ada adegan yang membuat saya terdiam sejenak.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

: (Terlihat mengucapkan salam perpisahan keluar jendela hingga sampai
ada sesi "kiss bye" alias "cium jauh" persis samahalnya yang saya
contohkan kepada keponakan saya saat berpamitan selesai salam, lalu
akupun menengok keluar jendela, karena aku duduk disebelah jendela,
terlihat seorang anak laki-laki muda yang ekspresinya kulihat bahagia.
Ia tertawa lepas dan berpamitan pula kepada Wanita Muda tersebut, Beliau
pun duduk disebelah saya ). "Mbak, ini ke Surabaya?"

: "Inggih Bu, leres. "

: "Terimakasih Mbak "

: " Sami-Sami Bu. Badhe teng Surabaya, tho Bu? "

: " Iya, Mbak "

: " Ibu, asli Surabaya? " (akupun mencoba membuka obrolan)

: " Oh, ndag Mbak. Saya jauh. Dari Bekasi. Tadi dari anak saya dia kuliah. "

: " Oh, kuliah teng pundi Bu? "

: " Alhamdulillah Mbak, ketrima di ** , lewat sbmptn, jalur mandiri , ketrimanya disini e Mbak"

: " Setahu saya, jalur itu, maaf Bu, mahal nggeh? "

: " Iya Mbak, begitulah. Karena diminta data gaji orangtua. Mau
dimiskin-miskinkan nanti malah nanti di aamiini itu
naudzubillahiminzalik. "

: " Naudzubillahimizalik Bu, jangan sampai kayak gitu. Biar Allah saja yang mengatur. Ibu, masih bekerja tho?"
: "Iya, Mbak. "

: " Nanti, pesawat jam berapa Bu di juanda? "

: " jam 10 Mbak. "

: " Loh, nyampe Jakarta malem ya Bu? "

: " Iya, Mbak, gpp, DEMI ANAK , Mbak. "

: (akupun terdiam sejenak) "Putra Panjenengan, niku ragil tho Bu? "
: " Oh ndag, masih Ada SMA, SMP, dan SD. "

: " Oh, heheh. " (akupun teringat, Ayah Ibuk yang berbarengan
nyekolahin Kakakku, Aku, dan adikku. Saat itu, Kakak masuk SMA, Aku
masuk SMP dan adik TK.)
-------------- selesai obrolan sesaat kami, ---------------------
Si Ibu, membuka mushaf Al-Quran dan memulai aktifitas yang sepertinya sudah sering Beliau lakukan.
Sore ini, adalah cerita nyata, yang kesekian kalinya ku temukan, setiap
Ibu akan selalu melakukan yag terbaik yang Beliau bisa lakukan untuk
anaknya, demi anaknya. Selain Beliau selalu mendo'akannya.
Kadang, aku pernah tanya sama Ibu sesuatu hal xxx. Dan jawab Ibu cuma
satu, "sampean akan tahu bagaimana rasanya menjadi Ibu saat sampean
menjadi seorang Ibu, Nduk. Besok rasakne dewe ya, sing ati-ati, sing
seneng nabung, kudu primpen. Wong wedok iku, kudu gelem mangan sak
onone. Ojo neko2."
Akupun cuma mengiyakan setiap kali Ibuk
memberi nasehat yang hampir pointnya itu satu "Kamu akan merasakan
bagaimana jadi Ibu, saat kamu menjadi Ibu".
Tapiiii, dimana-dimana Seorang Ibuk itu selalu keren drngan caranya sendiri Beliau mendidik anak-anakanya.
💪
💞 We love you, Mom. Semogaa, semua Ibu sehat selalu, dan tetap strong, baik lahir maupun batin.
🙏 Aamiin
Terminal Arjosari, Malang
18 Agustus 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar