Senin, 08 Oktober 2018

Bab 1 Edisi 04 Sosok Keteladanan Muhammad ﷺ

  • Assalamu'alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh.

    Insan Kamil - Sosok Keteladanan Muhammad ﷺ
    Karya : as-Sayyid al-'Allamah al-Imam Muhammad bin 'Alawi al-Maliki al-Hasani al-Makky

    BAB I
    Edisi : 04
    Keindahan dan keistimewaan Nabi


    Sudah cukup jelas bahwa Nabi kita Muhammad ﷺ dikaruniai Allah ‘Azza Wajalla, seluruh sifat-sifat yang indah dan terpuji. Namun sifat-sifat yang indah itu sangat bertalian dengan 2 (dua) hal besar. Pertama; keagungan dari sifat-sifat itu. Kedua; pancaran cahaya yang meliputinya. Karena itu keindahan paras muka beliau yang bersinar itu tidak membawa akibat negatif bagi yang melihatnya, sebagaimana Nabi Yusuf dikaruniai Tuhan setengah dari kebagusan rupa. Rupa yang menyebabkan wanita yang melihatnya, mencincang tangan karena terpukau, sambil berkata :
    “Maha Sempurna Allah, ini bukanlah manusia, ini tidak lain hanya Malaikat yang mulia.” (QS. Yusuf : 21)

    Seorang penyair pernah berkata : “Kalau wajahnya sempat dilihat oleh kawan-kawan Zulaikha, jantung hatilah yang akan terpotong sebelum tangan mereka.”
    .
    Keagungan inilah yang oleh Hindun binti Halah, dalam menggambarkan sifat-sifat Nabi ﷺ, dikatakan sebagai pribadi yang agung dan penuh wibawa, seperti yang diriwayatkan oleh At-Turmudzy.

    Imam ‘Ali pernah berkata : “Siapa yang melihatnya sepintas lalu pasti akan tertegun karena kewibaannya.”
    .
    Sedang sahabat-sahabat lain berkata : “Rasulullah itu paling tenang, penuh wibawa bila berada di suatu majelis,” menurut riwayat Abu Dawud.

    Ibnu Majah meriwayatkan, bahwa ada orang datang menghadap Nabi ﷺ dengan menggigil ketakutan. Lantas Nabi ﷺ berkata : “Tidak apa-apa, tenangkanlah hatimu.”
    .

    Tatkala ‘Amru bin ‘Ash menghadap Nabi ﷺ untuk pertama kali, ia berkata : “Aku tak sanggup menatap wajahnya. Jika ada orang bertanya kepadaku tentang sifat-sifat beliau, rasanya tak sanggup aku menceritakan, karena mataku tak sepenuhnya dapat melihatnya.” (Riwayat Muslim)
    .
    At-Turmudzy meriwayatkan dari Ibnu Abi Halah, bahwa bila Nabi ﷺ sedang berbicara, maka semua sahabat yang berada di sekelilingnya akan mendengarkan dengan tenang sambil menundukkan kepala, seolah-olah kepala mereka sedang dihinggapi burung. Memang sahabat Nabi tidak dapat memandang wajah Beliau dengan tajam karena keagungan dan wibawanya. Yang dapat menceritakan dan menggambarkan sifat dan rupa beliau adalah mereka yang masih kecil atau yang berada di bawah asuhannya sebelum masa kenabian. Seperti Hindun binti Abi Halah dan Imam ‘Ali RA.
    .
    Karena keagungan dan kewibawaannya itulah, maka siapapun yang duduk mendampinginya akan berdebar hatinya, terpengaruh oleh kewibawaan yang memancar dari pribadi yang agung itu. Oleh sebab itu, beliau selalu bersikap ramah dan lemah lembut, sekedar menenangkan dan menenteramkan hati mereka.
    .
    Qiblah binti Makhramah bercerita : Aku pernah melihat Rasulullah ﷺ duduk dengan tenangnya. Tiba-tiba rasa takut menyelinap dalam hatiku, akupun menggigil. Kemudian terdengar suara orang berkata : “Ya Rasulullah kasihan benar wanita itu. Ia menggigil takut dengan engkau. Maka beliau tampak melihatku karena aku berada di belakang punggungnya. Lantas beliau berkata : “Kasihan benar engkau, tenangkanlah hatimu.” Setelah kudengar suara itu, segera lenyap rasa takut dalam hatiku.
    .
    Abi Mas’ud Al-Badry menceritakan apa yang pernah dialaminya. Ia mengisahkan : Ketika aku sedang menghajar seorang budakku, tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang. Mulanya tidak kupedulikan karena amarahku sedang meluap. Ternyata Rasulullah ﷺ yang kulihat, maka cemeti yang kupegang jatuh ke tanah dan Beliau berkata kepadaku : “Demi Allah, Tuhan dapat berbuat kepada dirimu lebih dari apa yang engkau lakukan sekarang.” Maka dengan suara tersendat-sendat aku berkata : “Ya Rasulullah, demi Allah saya tidak akan menghajar lagi budakku sesudah ini.”
  • madinah_rjPancaran nurani yang menghiasi keindahan dan keagungan Nabi ﷺ sebagaimana tersebut pada sifat dan gambaran wajahnya, itupun dalam arti yang hakiki. Cahaya beliau adalah cahaya yang pertama kali diciptakan oleh Allah. Sebagaimana yang diriwayatkan hadits Jabir. Menurut Azzarqany, hadits itu juga diriwayatkan oleh An-Naihaqi dan tidak bertentangan dengan hadits riwayat At-Turmidzy, bahwa mahkluk pertama yang diciptakan oleh Allah adalah Al-Qalam. Sebab antara keduanya dapat disesuaikan pengertiannya. Hadits Jabir yang meriwayatkan bahwa Nur Muhammad adalah yang pertama kali diciptakan oleh Allah. Berarti bahwa Allah yang menjadikan segala macam cahaya. Menciptakan Nur Muhammad sebelum menciptakan cahaya yang lain.
    .

    اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين

Tidak ada komentar:

Posting Komentar