KISAH RASULULLAH صل الله عليه و سلم
Jilid ke-43
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سیدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سیدنا مُحَمد
Kaum Muslimin Menang
Siasat para utusan Quraisy itu sederhana saja.
"Paduka" kata mereka kepada Najasyi
keesokan harinya, sesungguhnya kaum Muslimin menuduh keji terhadap Isa anak
Maryam."
Mendengar itu,
Najasyi terkejut. Dia langsung memanggil Ja'far dan teman-temannya.
"Benarkah kalian menuduh Isa anak Maryam dengan
tuduhan yang jelek?" tanya Najasyi.
Ja'far kembali menjawab dengan tenang. "Tentang
dia, pendapat adalah seperti yang dikatakan Nabi kami. "Dia adalah hamba
Allah dan utusan-Nya. Ruh-Nya dan firman-Nya yang disampaikan perawan Maryam.
"
Najasyi turun dari singgasananya dengan mata
berbinar gembira. Dia mengambil sebuah tongkat dan membuat garis lurus diatas
tanah.
"Antara agama Tuan-Tuan dan agama kami,"
katanya penuh gembira bercampur haru, "sebenarnya tidak lebih dari garis
ini."
Nyata bagi Najasyi bahwa kaum Muslimin mengakui Nabi
Isa, mengenal adanya Kristen, dan menyembah Allah.
Kedua utusan Quraisy pun pulang dengan tangan hampa.
Tidak ada celah bagi tuduhan atau siasat yang mereka lancarkan. Kenyataan pahit
ini akan segera sampai kepada para pemuka Quraisy di Mekah.
Setelah itu kaum Muslimin tinggal di Habasyah dengan
perasaan aman dan tentram.
Sempat Kembali
Kaum muslimin yang berhijrah ke Habasyah sempat
kembali ke mekah karena mendengar berita bahwa orang Quraisy sudah tidak
terlalu keras memusuhi Rasulullah dan pengikutnya. Namun, ketika mengetahui
bahwa orang Quraisy malah bersikap semakin keras, mereka kembali berhijrah ke
Habasyah.
Ajakan Saling Menyembah Tuhan
Di Mekah, para pembesar Quraisy, Abu Jahal bin
Hisyam, Abu Sufyan bin Harb, Abu Lahab, Utbah bin Rabi'ah, Walid bin Mughirah,
dan Ummayah bin Khalaf mengundang Rasulullah ke pertemuan mereka. Sejenak, hati
Rasulullah penuh harapan, mungkin lewat pertemuan hari ini mereka akan
tersentuh oleh Islam.
Alangkah kecewanya Rasulullah ketika lagi-lagi yang
mereka tawarkan kepadanya adalah soal harta dan kekuasaan. Beliau diam sejenak,
lalu berkata,
"Apa yang kalian katakan sama sekali tidak
pernah terlintas dalam lubuk hatiku. Aku datang memenuhi ajakan kalian untuk
mengadakan perundingan. Tidak ada maksud sama sekali untuk mencari harta
kekayaan, tidak pula kemuliaan, dan kekuasaan.
Allah telah mengutus diriku sebagai utusan bagi
kalian semua. Jika kalian mau menerima ajaran-ajaran yang kubawa, hal itu
merupakan keberuntungan kalian di dunia dan di akhirat. Jika kalian semua
menolak, aku akan bersabar hingga Allah memutuskan persoalan yang terjadi di
antara aku dan kalian."
Para pembesar Quraisy itu mengerutkan kening.
Lagi-lagi Muhammad bicara tentang Tuhannya. Salah seorang di antara mereka pun
akhirnya bicara,
"Marilah antara kami dan engkau mengadakan
kerja sama dalam persoalan ketuhanan ini. Jika yang kami sembah lebih baik
daripada yang kamu sembah, kami akan memperoleh keuntungan darinya. Jika yang
engkau sembah lebih baik daripada yang kami sembah, engkau akan memperoleh
keuntungan darinya."
Orang itu menarik napas sejenak, lalu melanjutkan
lagi,
"Maka, engkau harus menyembah tuhan-tuhan kami
dan menjalankan perintah-perintahnya. Kami akan menyembah Tuhanmu dan
menjalankan perintah-Nya."
Rasulullah tidak menunggu sejenak pun untuk
menanggapi. Beliau mengutip sebuah ayat Al Qur'an (surah Al-Kafirun),
لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ
Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
Surah Al-Kafirun (109:2)
وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
Surah Al-Kafirun (109:3)
وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ
Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu
sembah,
Surah Al-Kafirun (109:4)
وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan
yang aku sembah.
Surah Al-Kafirun (109:5)
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.
Surah Al-Kafirun (109:6)
Perundingan pun buntu. Para pembesar Quraisy itu
merasa tidak ada jalan lagi untuk melakukan perubahan. Mereka merasa harus
mengambil tindakan keras! Begitu kerasnya sampai Muhammad dan pengikutnya akan
meminta ampun kepada mereka!
Pemboikotan
"Kalian bayangkan!" seru seorang pemuka
Quraisy kepada yang lainnya. "Jumlah pengikut Muhammad kian bertambah!
Budak-budak kita telah berani mengangkat muka di hadapan tuan-tuannya sebab
mereka dilindungi para pengikut Muhammad yang kaya raya! Jika kita menyiksa
budak itu, pasti datang salah seorang pengikut Muhammad yang tanpa berat hati
akan membebaskan mereka!"
"Itu yang membuatku khawatir!" sahut yang
lain,
"bayangkan jika jumlah budak yang dibebaskan
itu makin banyak dan mereka diberi senjata, kita pasti akan kewalahan
menghadapinya!"
Pembesar yang lain terdiam. Mereka mengakui ancaman
besar itu.
"Sejak Hamzah dan Umar mengikuti Muhammad, kita
benar-benar kekurangan kekuatan," keluh seseorang.
Kata-kata itu menyakitkan dan membuka luka lama.
Bagi para pembesar itu, puluhan budak yang masuk Islam tidak sebanding dengan
keislaman seorang Hamzah atau Umar.
"Muhammad tidak akan berdaya kalau keluarganya
dari Bani Hasyim tidak melindunginya!" geram seseorang.
"Ya, Bani Hasyim pun belum semuanya jadi
pengikut Muhammad, mereka harus menerima akibatnya! Kita boikot mereka semua!
Jangan beri mereka kesempatan untuk mencari nafkah! Kita buat mereka semua
miskin dan sengsara!"
Seruan itu disambut ramai oleh para pembesar.
Akhirnya, mereka mengeluarkan sebuah pengumuman yang mereka tulis di atas
sebuah lembaran. Isinya melarang seluruh manusia menjalin hubungan pernikahan
dan jual beli dengan Bani Hasyim. Lembaran itu mereka gantungkan di dinding
Ka'bah.
Keesokan harinya, penduduk Mekah menjadi gempar.
Keputusan ini akan membuat Bani Hasyim terkucil, kelaparan dan tertekan.
Bersambung
Diceritakan oleh : Bu Hj Lathifah,Paldaplang,Jogomerto,Baron
Diceritakan kembali oleh : Bapak Ahmad di Majelis Ilmu & Amal
Bersambung
Diceritakan oleh : Bu Hj Lathifah,Paldaplang,Jogomerto,Baron
Diceritakan kembali oleh : Bapak Ahmad di Majelis Ilmu & Amal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar