KISAH RASULULLAH صل الله عليه و سلم
Jilid ke-35
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سیدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سیدنا مُحَمد
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سیدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سیدنا مُحَمد
Darul Arqam
Waktu terus berjalan.
Kegigihan dakwah Rasulullah ﷺ mulai berbuah, sedikit demi sedikit, para pemeluk
Islam mulai bertambah. Rumah Rasulullah yang kecil itu mulai terasa sempit.
"Ya Rasulullah,
alangkah baiknya jika kita memindahkan tempat pertemuan ke rumahku," usul
Arqam. "Rumahku cukup luas untuk menampung jumlah kita yang sudah puluhan
orang. Lagi pula, letaknya ada di puncak bukit. Orang-orang jahat tidak mudah
mencapai tempat itu untuk mengganggu kita."
Rasulullah pun setuju.
Oleh karena itu, pertemuan setiap malam pun pindah ke rumah Arqam. Sebagian
pemeluk Islam waktu itu adalah orang-orang lemah: para budak, buruh, orang
miskin, perempuan-perempuan fakir, serta orang tertindas lain. Sisanya adalah
golongan orang terpelajar dan pedagang kaya.
Sebenarnya, kebanyakan
pedagang mulanya agak ragu.
"Bagaimana jika
nanti ajaran baru ini menutup Mekah dari rombongan saudagar dari tempat-tempat
lain? Kalau demikian yang terjadi, kita akan bangkrut." Ujar seorang
pedagang.
Namun, keraguan itu
ditepis Rasulullah. Islam tidak akan menutup Mekah. Islam juga tidak akan
mengubah musim ziarah ketika justru banyak pedagang mancanegara berdatangan ke
Mekah. Islam tidak melarang semua itu.
Hal yang dilarang
adalah:
1. Menyembah
berhala
2. Menyerahkan
persembahan dan korban kepada bangsawan Quraisy
3. Bertelanjang ketika
thawaf di Ka'bah
4. Menyelenggarakan
pelacuran
5. Mengeluarkan
kata-kata kotor dan tindakan buruk lain saat melaksanakan ziarah
Rencana Para Pemuka
Quraisy
Setelah mendengar
penjelasan Rasulullah, para pedagang pun merasa lega. Kebanyakan mereka bukan
pedagang budak dan tidak menarik untung dari korban yang dipersembahkan untuk
bangsawan-bangsawan Quraisy. Iman mereka pun semakin kuat.
Melihat Islam semakin
dicintai para pengikutnya, para pembesar Quraisy pun menyusun rencana lain...
"Apa yang harus
kita lakukan?" teriak seorang pemuka Quraisy.
"Abu Bakar dan
teman-temannya terus membebaskan budak-budak kita! Tidak ada jalan lain, bunuh budak-budak
itu agar yang lain ketakutan!"
"Tidak,"
geleng Abu Jahal lemah. "Sumayyah telah kubunuh, tapi itu tidak membuat
yang lain takut. Cari saja cara yang lain!"
Seorang pemuka Quraisy
berdiri cepat,
"Pukuli Muhammad
sampai remuk! Dengan demikian, wibawanya akan hancur dan pengikutnya pun bubar
ketakutan!"
"Namun, keluarga
Muhammad dari Bani Hasyim akan membelanya!" lengking yang lain.
"Siapa? Abu
Thalib sudah terlalu tua! Yang harus kita takuti dari Bani Hasyim adalah
Hamzah! Namun, engkau lihat sendiri, Hamzah sibuk berfoya-foya sendiri! Ia
tidak peduli pada nasib keponakannya itu! Pilihlah dua orang yang paling
ditakuti di Mekah untuk melaksanakan tugas ini!"
Sejenak, orang-orang
terdiam sambil memandang berkeliling. Kemudian, seorang dari mereka menunjukkan
jarinya kepada pemuda bertubuh tinggi besar,
"Engkau, Umar bin
Khattab! Engkau dan Abu Jahal! Tidak ada orang lain yang berani melawan kalau
kalian memukuli Muhammad!"
Orang-orang berseru
"setuju."
"Sabar,"
tiba-tiba seseorang berseru,
"langkah awal
bukanlah serangan fisik! Hancurkan dulu wibawanya! Ku usulkan agar kita suruh
para budak melempari Muhammad dan meneriakinya sebagai pembohong, orang gila,
dan tukang sihir!"
Usul itu disetujui.
Mulai hari itu, setiap Rasulullah melewati jalan-jalan di Mekah, para budak,
para wanita yang nasibnya justru sedang diperjuangkan Rasulullah, meneriaki
beliau,
"Pembohong besar!
Orang gila! Tukang sihir!"
Suara mereka keras dan
tajam layaknya orang sedang mengusir kucing yang masuk dapur. Kemudian, apa
yang terjadi jika Abu Jahal atau Umar mulai memukuli Rasulullah
Kuda Jantan
Saat itu merupakan
masa yang berat bagi Rasulullah. Beliau pergi ke sebuah tempat yang teduh,
berbaring di atas batu, dan berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
Tidak ada yang lebih menyakitkan dibanding cacian dan celaan dari orang-orang
yang justru sedang diperjuangkan Rasulullah mati-matian.
Sementara itu, di
depan Ka'bah, Abu Jahal berkoar di depan teman temannya,
"Aku bersumpah
untuk menghantam kepala Muhammad dengan sebuah batu ketika dia sedang sujud
kepada Tuhannya!"
Beberapa orang
bersorak memberi semangat, sedangkan yang lain saling pandang dengan terkejut.
Itu adalah sebuah tindakan kejam yang dapat menimbulkan kematian. Jika Muhammad
meninggal, Bani Hasyim pasti akan menuntut balas dan Mekah akan terpecah oleh
perang saudara. Namun, Abu Jahal telah mengucapkan sumpah yang tidak dapat
ditarik lagi tanpa mencoreng mukanya sendiri. Oleh karena itu, mereka memilih
untuk mengamati apa yang terjadi dengan dada berdebar-debar.
Kesempatan yang
ditunggu Abu Jahal pun tiba. Saat itu, Rasulullah sedang shalat di depan
Ka'bah. Ketika beliau sujud, Abu Jahal dengan cepat melangkah mendekat. Kedua
tanganya yang menggenggam batu terangkat tinggi-tinggi, matanya menyala buas.
Namun, ketika batu
akan dihujamkan sekuat tenaga, mendadak Abu Jahal berbalik pergi. Batu di
tangannya lepas dan wajahnya pucat ketakutan.
"Ada apa?"
semua teman- temannya bertanya kebingungan.
Dengan napas
tersendat-sendat, Abu Jahal berkata,
"Demi Tuhan, di depanku
tadi berdiri seekor kuda jantan. Belum pernah aku menyaksikan seekor kuda
jantan serupa itu. Kepala, tengkuk, dan giginya sungguh mengerikan. Aku yakin
dia akan menelanku seandainya batu tadi kuhantamkan!"
Abu Jahal pergi
cepat-cepat untuk menenangkan diri.
Orang-orang memandang
Rasulullah dengan heran dan takjub. Sementara itu, Rasulullah tetap melanjutkan
shalat dengan khusyuk. Wajah beliau begitu teduh dan tenteram.
Diceritakan oleh : Bu Hj Lathifah,Paldaplang,Jogomerto,Baron
Diceritakan kembali oleh : Bapak Ahmad di Majelis Ilmu & Amal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar