KISAH RASULULLAH صل الله عليه و سلم
Jilid ke-34
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سیدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سیدنا مُحَمد
Syahidah Pertama
Sabar, demikian sabda Rasulullah ﷺ, setiap kali para pengikutnya
mengadukan penderitaan mereka. Saat itu memang tidak ada lagi yang dapat
diperbuat selain sabar sampai mati. Sabar yang demikian membuat para pemeluk
Muslim pertama sanggup menanggung derita siksa di luar batas kemampuan fisik
manusia.
Khabbab bin Al Arat pernah meminta
agar Rasulullah ﷺ berdo'a kepada Allah dalam menghadapi
penindasan ini. Mendengar ini, Rasulullah
duduk dengan wajah merah padam seraya bersabda,
"Sungguh telah terjadi sebelum
kamu, ada orang yang disisir badannya dengan sisir besi hingga dagingnya
mengelupas dan terlihat tulang-tulangnya. Akan tetapi, ia tetap teguh memegang
keyakinannya. Allah سُبْحَانَهُ
وَ تَعَالَى akan menyempurnakan
urusan ini sampai seorang penunggang kuda berjalan dari Shan'a ke Hadramaut dan
ia tidak takut kecuali kepada Allah. Ingatlah, serigala akan tetap ada di
tengah-tengah gembalaan, hanya saja kalian lengah."
Sumayyah adalah ibu Ammar bin
Yasir. Beserta suami dan anaknya, Sumayyah disiksa karena mengikuti ajaran
Rasulullah. Ia diseret di jalan-jalan Kota Mekah, lalu dilempar ke padang
pasir.
"Pukuli dia! Pukuli dia
sekuat-kuatnya!" Perintah Abu Jahal.
Sumayyah pun dipukuli sampai
pingsan. Kejadian ini dilakukan berulang-ulang selama berhari-hari. Namun,
semakin sakit tubuhnya, iman Sumayyah malah semakin tinggi.
"Engkau mengikuti Muhammad
karena tertarik pada ketampanannya!" ejek Abu Jahal.
"Tidak," geleng Sumayyah,
"Aku mengikuti Rasulullah
karena percaya pada apa yang beliau sampaikan. Aku mengikuti Rasulullah karena
beliau mengajarkan ada Tuhan yang lebih patut disembah daripada berhala-berhala
kalian!"
Akhirnya, kesabaran Abu Jahal pun
habis. Dia mengambil tombak dan menusuk Sumayyah.
Sumayyah tercatat dalam sejarah
sebagai perempuan muslim pertama yang syahid (syahidah) karena membela Islam.
Surga Untuk Keluarga Yasir
Ketika Rasulullah ﷺ menyaksikan Yasir, Sumayyah
dan putra Yasir yang bernama Ammar disiksa habis-habisan, beliau bersabda,
"Sabar wahai keluarga Yasir, tempat yang telah dijanjikan bagi kalian
adalah surga."
PENEBUSAN
Melihat saudara-saudara baru mereka
disiksa demikian kejam, Abu Bakar, Utsman bin Affan, dan semua orang kaya yang
beriman segera bertindak. Abu Bakar mendatangi Umayyah bin Khalaf yang sedang
menyiksa Bilal.
"Bebaskan dia," pinta Abu
Bakar.
"Tidak!" Cibir Umayyah.
"Engkau dan temanmu telah
meracuni pikirannya! Justru aku yang minta kamu menghentikan pengaruh jahatmu
terhadap budakku ini!"
Abu Bakar merasa bahwa hati Umayyah
tidak mungkin dibujuk lagi, maka dia segera mengajukan penawaran.
"Kubeli Bilal darimu! Lihat,
ini lima uqiyah emas! Ambil uang itu, dan berikan Bilal kepadaku!"
Dengan seringai penuh kemenangan,
Umayyah menyambar uang-uang emas itu.
"Wahai Abu Bakar! Andaikata
engkau menawar satu uqiyah saja, sudah tentu aku menjualnya! Dia sudah tidak
berharga lagi bagiku!"
Wajah Abu Bakar memerah, bukan
karena marah, melainkan karena dipenuhi rasa bahagia bisa menolong saudaranya yang
tertindas.
"Jangan hanya lima
uqiyah" ujar Abu Bakar sepenuh hatinya, "Andaikan engkau menjual
seratus uqiyah pun, aku akan tetap membelinya!"
Kini giliran wajah Umayyah yang
memerah. Terbayang keuntungan yang akan didapatnya seandainya ia menawar lebih
tinggi lagi.
Abu Bakar yang baik hati kemudian
membebaskan Bilal. Tidak berhenti sampai di situ, beliau pun terus menggunakan
hartanya untuk membebaskan lima kaum muslimin lain yang tengah disiksa. Budak
terakhir yang dibebaskan adalah budak milik Umar bin Khattab.
Orang-orang Quraisy mengejek Abu
Bakar, "Alangkah sia-sianya Abu Bakar itu! Dia membuang-buang uang untuk
membebaskan orang!"
Namun, semangat Abu Bakar justru
membakar kaum muslimin lain untuk turut berusaha keras membebaskan
saudara-saudara mereka.
Diceritakan oleh : Bu Hj Lathifah,Paldaplang,Jogomerto,Baron
Diceritakan kembali oleh : Bapak Ahmad di Majelis Ilmu & Amal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar