KISAH RASULULLAH صل الله عليه و سلم
Jilid ke-31
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سیدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سیدنا مُحَمد
Minta Mukjizat
Bersungguh-sungguh atau hanya sekedar
mengejek, orang-orang Quraisy sering meminta mukjizat kepada Rasulullah.
"Kalau Tuhanmu bisa menurunkan mukjizat,
kami pasti akan beriman kepadamu!" demikian seru salah seorang dari mereka
kepada Rasulullah.
"Muhammad! Kalau engkau benar benar
Rasulullah, mintalah Tuhan agar menyulap Bukit Shafa dan Marwa menjadi
bukit-bukit emas!" seru yang lain.
"Ya, itu benar! Tetapi kalau Tuhanmu
tidak sanggup membuat bukit emas, cobalah turunkan ayat-ayat Allah itu dalam
sebuah kitab yang diturunkan langsung dari langit! Itu pun sudah akan membuat
kami beriman!"
Rasulullah tidak menanggapi
permintaan-permintaan aneh itu. Melihat Rasulullah yang tetap diam dan tenang,
orang-orang Quraisy jadi semakin kesal. Dari waktu ke waktu, sering di muka
umum dan disaksikan orang banyak, mereka mengajukan permintaan-permintaan lain
yang lebih mustahil.
"Muhammad, kami dengar engkau sering
membicarakan Jibril. Mengapa engkau tidak menampakkan Jibril di hadapan kami
agar kami yakin?"
"Muhammad, kalau Tuhammu memang sehebat
yang engkau katakan, mintalah Ia menghidupkan orangtua-orangtua kami yang sudah
mati!"
"Muhammad, katamu engkau membawa agama
kasih sayang buat seluruh alam! Kalau begitu, mintalah Tuhanmu agar memunculkan
mata air yang lebih sedap dari sumur Zamzam! Bukankah engkau tahu bahwa
penduduk Mekah sangat memerlukan air?"
"Ya, setidaknya mintalah Tuhanmu
melenyapkan bukit-bukit yang mengurung Mekah agar kota ini dapat mudah dicapai
orang dari arah mana pun!"
Jawaban untuk Kaum Quraisy
Allah sendirilah yang menjawab
permintaan-permintaan itu melalui firman-Nya:
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا
ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ
لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا
نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: Aku tidak berkuasa menarik
kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang
dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku
membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan.
Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi
orang-orang yang beriman.
Surah Al-A'raf (7:188)
Melalui ayat ini, Allah menyuruh Rasulullah
mengatakan, "Wahai orang Quraisy, aku hanyalah seorang pemberi peringatan.
Bukankah aku tidak meminta kepadamu hal-hal di luar kemampuan akal? Mengapa
kamu justru memintaku menunjukkan hal-hal yang tidak masuk akal?
"Wahai orang Quraisy, bukankah Al Qur'an
itu sendiri merupakan sebuah mukjizat? Kemudian, mengapa kamu masih meminta
mukjizat yang lain? Apakah jika mukjizat itu benar-benar diturunkan, kamu akan
beriman kepadaku? Bukankah jika mukjizat itu turun, kamu akan mengatakan bahwa
aku hanyalah seorang penyihir yang mengada-ada?
"Wahai orang Quraisy, kalau kamu tidak
mau menyembah Allah dan tetap menyembah berhala, mengapa tidak kamu minta saja
mukjizat-mukjizat tadi kepada para berhala itu? Bukankah kamu tahu bahwa
berhala-berhala itu tidak dapat mendatangkan kebajikan? Bukankah mereka tidak
bergerak, tidak hidup, dan hanya terbuat dari batu dan kayu? Bukankah mereka
tidak dapat membela diri jika ada orang yang datang dan menghancurkannya?
Demikianlah, Rasulullah menjawab dengan
kata-kata yang tidak dapat lagi dibantah kebenarannya. Namun, apakah
orang-orang kafir itu seketika mau menerima Islam? Tidak, mereka bahkan
melakukan hal-hal lain untuk menyingkirkan Rasulullah.
Ammarah bin Walid
Sekali pun tidak memeluk Islam, Abu Thalib
adalah pelindung Rasulullah. Jika ada orang yang membahayakan Rasulullah, Abu
Thalib dan kabilahnya siap membelanya sampai titik darah penghabisan. Tidak ada
musuh Rasulullah yang berani membunuh beliau tanpa menghadapi Abu Thalib dan
kabilahnya. Karena mengetahui kokohnya perlindungan Abu Thalib ini, para pemuka
Quraisy mendatangi orangtua itu di rumahnya.
"Abu Thalib," demikian mereka
mengajak bicara,
"keponakanmu itu sudah memaki
berhala-berhala kita, mencaci agama kita, dan menganggap sesat nenek moyang
kita. Engkau harus menghentikan dia sekarang. Jika tidak, biarlah kami yang
akan menghadapinya. Kalau kamu melindunginya juga, biar kabilah-kabilah
kami yang akan menghadapi kabilahmu."
Abu Thalib menghela napas berat,
"Demi Tuhan Ka'bah, biar seluruh Mekah
menghalangi jalanku, aku akan tetap melindungi kemenakanku itu."
Para pemimpin Quraisy itu saling berpandangan,
lalu pergi tanpa berkata apa-apa. Bagaimanapun, mereka belum sanggup menghadapi
perang saudara yang akan menghancurkan kota Mekah. Mereka memutar akal dan
menemukan muslihat lain.
Para pemimpin Quraisy itu kembali mendatangi
Abu Thalib sambil membawa serta Ammarah bin Walid. Ia adalah pemuda Quraisy
yang gagah perkasa dan paling tampan wajahnya.
"Ambillah dia! Jadikan dia sebagai anak.
Ia jadi milikmu. Namun, serahkanlah keponakanmu yang menyalahi agama kita dan
agama nenek moyang kita, yang memecah belah persatuan kita itu untuk kami
bunuh!"
"Bagaimana, Abu Thalib? Bukankah ini
pertukaran yang adil? Seorang laki-laki ditukar pula dengan seorang
laki-laki!"
Wajah Abu Thalib berubah murka. Dengan mata
menyala, ditatapinya para bangsawan itu satu demi satu.
"Betapa buruknya tawaran kalian kepadaku
ini!" geram Abu Thalib.
"Bayangkan, kalian memberikan anakmu
kepadaku untuk aku beri makan, sedangkan aku harus menyerahkan anakku untuk
kalian bunuh! Demi Tuhan Ka'bah, ini adalah hal yang tidak boleh terjadi buat
selamanya!"
Abu Thalib adalah pemimpin kabilah Bani
Hasyim. Kini Bani Hasyim terpecah dua. Kaum miskinnya membela Abu Thalib,
sedang kaum kayanya membela Abu Lahab.
Diceritakan oleh : Bu Hj Lathifah,Paldaplang,Jogomerto,Baron
Diceritakan kembali oleh : Bapak Ahmad di Majelis Ilmu & Amal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar