Jilid ke-36
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سیدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سیدنا مُحَمد
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سیدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سیدنا مُحَمد
Singa Padang Pasir
Orang-orang terus menertawakan
Rasulullah setiap kali lewat. "Pembohong besar! Orang gila! Tukang
sihir!"
Abu Jahal terus menyemangati
orang-orang yang mengejek sambil kerap kali melontarkan caci maki juga.
Rasulullah mendadak berhenti
melangkah. Beliau berpaling dengan tenang menghadap Abu Jahal, dengan sorot
matanya tajam. Abu Jahal berhenti dan terdiam. Dengan wajah sayu penuh belas
kasihan, Rasulullah memandang orang-orang kecil yang mengejeknya. Seketika,
sorak-sorai pun mereda. Semua orang yang berada di sekitar tempat itu terpesona
melihat keadaan Rasulullah. Baru kali ini mereka seolah disadarkan, betapa
menyakitkannya ejekan mereka itu diterima Rasulullah.
Sorot mata Rasulullah seolah
berkata, "Mengapa kalian mengejekku? Bukankah aku sedang berjuang
menyelamatkan kalian dari kekejaman bangsa Quraisy dengan membawa Islam yang
mulia? Seandainya kalian tahu, ejekan Abu Jahal itu tidak begitu menyakitkan
dibanding kata-kata kalian, sebab kepada kalianlah Allah meyuruhku menebar kasih
sayang."
Tanpa sepatah kata pun, Rasulullah
berlalu. Orang-orang bubar dengan membawa perasaan masing-masing. Tatapan
Rasulullah tadi sangat berkesan di hati seorang budak perempuan. Ketika budak
itu berjalan pulang, ia melihat Hamzah bin Abdul Muthalib datang.
Hamzah adalah paman Nabi, usia
mereka hampir sebaya. Dari kecil, Rasulullah dan Hamzah dibesarkan bersama,
bermain bersama, dan menjadi sahabat karib. Karena itulah Hamzah begitu
menyayangi Rasulullah.
Hamzah berjalan gagah dan bangga
memasuki Mekah. Ia betul-betul laki-laki perkasa dengan perawakan tinggi dan
kekar. Dengan wajah angkuh, Hamzah melangkah sambil menyandang busurnya. Ia
habis berburu.
Orang-orang yang melihatnya pun
berbisik kagum. Namun, budak perempuan tadi merasa ada yang janggal, mengapa
orang segagah ini tidak membela Muhammad, keponakannya sendiri?
Mengapa ia bisa setenang itu?
Tahukah ia bahwa Muhammad
keponakannya, dicaci maki orang?
Muhammad dihina pemimpin kabilah
lain yang menjadi saingan Bani Hasyim!
Pantaskah ia disebut sebagai pemuda
perkasa yang pantang menyerah pada lawan, sedangkan ia tidak berbuat apa pun
ketika seorang keluarga Bani Hasyim dicaci maki orang?
Dengan dada hampir meluap, budak
perempuan itu menegur Hamzah, "Tuan, tidak tahukah Anda apa yang menimpa
kemenakanmu itu?"
Hamzah berhenti dan budak perempuan
itu menceritakan apa yang dilihatnya. Dalam sekejap saja, wajah Hamzah memerah.
Tanpa berkata apa pun, ia berbalik menuju Ka'bah dengan langkah bergegas. Ia
mencari Abu Jahal.
Kebimbangan Hamzah
Di depan Ka'bah, Abu Jahal
bercerita kepada beberapa temannya, "Puas rasanya melihat Muhammad dicaci
begitu banyak orang", ujar Abu Jahal, "Kalau kuberi semangat sedikit
lagi, bukan tidak mungkin mereka akan memukulinya."
Teman-temannya terlihat ikut
bersemangat. Beberapa orang mulai ikut bicara, tetapi mendadak semuanya terdiam
dan memandang ke satu arah. Abu Jahal ikut menoleh dan seketika kerongkongannya
tercekat. Hamzah bin Abdul Muthalib, sang pahlawan Bani Hasyim, menjulang di
belakangnya dengan mata menyala tanpa ampun.
"Beraninya engkau mencaci maki
Muhammad, padahal aku telah memeluk agamanya? Coba lakukan penghinaanmu
kepadaku jika engkau benar-benar jantan!"
Setelah berkata begitu, Hamzah
melayangkan busurnya. Bunyinya mendecit, cepat , dan keras sehingga kepala Abu
Jahal pun terluka.
Beberapa teman Abu Jahal serempak
berdiri. Tampaknya, perkelahian tidak terhindarkan lagi. Ketika Abu Jahal
melihat ini, ia mengangkat tangan untuk mencegah teman temannya. Abu Jahal
yakin, dalam keadaan seperti itu, Hamzah tidak akan ragu-ragu membunuh orang.
Dengan napas tersengal, Abu Jahal
memegangi kepalanya. Ia berkata sambil menahan marah, "Kita tinggalkan
saja dia! Aku memang telah mencaci maki kemenakannya."
Mereka pun pergi dengan geram dan
murung. Namun, hati Hamzah belum lagi lega. Ia pulang dengan bimbang,
"Mengapa begitu mudah kutinggalkan agama nenek moyangku?"
Setelah melewati malam yang
gelisah, Hamzah akhirnya berdoa, "Ya Tuhan, jika Muhammad benar, teguhkanlah
hatiku. Jika Muhammad salah, jauhkanlah aku darinya!"
Hamzah menemui Rasulullah dengan
sedih dan menceritakan semua kegelisahan hatinya. Rasulullah lalu membacakan
beberapa ayat Al Qur'an.
Perlahan, hati Hamzah dipenuhi rasa
tenang, haru, dan kagum. Dengan bulat hati, ia pun berkata,
"Aku menyaksikan bahwa engkau
itu sungguh benar, maka itu tampakkanlah agamamu, hai anak saudaraku!"
Bukan main bersyukurnya Rasulullah.
Kini, Islam telah memiliki benteng yang kuat dalam menghadapi kekerasan Quraisy.
Hamzah memeluk Islam pada akhir tahun ke enam kenabian (nubuwwah).
Orang-orang Quraisy tidak putus
asa, Mereka mempunyai cara lain untuk menekan perjuangan Rasulullah.
Singa Allah dan Singa Rasul-Nya
Kemudian seluruh kegagahan Hamzah
dibaktikannya untuk membela Allah dan agama-Nya, sehingga Rasulullah memberi
Hamzah julukan istimewa, Singa Allah dan Singa Rasulullah. Hamzah adalah
komandan Sariyah yang pertama.
Sariyah adalah pasukan Muslim yang
berangkat tanpa disertai Rasulullah.
Bersambung
Diceritakan oleh : Bu Hj Lathifah,Paldaplang,Jogomerto,Baron
Diceritakan kembali oleh : Bapak Ahmad di Majelis Ilmu & Amal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar