KISAH RASULULLAH صل الله عليه و سلم
Jilid ke-38
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سیدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سیدنا مُحَمد
Ke Habasyah
Gangguan terhadap kaum Muslimin
semakin berat dari hari ke hari. Bahkan, beberapa orang gugur karena disiksa
terlalu keras. Berdasarkan wahyu dari Allah, Rasulullah pun memerintahkan agar
mereka berhijrah.
"Wahai Rasulullah, ke mana
kami akan pergi?"
Rasulullah menasehati agar mereka
pergi ke Habasyah yang rakyatnya menganut agama Kristen.
"Tempat itu diperintah oleh
seorang raja dan tidak ada orang yang dianiaya di situ. Itu bumi yang jujur,
sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua," demikian sabda
Rasulullah.
Mematuhi perintah Rasulullah,
berangkatlah rombongan pertama kaum Muslimin ke Habasyah pada bulan Rajab,
tahun ke lima kenabian. Rombongan itu terdiri atas 12 orang pria dan 4
perempuan. Dengan sembunyi-sembunyi, mereka meninggalkan Mekah, menyeberangi
laut ke benua Afrika, dan tiba di pantai Habasyah. Seperti yang dikatakan
Rasulullah, Najasyi, Raja Habasyah itu, memberi mereka perlindungan dan tempat
yang baik.
Kelak, ketika mendengar bahwa orang
Quraisy tidak lagi menyiksa kaum Muslimin, mereka kembali pulang. Namun,
ternyata berita itu tidak benar.
Di Mekah, keadaan justru semakin
buruk bagi kaum Muslimin. Mereka pun berangkat kembali ke Habasyah, kali ini
dengan jumlah rombongan yang lebih besar, terdiri atas 83 orang pria dan 18
wanita dipimpin oleh Ja'far bin Abu Thalib.
Habasyah
Saat itu Habasyah adalah negara
yang meliputi bagian selatan Mesir, Erytrea, Ethiopia, dan Sudan. Habasyah
artinya 'persekutuan'. Dahulu Habasyah
bersekutu dengan kerajaan Saba atau Himyar. Kaum Muslimin berangkat dari Teluk
Syu'aibah, sebelah selatan Jeddah.
Amarah Umar
Umar bin Khattab duduk termenung di
rumahnya. Di seluruh Mekah, tidak ada seorang pun yang mampu melunakkan hati
Umar. Ia begitu cepat naik pitam dan garang. Ia tidak pernah luluh oleh rayuan
gadis-gadis penghibur setiap kali ia mendatangi para penjual khamr.
Ia tidak pula pernah terbujuk ikut
bergabung dengan para pejalan malam yang suka bergerombol di pelataran rumah
sambil mendengarkan para penabuh rebana.
Segalanya tidak mampu melembutkan
kekerasan hatinya yang suka bertindak garang dan menakutkan.
Namun kini, ia tengah duduk
termenung sendiri.
"Hamzah, apa yang terjadi
padamu? Engkau menaklukkan dan mempermalukan Abu Jahal, temanmu sendiri! Apa
yang membuatmu jadi seperti ini? Bahkan, engkau berani meninggalkan agama nenek
moyang kita dan bergabung dengan Muhammad! Ini jelas akan membuat pengikut
agama baru ini jadi sombong dan besar kepala!
Hamzah, bukankah engkau, Abu Jahal,
Khalid bin Walid dan aku telah bersama membuat Quraisy jadi suku paling
disegani? Semua itu berkat kerja keras dan keuletan kita berempat. Suku-suku
yang lain iri kepada Quraisy karena Quraisy memiliki kita. Ini semua gara-gara
Muhammad! Hamzah tidak lagi mau minum-minum bersamaku. Betapa sepinya
malam-malam tanpa Hamzah!"
"Muhammad, engkau membuat
pusing kepala orang-orang miskin, para budak, buruh kasar, dan para perempuan
lemah! Engkau membuat mereka berani menentang para majikan! Apa yang engkau
sampaikan pasti sebuah sihir.
Muhammad, tegakah engkau melihat
para pengikut mu pergi meninggalkan tanah air nya ke Habasyah yang begitu jauh?
Ini benar-benar keterlaluan! Aku
harus membunuh Muhammad sekarang juga! Meski aku harus berhadapan dengan Hamzah, aku akan membunuhmu
dan membuat Mekah kembali seperti dulu!"
Setelah berpikir begitu, Umar bin
Khattab mencabut pedangnya. Amarahnya dengan cepat naik ke ubun-ubun. Dengan
langkah-langkah yang tidak bisa dirintangi, Umar berjalan cepat menuju Darul
Arqam. Matanya mengandung api dan pedangnya membara! Tidak seorang pun bisa
menghalangi Umar jika ia sudah bertekat dengan sunguh-sunguh!
Duka Umar
Ummu Abdillah adalah seorang
perempuan tua. Ia juga tetangga Umar bin Khattab. Setelah ia sekeluarga memeluk
Islam, Umar suka mengganggunya. Padahal sebelum itu, Umar cukup hormat dan
bahkan menyayanginya.
Saat itu, Ummu Abdillah tengah
membereskan barang-barang untuk dibawa hijrah ke Habasyah. Tiba-tiba, hatinya
berdebar. Ia melihat Umar bin Khattab melangkah dengan pedang terhunus! Karena
tidak ada waktu lagi untuk lari ke dalam rumah, Ummu Abdillah bersembunyi di balik
barang-barangnya. Hatinya berdebar tidak karuan. Tanpa sadar, ia menahan napas
ketika Umar semakin mendekat.
Akan tetapi, Umar melihatnya dan
berhenti.
"Jadi engkau benar benar akan
berangkat, wahai Ummu Abdillah?"
Ummu Abdillah keluar dari tempat
persembunyiannya. Ia heran karena suara Umar tidak terdengar marah seperti
biasanya.
"Ya, demi Allah. Engkau telah
menyakitiku dan menindasku. Aku akan benar-benar pergi ke bumi Allah hingga
Allah memberikan jalan keluar bagiku," sahut Ummu Abdillah.
Sesaat, Umar tampak merenung,
"Ini dia tetanggaku, mereka akan pergi juga meninggalkan Mekah."
Umar berpaling, menatap wajah tua
Ummu Abdillah dan berkata dalam hati, "Begitu jauh jalan yang akan
ditempuh orang tua ini, begitu sedikit barang yang bisa dibawanya."
Akhirnya Umar melangkah pergi
sambil berkata parau, "Semoga Allah senantiasa menyertaimu."
Ummu Abdillah terpana. Belum pernah
Umar berlaku selembut ini sejak mereka memeluk Islam.
"Tidakkah engkau melihat
kelemahlembutan dan kedukaan Umar terhadap kita?" tanya Ummu Abdillah
kepada putranya.
"Apakah Ibu berharap ia akan
memeluk Islam?" tanya sang putra. "Dia tidak akan pernah memeluk
Islam sebelum keledai bapaknya juga masuk Islam!"
Bersambung
Diceritakan oleh : Bu Hj Lathifah,Paldaplang,Jogomerto,Baron
Diceritakan kembali oleh : Bapak Ahmad di Majelis Ilmu & Amal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar