KISAH RASULULLAH صل الله عليه و سلم
Jilid ke-30
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سیدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سیدنا مُحَمد
Seruan dari Bukit Shafa
Rasulullah ﷺ menaiki Bukit Shafa. Kemudian
dengan suara lantang, beliau memanggil-manggil,
"Wahai orang-orang Quraisy! Wahai
orang-orang Quraisy!"
Penduduk Mekah yang sibuk dengan urusannya
terkejut dan menoleh.
"Muhammad berseru dari atas Shafa!"
seru mereka.
Seketika, orang-orang datang berduyun sambil
bertanya-tanya khawatir,
"Ada apa?"
Rasulullah SAW memandang kerumunan orang di
bawah yang menatapnya dengan wajah penuh tanda tanya.
"Bagaimana pendapat kalian kalau kuberi
tahu bahwa di balik-bukit ini ada pasukan berkuda yang siap menyerbu.
Percayakah kamu kepadaku?"
tanya Rasulullah ﷺ.
"Kami percaya!" jawab orang-orang
yang di berkerumun itu.
"Kami tidak akan meragukan kata-katamu.
Tidak pernah kami mendengar engkau berdusta."
Rasulullah ﷺ menarik napas dan menyampaikan
seruannya,
"Aku mengingatkan kalian sebelum datang
siksa yang amat berat! Wahai orang-orang Quraisy, Allah memerintahkan aku untuk
memberi peringatan kepada kalian bahwa yang terbaik bagi kehidupan dunia dan
akhirat adalah mengucapkan kalimat 'Laa ilaaha illallaah
Muhammadurrasulullah."
Sejenak orang-orang tampak terpesona. Namun,
Abu Lahab yang juga hadir di situ, dengan cepat naik darah. Ia berseru
keras-keras mencaci Rasulullah ﷺ,
"Celaka engkau, Muhammad! Binasa
dan celakalah seluruh hari-harimu! Hanya untuk omong kosong itukah kamu
mengumpulkan kami?"
Rasulullah ﷺ tidak berkata apa-apa dihina
sekeras itu. Beliau hanya menatap tajam wajah Abu Lahab. Setelah teriakan Abu
Lahab itu, orang-orang Quraisy seperti disadarkan dari rasa terpesonanya.
Mereka bubar dengan bermacam tingkah. Ada yang mengerutkan kening, ada yang
berbisik-bisik, ada yang melirik Rasulullah SAW sambil tersenyum mencibir.
Hinaan Abu Lahab itu tidak dibiarkan
Allah.Turunlah firman yang mengutuk perbuatan itu.
Turunnya Surat Al-Lahab
Allah berfirman: mengutuk Abu Lahab
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan
sesungguhnya dia akan binasa.
Surah Al-Lahab (111:1)
مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ
Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan
apa yang ia usahakan.
Surah Al-Lahab (111:2)
سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ
Kelak dia akan masuk ke dalam api yang
bergejolak.
Surah Al-Lahab (111:3)
وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ
Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu
bakar.
Surah Al-Lahab (111:4)
فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ
Yang di lehernya ada tali dari sabut.
Surah Al-Lahab (111:5)
Wahai Abu Lahab, sekarang apa yang akan engkau
katakan? Dengarlah, keponakanmu Muhammad tidak akan pernah lagi bungkam
terhadap orang yang menentangnya. Keponakanmu Muhammad tidak akan pernah lagi
menerima caci maki dan hinaan dari siapa pun sekali pun dari pamannya sendiri.
Jika caci maki itu ditujukan pada ajaran Allah yang dibawanya. Keponakanmu
Muhammad bahkan siap terjun ke medan laga untuk menghadapi orang-orang yang
sombong dan congkak seperti dirimu.
Wahai Abu Lahab dengarkanlah! Dengarkanlah
firman Allah yang baru turun itu! Bukankah firman itu seperti gelegar petir
yang menyambar dirimu?
Dirimulah yang binasa, Abu Lahab! Seluruh
hari-harimulah yang binasa! Binasalah kedua tanganmu dan sungguh engkau akan
benar-benar binasa!
Abu Lahab
Nama asli Abu Lahab adalah Abdul Uzza. Abu
Lahab artinya si "Umpan Api".
Bisa dibayangkan betapa sakitnya hati
Rasulullah ﷺ dihina Abu Lahab. Abu Lahab adalah paman Rasulullah ﷺ.
Lebih dari itu Rasulullah SAW menikahkan kedua
putrinya, Ruqayyah dan Ummu Kultsum dengan ke dua putra Abu Lahab, Utbah dan
Utaibah.
Ummu Jamil
Selain Abu Lahab, ada seorang lagi yang amat
murka dengan turunnya Surat Al Lahab. Dia adalah Ummu Jamil, istri Abu Lahab.
Begitu mendengar bunyi Surat Al Lahab yang disampaikan orang kepadanya,
hati Ummu Jamil menggelegak marah. Ia keluar rumah dan berjalan ke sana kemari
mencari sasaran pelampaisan kemarahan. Tidak lama kemudian, ia bertemu dengan
Abu Bakar. Amarahnya naik ke ubun ubun.
"Apa maksud temanmu melantunkan syair
tentang diriku?" bentak Ummu Jamil kepada Abu Bakar.
Abu Bakar mengerti bahwa yang dimaksud Ummu
Jamil adalah Rasulullah. Sebenarnya, saat itu Rasulullah ada di sisi Abu Bakar,
tetapi Allah menutupi beliau dari pandangan Ummu Jamil.
"Demi Allah, temanku itu tidak pandai
bersyair!" sanggah Abu Bakar.
"Bukankah temanmu itu mengatakan bahwa di
leherku ada tali dari sabut yang dipintal?"
Ummu Jamil meraba-raba lehernya. Di leher itu,
ada untaian kalung yang amat indah. Ia mempertontonkan perhiasannya itu kepada
Abu Bakar sampai Abu Bakar merasa jengah dan memalingkan wajahnya.
"Inilah tali sabut yang dimaksud temanmu
itu?" ejek Ummu Jamil sambil tersenyum. "Tidakkah ini merupakan tali
sabut paling indah di dunia?"
Ummu Jamil kemudian berlenggak-lenggok genit
sambil mempermainkan kalungnya. Ia tertawa dengan congkak. Abu Bakar tidak
membalas, beliau cuma memejamkan mata.
Melihat Abu Bakar yang tetap tenang, Ummu
Jamil melengos pergi sambil mengomel,
"Semua orang Quraisy tahu bahwa aku
adalah putri kebanggaan mereka!"
Ummu Jamil adalah wanita yang sangat cantik.
Ummu Jamil berarti "Ibu Kecantikan". Namun, seperti suaminya, Ummu
Jamil sangat membenci Rasulullah dan kaum Muslimin. Begitu bencinya sampai ia
menyuruh budak-budaknya melemparkan kotoran dan batu kepada Rasulullah setiap
kali beliau lewat.
Bersambung
Diceritakan oleh : Bu Hj Lathifah,Paldaplang,Jogomerto,Baron
Diceritakan kembali oleh : Bapak Ahmad di Majelis Ilmu & Amal
Bersambung
Diceritakan oleh : Bu Hj Lathifah,Paldaplang,Jogomerto,Baron
Diceritakan kembali oleh : Bapak Ahmad di Majelis Ilmu & Amal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar