnya cahaya jika masuk kedalam hati, ia menjadi lapang dan luas, beliau ditanya: “Apakah hal itu mempunyai tanda-tanda?” Beliau Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam menjawab: “Menjauhi tempat yang penuh tipuan (dunia), bersandar ke tempat yang abadi (akhirat), dan bersiap-siap menghadapi kematian sebelum datangnya.”



Dan Allah SWT mewahyukan kepada Musa as: “Wahai Musa, jika Aku mencintai seorang hamba-Ku, maka Aku menjauhkan dunia darinya, beginilah Aku perlakukan para kekasih-Ku, wahai Musa, jika engkau melihat kekayaan datang mendekat, maka katakanlah: “Inilah dosa yang disegerakan hukumannya, dan apabila engkau melihat kefakiran datang, maka katakanlah: “Selamat datang kepada tanda-tanda orang shaleh.”


Dan Allah SWT lelah mewahyukan kepada Dawud as: “Wahai Dawud, barangsiapa yang mengutamakan kenikmatan duniawinya daripada kelezatan akhiratnya, berarti ia telah bergantung pada tali yang tidak terikat, dan barangsiapa yang mengutamakan kesenangan akhiratnya daripada kenikmatan dunianya berarti ia telah bergantung pada tali yang kuat yang tidak akan terputus.”



Allah SWT juga mewahyukan kepada Isa as: “Wahai Isa, sampaikanlah kepada Bani Israil agar mereka mengingat dariku dua kalimat : “Katakanlah pada mereka agar mereka rela dengan sedikit dari harta demi keselamatan agama mereka, sebagaimana pecinta dunia rela dengan sedikitnya agama untuk keselamatan dunia mereka.”

Menuju akhirat dengan bekal Taqwa
Risalatul Mudzakarah imam haddad


MENUJU AKHIRAT DENGAN BEKAL TAQWA
Didalam salah satu kitab yang diturunkan Allah SWT disebutkan: “Hukuman Paling ringan yang Aku berikan pada orang alim apabila ia telah bergantung pada dunia. Aku keluarkan rasa manisnya bermunajat kepada-Ku dari hatinya,” para wali-Ku dan janganlah engkau bersikap manis kepada mereka, niscaya engkau akan memfitnah mereka


Risalatul Mudzakarah
Imam Abdullah Al-Haddad Ra


Sumber

Selasa, 23 Oktober 2018

Tingkat Syukur Bergantung Kepada Cara Memuliakan OrangTua

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh :)

Sebelum bersyukur sama Allah, pertanyaan sederhana...

Air Susu Ibumu sudah Kamu Balas Belum?


Pagi ini, saya mendengarkan kajian dari Ustadzh Oemar Mita dengan judul "Adzab yang Disegerakan".

Judul tersebut diambil dari cerita nyata seorang anak yang memiliki Ayah yang sudah lanjut usia. Semakin lanjut usia OrangTua, maka semakin besar Allah sedang membukakan pintu surga kepada kita.

Sahabat Nabi ada yang bercerita kepada Syech Khuraifi.
Ia ingin bertobat. Dosanya sangatlah besar. Dulu ia punya OrangTua, baktinya kepada Ayah belum maksimal. Sampai pada suatu hari, Ia mencium bau tidak sedap dari kamar Ayah. Pembantu nya menceritakan bahwa setiap kali Ayah nya makan, itu tidak pernah habis dan menjadi basi. Ia pun berfikir, dan mendapat ide dan Ia akan memindahkan Ayahnya ke suatu gudang untuk dijadikan kamar. Dan Ia pun berbohong kepada Ayahnya, dengan berdalih agar Ayahnya bisa istirahat dengan tenang. Sang Ayahpun meng-iyakan padahal Ia tahu bahwa itu sebuah gudang. Kemudian, Sang Ayah makan dengan menggunakan piring akan tetapi dari hari ke hari Sang Ayah yang lanjut usia tidak sengaja memecahkan piring tersebut. Sehingga, pembantunya bercerita kepada Sang Majikan. Bukannya memaklumi Sang Ayah, si Anak tersebut justru meminta pembantunya mengganti dengan piring plastik untuk digunakan makan oleh Sang Ayah. Singkat cerita, akhirnya Sang Ayah meninggal.

Setelah prosesi pemakaman Sang Ayah, si Anak ingin merubah menjadi gudang kembali kamar yang digunakan oleh Sang Ayah. Iapun berserta anak-anaknya masuk ke kamar Kakeknya, kemudian anak-anaknya lantas mengambil bekas piring plastik dan gelas plastik yang digunakan oleh Sang Kakek saat masih hidup untuk makan.

Sang Ayahpun bilang "kembalikan Nak, itu piring dan gelas milik Kakek, jangan disentuh."
Si Anak yang umurnya belum genap 7 tahun berkata "tidak yah, gelas dan piring plastik ini akan saya simpan dan ketika Ayah sudah tua seperti Kakek, akan saya berikan piring dan gelas plastik ini untuk Ayah pergunakan saat makan."

----dibayar cash, kontan.---

itulah, kehidupan. Tingkat syukur kita bergantung kepada bagaimana kita berbakti kepada kedua orangtua. Apa yang kita tanam akan kita tuai dikemudian hari.

Muhasabah diri lagi dan lagi, yuk!

Selasa, 16 Oktober 2018

Hati-hati Dalam Berniat Dan Berdo'a

Catatan kecil dari kajian Ust. Oemar Mita.Lc

Balasan yang Disegerakan?
Tahukah Anda maksud dari “Balasan yang Disegerakan”?


Saat Anda diberikan kemudahan oleh Allah untuk mendapat sesuatu hal yang sudah lama anda inginkan, Contohnya. Tiba-tiba Anda diberi kemudahan oleh Allah untuk memiliki sebuah Rumah atau Mobil. Hati-hatilah dalam berniat dan berdo’a. Setelah Anda mendapatkan sesuatu yang diinginkan, lantas jangan lupa untuk berdo’a kepada Allah :

“Ya Allah, semoga dengan dimudahkannya urusan hamba ini, dengan dimudahkannya hamba mendapatkan apa yang hamba inginkan, membuat kami menjadi semakin taat kepada-Mu. Dan semoga, dengan diberikannya kemudahan dalam menyelesaikan urusan kami ini, segala hajat kami ini Engkau mudahkan, semoga Engkau tidak menyegerakan balasan hanya ketika kamu didunia, melainkan untuk di Akhirat engkau masih memberinya. Aamiin”



Bab1 - Ikhlas ( Kitab Tazkiyatun Nafs )
https://www.youtube.com/watch?v=QBbV3rPH1TI

Senin, 15 Oktober 2018

Bab 1 Edisi 15 Sosok Keteladanan Muhammad ﷺ

Assalamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh.

Insan Kamil - Sosok Keteladanan Muhammad ﷺ
Karya : as-Sayyid al-'Allamah al-Imam Muhammad bin 'Alawi al-Maliki al-Hasani al-Makky

BAB I
Edisi : 15
Kesempurnaan Akal Nabi

Kesempurnaan akal pikiran Nabi ﷺ tampak juga dalam pengambilan suatu keputusan secara tepat dan bijaksana, seperti yang terjadi ketika suku Quraisy terlibat dalam pertentangan dan saling sengketa, siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad ke tempat semula di Ka’bah Baitullah?


Hubairah bin Wahib menceritakan peristiwa itu sebagai berikut : Setelah suku Quraisy selesai memugar Ka’bah, maka timbullah perselisihan siapakah gerangan yang paling mustahaq (berhak) mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya semula? Setelah kabilah dan kelompok sama mengingininya, karena hal itu dipandang sebagai kehormatan dan kemuliaan yang tiada taranya sehingga terjadi perselisihan dan pertentangan sengit. Bahkan suasana sudah sedemikian panasnya, mengarah pada suatu pertumpahan darah dan perang saudara dengan segala akibatnya yang menyedihkan. Suasana yang kian lama kian tegang itu berlangsung empat atau lima hari.

Selanjutnya mereka bermusyawarah di dalam Masjid Al-Haram dan bersepakat bulat memutuskan : “Siapapun yang datang pertama kali dan memasuki masjid hari ini dialah yang akan diserahi untuk memutuskan perkara yang pelik itu”. Semuanya sama berikrar dan berjanji akan mematuhi keputusan itu. Dan Nabi ﷺ-lah yang pertama datang dan masuk pintu masjid hari itu. Maka semua merasa gembira dan serentak berkata : “Tepat sekali dialah seorang yang jujur (Al-Amin). Kita semua akan menerima dengan senang hati segala keputusan yang akan diambilnya.”
.Maka Nabi ﷺ mengambil sehelai sorban yang telah terbentang dan minta agar tiap kepala Kabilah memegang ujung sorban yang telah terbentang itu, yang di atasnya Hajar Aswad telah diletakkan. Kemudian sorban diangkat bersama-sama. Setelah sampai dekat tempatnya semula, maka beliau sendiri yang meletakkannya. Dengan keputusan yang bijaksana, maka kemelut yang nyaris membawa petaka itu dapat diselesaikan. Memuaskan semua pihak yang berselisih dan diterima dengan perasaan lega.

.
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين

@madinah_rj
https://www.instagram.com/madinah_rj/
www.ypkpi-jateng.org www.majlistaklimalamin.org

Bab 1 Edisi 14 Sosok Keteladanan Muhammad ﷺ

  • Assalamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh.



    Insan Kamil - Sosok Keteladanan Muhammad ﷺ
    Karya : as-Sayyid al-'Allamah al-Imam Muhammad bin 'Alawi al-Maliki al-Hasani al-Makky

    BAB I
    Edisi : 14
    Kesempurnaan Akal Nabi


    Akal yang sempurna adalah pokok pangkal segala sifat yang terpuji dan pendorong kepada tingkah laku yang terarah. Dengan petunjuk akal, dapat dibedakan antara yang baik dan yang buruk, serta membawa seseorang mencapai sesuatu yang lebih utama.

    Kisah masuknya Khalid bin Walid ke dalam agama Islam, tatkala ia datang menghadap Nabi ﷺ, setelah mengucapkan salam, ia berkata : “Ya Rasulullah, saya menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan engkau adalah utusan-Nya.” Nabi ﷺ lalu mempersilahkan masuk dan duduk, kemudian Nabi ﷺ berkata kepadanya : “Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepadamu. Memang saya melihatmu seorang yang berakal sehat. Maka kuharap kiranya akal itu membawamu kepada segala hal yang baik.”
    .
    At Thabarany meriwayatkan dari Ghurrah bin Hurairah, tatkala Khalid datang menghadap Nabi ﷺ dan berkata kepada beliau : “Kami yang selama ini menyembah berhala sebagai Tuhan, berseru memanggilnya. Namun benda mati itu tidak sanggup menjawab. Kami mencoba meminta darinya, akan tetapi ia tidak pernah memberi sesuatu kepada kami. Lalu Allah memberi petunjuk dan hidayah-Nya, kami sekarang menyembah kepada Allah semata.” Maka Nabi ﷺ menyambut dengan sabdanya : “Bahagia benar siapa yang dikaruniai akal oleh Tuhan.”
    .
    Dan bahwa akal pikiran Nabi ﷺ telah mencapai puncak kesempurnaan yang tidak pernah dicapai oleh siapapun juga, sebagai nikmat karunia Allah kepadanya, hal itu telah ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya : “Nuun, demi kalam dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Tuhanmu, (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.” (QS. Al-Qalam : 1-2)
    .
    Artinya, engkau wahai Muhammad, akal pikiranmu berada di tingkat yang tertinggi. Tuhan yang bersumpah dengan Nun yang berarti limpahan karunia Ilahi dan bersumpah lagi dengan Al-Qalam, pena yang berada di alam tertinggi. Dan pernah suaranya (Al-Qalam) didengar oleh Nabi ﷺ, tatkala menulis segala sesuatu yang ada, yang sedang, dan yang akan terjadi, Allah bersumpah dengan makhluk-makhluk yang agung itu untuk menegaskan akan keluasan dan kecerdasan akal pikiran Nabi ﷺ dan jauh dari sifat hilang atau kekurangan akal.
    .
    Dia yang berakal sempurna, berilmu luas, betapa tidak, bukanlah Allah memberikan kepadanya nikmat dan karunia ke-Nabian dan ke-Rasulan. Kepadanya Al-Qur’an wahyu Ilahi yang penuh berisi segala ilmu pengetahuan yang hanya bisa diemban oleh orang yang dikaruniai Tuhan dengan akal dan pikiran paling sempurna.
    .
    Oleh karena dia bukan seorang yang kehilangan atau kekurangan akal pikiran. Ayat ini dengan tegas dan jelas membantah apa yang dituduhkan oleh lawan-lawannya, yang kafir dan ingkar kepadanya. Karena tidak logis dan tidak dapat digambarkan bahwa seseorang yang datang membawa Al-Qur’an yang penuh berisi hikmah, ilmu, dan pengetahuan itu tidak berakal dan berpikir sempurna.
    .
    Wahib bin Munabbih, seorang tabi’in dan darinya Imam Bukhari dan Imam Muslim menerima beberapa hadits, berkata : “Saya telah membaca tujuh puluh satu kitab yang diturunkan Allah dahulu kepada para Nabinya. Di dalam semua kitab itu saya dapati bahwa perbandingan akal pikiran yang dikaruniakan Allah kepada manusia, dengan akal pikiran Muhammad ﷺ ibarat sebutir pasir dibandingkan dengan pasir-pasir yang ada di dunia ini,” demikianlah yang tersebut dalam Syarhul Mawahib.

  • Dan kesempurnaan akal Nabi ﷺ serta pandangannya yang jauh, jelas terlihat dalam sikapnya menghadapi masyarakat sekelilingnya yang telah dilanda kemelut jahiliyah dalam semua segi kehidupannya. Akal manusia yang telah sesat itu, tidak mudah diubah menjadi akal budi yang lurus, benar, dan sehat. Untuk itu memerlukan seorang pemimpin yang berpandangan jauh, berpikir jernih, dan tidak ragu lagi bahwa ajaran yang ditegakkan oleh beliau itu, bersumberkan wahyu Tuhan seru sekalian alam. Akan tetapi ajaran Tuhan itu membutuhkan akal pikiran yang cemerlang dan disiapkan secara khusus bagi yang mengemban tugas berat itu.
    .
    Kesempurnaan akal Nabi ﷺ juga terlihat pada cara beliau berdialog dengan penyembah-penyembah berhala, dan dalil-dalil mantap yang dikemukakan terhadap golongan Yahudi dan Nasrani yang tak terbantahkan dan tak sanggup disangkal dan diingkari.
    .
    Demikian juga akal pikiran beliau terbukti kesempurnaannya dalam cara pengarahannya kepada pemuda yang datang meminta ijin agar ia diperkenankan melakukan zina dan perbuatan mesum, Nabi ﷺ lalu bertanya kepadanya : “Sukakah perbuatan keji itu dilakukan orang terhadap ibumu? Atau terhadap saudara perempuanmu? Atau terhadap putrimu sendiri?” Pemuda itu menjawab tegas : “Tidak!” “Demikian pula setiap orang tidak ada yang menyukai perbuatan itu dilakukan terhadap keluarganya,” sambung Nabi ﷺ menjelaskan. Maka timbullah kesadaran dan keinsyafan dalam hati pemuda itu, kemudian ia berkata : “Saksikanlah Ya Rasulullah, bahwa aku benar-benar bertaubat dari perbuatan durjana itu.”
    .
    اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين

Bab 1 Edisi 13 Sosok Keteladanan Muhammad ﷺ

Assalamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh.

Insan Kamil - Sosok Keteladanan Muhammad ﷺ
Karya : as-Sayyid al-'Allamah al-Imam Muhammad bin 'Alawi al-Maliki al-Hasani al-Makky

BAB I
Edisi : 13
Uraian Hikmah Pembelahan Dada


9. Dalam penafsiran kalimat hikmah, ada perbedaan pendapat. Sebagian ulama mengatakan bahwa hikmah adalah ilmu yang mengandung petunjuk dari Allah untuk menunjukkan kebenaran, agar ditegakkan dan dilaksanakan. Dan ahli hikmah adalah mereka yang memiliki sifat-sifat itu.
Imam An Nawawy menyebutkan bahwa di antara sekian banyak pendapat tentang arti hikmah, inilah pilihanku.

Ada kalanya hikmah berarti Al-Qur’an, karena semua isinya mengandung hikmah dan juga berarti kenabian. Hikmah juga kata persamaan dari ilmu.

Tapi arti hikmah yang paling tepat menurut Ibnu Hajar adalah meletakkan segala sesuatu pada tempatnya atau memahami apa yang tersirat pada kitab Allah (Al-Qur’an). Dengan demikian, ada kalanya hikmah tanpa iman, ada kalanya keduanya saling isi mengisi.

Sebagai tambahan, dapat disebutkan di sini, pendapat Al-'Arif Billah Al-Habib Ali Al-Habsyi tentang peristiwa dibelahnya dada Rasulullah ﷺ, sebagaimana yang dikemukakan dalam sebuah bait : “Tidak! Malaikat tidak mengeluarkan sesuatu yang kotor dan yang keji dari kalbunya, namun kesuciannya, ditambah dengan kesucian.”
.
Dan bagi penulis buku ini, tentang masalah ini, ada kesimpulan lain. Hati nurani Rasulullah ﷺ yang sumber segala rahmat itu, seperti firman Allah : “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiya’ : 107)

.Rahmat yang menyeluruh ini berasal dari rahmat Allah yang meliputi segala sesuatu. Dan Allah yang mengeluarkan syetan dan para kroninya, dan siapa saja yang tidak berhak memperoleh rahmat itu. Maka segi kelemahan yang dapat dimanfaatkan oleh syetan, dikeluarkan dari dadanya agar syetan yang dilaknat itu benar-benar tidak memperoleh sedikitpun juga percikan rahmat yang luas dan mencakup segala sesuatu itu.

.
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين
@madinah_rj
https://www.instagram.com/madinah_rj/
www.ypkpi-jateng.org www.majlistaklimalamin.org

Bab 1 Edisi 12 Sosok Keteladanan Muhammad ﷺ

Assalamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh.

Insan Kamil - Sosok Keteladanan Muhammad ﷺ
Karya : as-Sayyid al-'Allamah al-Imam Muhammad bin 'Alawi al-Maliki al-Hasani al-Makky

BAB I
Edisi : 12
Uraian Hikmah Pembelahan Dada




  
5. As-Suhaility berkata : “Jantung hati Nabi ﷺ dicuci dalam tempat dari emas, seperti tersebut dalam beberapa riwayat pada peristiwa itu. Karena emas itu yang dalam bahasa Arab dzahab, sesuai dengan apa yang tersirat maka kalimat itu mengisyaratkan dan memberi petunjuk akan kalimat dzahab yang berarti menghilangkan, seolah-olah Allah menghendaki hilangnya segala noda dan kotoran, dan mensucikan beliau dengan sesuci-sucinya. Disamping itu, emas adalah logam mulia yang paling bersih zat dan unsurnya dibandingkan dengan logam-logam dan benda-benda yang lain.”
.
6. Ibnu Abi Jamrah berkata : “Dalam mencuci, bukan air dari surga yang dipakai. Karena air Zam-Zam dari sana, maka dikehendaki agar berkat Nabi ﷺ yang mulia itu tetap langgeng berada di bumi ini.” Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa air Zam-Zam itu yang mulanya ditemukan di zaman Nabi Ismail 'alaihissalam di samping air Zam-Zam sudah mendarah mendaging dalam tubuh Nabi ﷺ. Maka dialah sebagai pemilik Zam-Zam dan negeri (Makkah) yang diberkati oleh Tuhan. Wajarlah bila Rasul ﷺ sebagai keturunan langsung dari Nabi Ismail 'alaihissalam mewarisinya. Dan itu juga sebagai isyarat bahwa kekuasaan akan berpindah ke tangannya. Maka sesudah Fathul Makkah, dibukanya dan dikuasainya kembali kota Makkah, beliau ﷺ menyerahkan tugas siqayah atau menyediakan air untuk jamaah haji, kepada pamannya Abbas dan sebagai juru kunci Ka’bah kepada Ustman bin Abi Syaibah.
.7. Adapun hikmah dicucinya dada beliau dengan air es dan salju menurut sebagian riwayat, maka di samping keduanya sebagai penawar sangat bersih, tidak tersentuh oleh kotoran tanah. Bukanlah air dan salju itu melambangkan kecerahan masa depan Nabi ﷺ dan ummatnya, serta syariat yang dibawanya. Masa depan baginya akan lebih cerah, Kemenangan demi kemenangan yang akan diraihnya itu akan menunjukkan batin dan menenangkan hatinya. Ditambah lagi ampunan Allah kepada ummatnya.

.
8. Ibnu Naihiyah berkata : “Dada beliau dicuci dengan es, karena rasa keyakinan yang sangat menyejukkan hatinya. Ini sejalan dengan do’a beliau ﷺ pada tiap takbiratul ihram dalam shalat : “Ya Allah, cuci dan bersihkanlah segala dosaku, dengan air es dan barad.””
.
Maka Allah menghendaki agar dada beliau ﷺ dicuci dengan air yang berasal dari surga dalam mangkok yang terbuat dari emas, penuh hikmah dan keimanan, agar hati itu merasakan kelezatannya, lebih tekun mengajak manusia untuk masuk dalam surga itu, agar memperoleh segala kenikmatan-Nya. Demikian pula karena musuh-musuh yang selalu mencela dan mencacinya, maka Allah menghendaki agar ia terhindar dari sifat sifat manusiawi, seperti : sempit dada dalam menghadapi kecaman dan tantangan lawan-lawannya. Supaya hati itu tetap tabah sebagaimana firman Allah : “Dan Kami sungguh mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit, disebabkan karena apa yang mereka ucapkan.” (QS. Al-Hijr : 97)
.
Maka hati itu dicuci bukan sekali dua kali. Tatkala di perang Uhud dan beliau ﷺ terkena pukulan sehingga luka di bagian kepalanya dan retaklah giginya, beliau ﷺ hanya berdoa : “Ya Allah, ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui.”
.


اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين

KETIKA DATANG SEBUAH NASEHAT

☘💫☘💫☘💫☘💫☘💫☘💫☘💫☘💫☘💫☘

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

🌸NUSANTARA CINTA RASUL🌸

🗓RENUNGAN HARI INI

۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞.


📝Ketika datang sebuah nasehat, atau sebuah ajakan pada kebenaran dan kebaikan, sebenarnya kita semua bisa mengenalinya, kita tahu dan paham, persis seperti mengenali teman lama yang bertamu, tidak tertukar, tidak tertipu.

🌼Kita tahu persis bahwa itu sebenarnya adalah sebuah kebaikan. Tapi, kenapa kita terkadang tergoda menolaknya?

❓Tergoda untuk tidak terima? Bahkan tak jarang justru membantahnya?

😊In syaa Allah uraian berikut bisa menjadi jawabannya :

1.Karena gengsi

📃Sudah jadi rahasia sejak jaman dahulu kala, gengsi bisa mengalahkan rasionalitas.

❓Kenapa tidak terima?
 Gengsi!

👉Penyakit gengsi ini hinggap tanpa pandang umur, tidak peduli seberapa pintar dan bijaksana seseorang.
Sekali gengsinya lebih tinggi, dia tutup mata atas nasehat, kebenaran atau apalah di hadapannya.

📝Contoh gengsi paling terkemuka adalah Firaun.
Firaun sebenarnya tahu Nabi Musa alaihi sallaam itu membawa kebenaran, bahkan penyihirnya pun bilang begitu, Nabi Musa adalah utusan Rabb semesta alam, tapi apes baginya, dia seorang Raja, mana ada Raja yang bilang iya dan nurut pada rakyat jelata.
Jadilah dia habis-habisan menolak !

2.Karena benci

Penyebab kedua adalah kebencian.

❓Kenapa kita tidak sependapat dengan sesuatu yang baik? Karena kita melihat siapa yang bicara, dan apesnya lagi, yang bicara itu kita benci.
Wassalam,

🌺Seseorang bisa jadi tidak akan sependapat meskipun sebenarnya dia tahu persis itu benar.

❓Kenapa kita tiba-tiba berbelok?
Berubah haluan?

Boleh jadi karena kebencian, di sana ada orang yang kita benci, maka lebih baik berkumpul dengan orang lain.

👉Ingat rumus lama itu :
Musuh dari musuh kita adalah kawan.
Maka sebaliknya, kawan dari musuh kita adalah musuh (meski kawan tersebut juga kawan kita).

Kebencian ini lebih rumit dibanding gengsi. Karena kalau sekadar gengsi, kita tetap bisa berpikir sehat, tetap tahu batas-batasnya, tapi kebencian, dia membakar hangus segalanya, termasuk melakukan fitnah, menyebar dusta, bahkan tak jarang sampai mencaci dan mencela, semata-mata untuk memuaskan dahaga hawa nafsu diri sendiri.

3.Karena kepentingan

Susah sekali berpikir rasional ketika kita memiliki kepentingan di dalamnya.
Bahkan sebenarnya, kita "terlalu rasional" sehingga bisa memetakan kepentingan tersebut, lantas membuang kebenaran di dalamnya.

☘Ada banyak bentuk kepentingan, mulai dari materi, harta benda, pengakuan sosial, tak ingin ditinggalkan pengikut dan pengagumnya, bisa juga karena jabatan, kekuasaan, juga jangan lupa manfaat, keuntungan-keuntungan, sekecil apapun bentuknya. Mulai dari kepentingan personal, hingga kepentingan dari kelompok.

Kepentingan bisa membuat orang menafsirkan sesuatu sesuai situasinya saja.
Termasuk menafsirkan ayat dan hadist2 Nabi shallallaahu alaihi wa sallaam sesuai kepentingan diri sendiri atau kelompoknya.
Ketika kita condong pada urusan dunia, maka jelas sudah, ada bibit kepentingan di dalamnya!

4.Karena dangkalnya pengetahuan

👶Seorang anak kecil akan ngotot bilang kalau pohon semangka itu tinggi dan besar seperti pohon kelapa, simpel penyebabnya, karena dia tidak tahu.
Mau dibagaimanakan lagi penjelasannya, dia akan tetap ngotot.

👉Kecuali si kecil ini akhirnya melihat langsung itu pohon semangka.

Nah, bedanya anak kecil dengan orang dewasa, saat kebenaran datang, si kecil akan tertawa bilang:
"Oh ternyata aku salah, hehehe..",

Orang dewasa boleh jadi tidak, malah bisa jadi semakin ngotot, itu bukan pohon semangka yang dia maksud, atau "Bukan seperti itu maksud saya." Penuh dengan jurus argumen bin ngeles!

4⃣Empat hal ini saja sebenarnya yang melatari kenapa kita tiba2 tidak terima sekali atas sebuah nasehat atau kebenaran dan kebaikan.
Dengan memahaminya, silahkan praktekkan menganalisis di sekitar kita. Kenapa begini, kenapa begitu, kita bisa memperhatikan apakah karena gengsi? Kebencian? Atau kepentingan? Atau ketidak tahu-an? Dan lebih mendesak lagi, kita bercermin, apakah diri kita sendiri juga demikian.

💕Ingatlah selalu, ketika datang sebuah nasehat, atau kebenaran, maka sebenarnya kita semua bisa mengenalinya, persis seperti mengenali teman lama yang bertamu, tidak tertukar, tidak tertipu.

Wallaahu Ta'ala A'lam bish showaab.

Hanya pada Allah kita mohon petunjuk.

Semoga bermanfaat n kita bisa mengambil hikmahnya.

| Nusantara Cinta Rasul | 🌺

♡ Cinta Rasul International Community ♡

Majelis Ilmu dan Amal
15 Oktober 2018

☘💫☘💫☘💫☘💫☘💫☘💫☘💫☘💫☘💫☘