KISAH RASULULLAH صل الله عليه و سلم
Jilid ke-42
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سیدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سیدنا مُحَمد
Jawaban Kaum Muslimin
Saat itu, yang menjadi juru bicara
kaum Muslimin adalah sepupu Rasulullah yang amat tampan, Ja'far bin Abu Thalib.
"Paduka Raja," Ucap
Ja'far penuh hormat,
"ketika itu, kami masyarakat
yang bodoh, kami menyembah berhala, bangkai pun kami makan, segala kejahatan
kami lakukan, memutuskan hubungan dengan kerabat, dengan tetangga pun kami
tidak baik, yang kuat menindas yang lemah.
Demikian keadaan kami sampai Tuhan
mengutus seorang utusan-Nya dari kalangan kami yang sudah kami kenal
asal-usulnya. Dia jujur, dapat dipercaya, dan bersih pula.
Dia mengajak kami menyembah Allah Yang
Mahatunggal, meninggalkan batu-batu dan patung-patung yang selama ini kami dan
nenek moyang kami menyembah.
Dia menganjurkan kami untuk tidak
berdusta, untuk berperilaku jujur, mengadakan hubungan baik dengan keluarga dan
tetangga, menyudahi pertumpahan darah, serta menghentikan perbuatan terlarang
lainnya.
Dia melarang kami melakukan segala
kejahatan dan menggunakan kata-kata dusta, melarang memakan harta anak yatim,
dan melarang mencemarkan perempuan-perempuan bersih.
Dia minta kami menyembah Allah dan
tidak menyekutukan-Nya. Selanjutnya, disuruhnya kami melakukan shalat, zakat,
dan shaum (lalu Ja'far menyebut beberapa ketentuan Islam).
Kami pun membenarkannya. Kami turut
segala yang diperintahkan Allah. Lalu, yang kami sembah hanya Allah Yang Mahatunggal,
tidak menyekutukan-Nya dengan apa dan siapa pun juga.
Segala yang diharamkan kami jauhi
dan yang dihalalkan kami lakukan. Oleh karena itulah, masyarakat kami memusuhi
kami, menyiksa kami, dan menghasut kami, dan supaya kami meninggalkan agama kami
dan kembali menyembah berhala supaya kami membenarkan segala keburukan yang
pernah kami lakukan dulu.
Oleh karena mereka memaksa kami,
menganiaya kami, menekan kami, dan menghalang-halangi kami dari agama kami,
maka kami pun keluar, pergi ke negeri Tuan ini. Tuan jugalah yang menjadi
pilihan kami. Senang sekali kami berada di dekat Tuan, dengan harapan, di sini
tidak akan ada penganiayaan."
Najasyi mendengarkan penuh dengan
kesungguhan, lalu katanya, "Adakah ajaran Tuhan yang dibawanya itu yang
dapat Tuan-tuan bacakan kepada kami?"
Surat Maryam
"Ya," jawab Ja'far.
Lalu, ia membaca surat Maryam, ayat
29-33:
فَأَشَارَتْ
إِلَيْهِ ۖ قَالُوا كَيْفَ
نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي
الْمَهْدِ صَبِيًّا
maka Maryam menunjuk kepada
anaknya. Mereka berkata: Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang
masih di dalam ayunan?
Surah Maryam (19:29)
قَالَ
إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ
الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا
Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba
Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,
Surah Maryam (19:30)
وَجَعَلَنِي
مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ
وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا
dan Dia menjadikan aku seorang yang
diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan)
shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;
Surah Maryam (19:31)
وَبَرًّا
بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا
شَقِيًّا
dan berbakti kepada ibuku, dan Dia
tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.
Surah Maryam (19:32)
وَالسَّلَامُ
عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ
أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا
Dan kesejahteraan semoga
dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan
pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.
Surah Maryam (19:33)
Ayat-ayat Al-Qur'an itu membenarkan
kitab Injil. Semua pemuka istana dibuat terkejut. Mereka berkata,
"Itu kata-kata yang keluar
dari sumber yang mengeluarkan kata-kata Isa Al Masih."
Penuh haru, Najasyi membenarkan
para pembesar istananya,
"Kata- kata ini dan yang
dibawa oleh Musa, keluar dari sumber cahaya yang sama."
Najasyi berpaling kepada kedua
utusan Quraisy,
"Pergilah. Kami takkan
menyerahkan mereka kepada Tuan-Tuan!"
Kaum Muslimin saling berpandangan
penuh syukur. Sementara itu, Amr bin Ash dan Abdullah bin Rabi'ah berjalan
keluar istana dengan wajah murung.
"Tidak bisa begini,"
keluh Abdullah.
"Tidak bisa kita jauh-jauh
datang kesini untuk kemudian pulang dengan tangan hampa dan terhina."
Amr bin Ash, yang terkenal lihai
dalam bersiasat, merenung sejenak.
"Rasanya, aku masih punya
siasat lain," katanya. "Namun, biar kita kembali esok hari. Biarkan
para pengikut Muhammad itu merasa senang. Besok, akan kita kejutkan mereka
dengan pertanyaan yang akan kita ajukan kepada Najasyi."
Bersambung
Bersambung
Diceritakan oleh : Bu Hj Lathifah,Paldaplang,Jogomerto,Baron
Diceritakan kembali oleh : Bapak Ahmad di Majelis Ilmu & Amal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar