Jilid ke-37
Tawaran Utbah bin Rabi'ah
"Sesak dadaku melihat Muhammad
dan para pengikutnya!" teriak seorang pembesar Quraisy. "Setiap hari
mereka semakin kuat!" geram yang lain. "Semua gangguan dan siksaan
kita seolah tidak berpengaruh apa-apa. Sangat mengherankan!" gerutu yang
lain menggelengkan kepala.
Ketika suasana bertambah
panas, Utbah bin Rabi'ah berdiri. Semua
orang memandangnya dan menunggu.
"Kalau jalan kekerasan tidak
membuahkan hasil, sudah saatnya kita mencoba cara lain, " kata Utbah bin
Rabi'ah.
Suaranya pelan dan tenang.
"Kalau kalian setuju, aku akan
bicara dengan Muhammad dan menawarkan beberapa hal menarik kepadanya. Apakah
kalian setuju?"
Setelah terdiam sejenak, akhirnya
orang orang Quraisy itu pun setuju.
"Coba laksanakan usulmu! Kami
bersedia memberi apa saja asal Muhammad mau bungkam!" kata mereka.
Utbah bin Rabi'ah pun menemui
Rasulullah.
"Anakku," katanya lembut,
"engkau adalah orang
terhormat. Namun kini, engkau membawa soal besar sehingga masyarakat kita
tercerai-berai. Sekarang dengarlah, kami menawarkan kepadamu beberapa hal,
mungkin sebagiannya bisa engkau terima. Anakku, kalau yang engkau inginkan
adalah harta, kami siap mengumpulkan dan memberikan harta kami sehingga engkau
akan menjadi seorang paling kaya. Kalau engkau ingin kedudukan, akan kami
angkat engkau sebagai pemimpin kami sehingga kami tidak akan mengambil
keputusan tanpa persetujuanmu. Kalau engkau ingin menjadi raja, akan kami
nobatkan engkau menjadi raja kami. Jika engkau diserang penyakit yang tidak
dapat engkau sembuhkan sendiri, akan kami biayai pengobatannya dengan harta
kami sampai engkau sembuh."
Rasulullah terdiam sejenak. Utbah
bin Rabi'ah merasa kata katanya yang berbunga itu seolah menguap tanpa jejak ke
udara.
Surat Fushilat
Rasulullah lalu membaca ayat-ayat
Al Qur'an Surat Fushilat mulai dari ayat pertama:
بِسْمِ
اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
(1). حم
Haa Miim. (Haa Miim) hanya Allah
saja yang mengetahui arti dan maksudnya.
(2). تَنْزِيلٌ
مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Diturunkan dari Tuhan Yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang.
(3). كِتَابٌ
فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya,
yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui,
(4). بَشِيرًا
وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ
yang membawa berita gembira dan
yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka
mereka tidak (mau) mendengarkan.
(5). وَقَالُوا
قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِمَّا
تَدْعُونَا إِلَيْهِ وَفِي آذَانِنَا وَقْرٌ
وَمِنْ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ إِنَّنَا
عَامِلُونَ
Mereka berkata: "Hati kami
berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di
telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka lakukanlah
(sesuai kehendak kamu); sesungguhnya kami akan melakukan (sesuai kehendak
kami)".
Rasulullah terus membacakan
ayat-ayat lanjutannya yang menuturkan tentang Rasulullah hanyalah seorang
pemberi peringatan, tentang gunung-gunung yang kokoh, tentang penciptaan langit
dan tujuh lapisannya, tentang azab petir yang menimpa kaum Tsamud, tentang
ngerinya nasib kaum kafir yang menolak wahyu dari Allah.
Ayat-ayat itu begitu memesona Utbah
sampai ia lupa pada apa yang ia tawarkan kepada Rasulullah. Hatinya semakin
hanyut, larut, dan...
"Cukuplah Muhammad. Cukuplah
sekian saja!" seru Utbah. Ia diam sejenak, lalu kemudian bertanya lagi,
"Apakah engkau dapat menjawab
selain yang tadi engkau baca?"
"Tidak".
Utbah terpana.
"Jadi, inilah Muhammad,"
pikirnya.
"Laki laki ini bukanlah orang
yang ingin memiliki gunungan harta, kedudukan, kerajaan, dan sama sekali bukan
orang sakit. Ia hanyalah orang yang ingin mempertahankan tugasnya dengan baik
sekali dan ia tadi mengucapkan kata kata penuh mukjizat..."
Begitulah, akhirnya Utbah bin
Rabi'ah kembali dengan tangan hampa. Para pembesar Quraisy pun kecewa karena
Rasulullah menolak tawaran mereka. Kemudian, penganiayaan dan siksaan terhadap
kaum Muslimin pun berlanjut dan semakin ganas.
Bersambung
Diceritakan oleh : Bu Hj Lathifah,Paldaplang,Jogomerto,Baron
Diceritakan kembali oleh : Bapak Ahmad di Majelis Ilmu & Amal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar